Showing posts with label broiler. Show all posts
Showing posts with label broiler. Show all posts

Tuesday, February 11, 2014

Pengaruh Pemberian Daun Ubi Kayu Fermentasi (Manihot utilisima) Terhadap Performans Ayam Broiler



Oleh : Marisya Tenti
 
ABSTRAK
            Daun ubi kayu (Manihot utilisima) merupakan sumber protein nabati yang baik untuk di jadikan pakan ayam broiler, selain kandungan proteinya tinggi pada daun ubi kayu mengandung mineral dan vitamin. Tetapi kelemahanya adalah dalam daun ubi kayu terdapat kandungan anti nutrisi HCN yang tinggi pula. Sehingga untuk mengurangi senyawa HCN dalam daun ubi kayu di lakukan perebusan dan fermentasi. Hasil fermentasi terbaik dengan menggunakan Trichorderma viride sebagai media, ternyata dapat menaikan PK 29,93 %, SK 11,06 %, LK 8,21 %, Ca 0,82 % , P 0,27 % dan ME 3020 kkal/kg serta menurunkan kandungan HCN 36,37 % dengan lama fermentasi 9 hari, sehingga menaikan kandungan protein kasar yang disertai penurunan serat kasar ( Hasil analisa laboratoriun teknologi pakan Fakultas pertanian Unand, 2006).
 
Kata kunci: daun ubi kaya, HCN, broiler

Saturday, December 15, 2012

Pemanfaatan Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) Dan Kunyit (Curcuma domestica Val) Sebagai Feed Additive Herbal Untuk Ayam Broiler




Oleh : Putri Anggraini
Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu
Jalan Raya Kandang Limun, Bengkulu

Abstrack

Ayam broiler yang diberi antibiotik sintetik pada pakannya akan menghasilkan daging yang kurang sehat untuk dikonsumsi oleh manusia. Hal ini disebabkan karena adanya ancaman residu bahan – bahan kimia didalam dagingnya. Temulawak dan kunyit adalah dua jenis tanaman herbal yang memiliki kandungan beberapa senyawa aktif seperti kurkumin dan xanthorrizol. Senyawa – senyawa kimia ini mampu menggantikan fungsi dari antibiotik sintetik didalam tubuh ayam broiler. Seperti meningkatkan produktivitas dan kualitas karkas yang dihasilkan. Dengan kemampuan ini, temulawak dan kunyit sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai feed additive herbal untuk menggantikan antibiotik sintetik yang berbahaya bagi ternak dan manusia. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui khasiat dari temulawak dan kunyit terhadap ayam broiler. Dari beberapa penelitian tersebut dapat diketahui bahwa pemberian temulawak dan kunyit untuk ayam broiler memberikan dampak yang cukup baik. Salah satunya adalah hasil penelitian yang dilaporkan oleh Sufriyanto dan Mohandas (2005) menyatakan bahwa pemberian ekstrak temulawak sebesar 0,5 g per liter air minum dan pemberian ekstrak kunyit sebesar 0,25 g per liter air minum mampu menghasilkan produksi daging yang sama dengan ayam broiler yang diberi vitamin dan antibiotik sintetik.

Kata kunci : ayam broiler, temulawak, kunyit, feed additive, antibiotik sintetik.

Tuesday, July 10, 2012

PENGGUNAAN GEL LIDAH BUAYA (Aloe vera) SEBAGAI PAKAN TAMBAHAN DALAM RAMSUM TERNAK AYAM BROILER


 
Oleh : Erina Nuraini (E1C009044)
Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu

Abstrak
Penggunaan akan pakan tambahan kini sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas performans ayam broiler dan juga kualitas karkas yang baik. Kebutuhan tanaman obat sebagai pakan tambahan sudah sangat umum digunakan pada ransum ternak. Kandungan zat gizi yang diperlukan semakin tinggi menyebabkan kebutuhan bahan pakan semakin meningkat. Feed additif yang dapat digunakan dalam tambahan pakan ternak dapat berupa ekstrak, tepung, gel, dan lainnya. Gel lidah buaya (Aloe vera) dapat dimanfaatkan untuk  pakan ternak, mengandung zatzat yang dapat memacu metabolisme, seperti kelompok antrakuinon, berbagai mineral, vitamin, enzim dan asam amino yang dapat dijadikan imbuhan pakan alami.  Pemberian  gel lidah buaya (Aloe vera)  dengan dosis 0,50 gram per kilogram ransum menampilkan rasio konversi pakan terbaik yaitu 1,78 maka terjadi peningkatan efisiensi penggunaan ransum tersebut. Serta penambahan gel lidah buaya (Aloe vera) sebesar 0,75% dapat menurunkan kolesterol daging dada ayam broiler.
Kata kunci : lidah buaya (Aloe vera), ayam broiler, pakan tambahan.

Thursday, March 15, 2012

PENGARUH PEMBERIAN GAMAL DALAM CAMPURAN PAKAN TERHADAP PRODUKTIVITAS AYAM BROILER DAN AYAM PETELUR



Disusun oleh : SITI QOTIMAH

ABSTRAK

                Penulisan artikel review yang mereferensi pada beberapa penelitian dan beberapa literature ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh level tepung daun gamal terhadap performans broiler. Yang selanjutnya hasilnya dapat digunakan sebagai informasi tentang penggunaan tepung daun gamal pada level tertentu yang efisien dan performa yang dihasilkan lebih baik. Walaupun sangat bermanfaat bagi ternak, tingkat racun dalam Gamal juga sudah dikenal sejak lama. Sehingga daun gamal sebaiknya dilayukan terlebih dahulu sebelum diberikan kepada ternak. Beberapa literatur menyebutkan pelayuan selama 12 – 24 jam. Batas maksimum penggunaan tepung daun gamal dalam ransum ayam broiler 5% dan ayam petelur 2,5%. Pemberian daun Gamal pada ayam berupa tepung daun yang dicampur dengan bahan pakan lainnya. Pemberian tepung daun sebanyak 2,5% sudah cukup untuk memberikan warna kuning yang cerah, pemberian yang lebih tinggi tidak banyak meningkatkan warna kuning telur. Penggunaan level tepung daun gamal relatif baik sampai dengan perlakuan 4,5 % tepung daun gamal.

PEMANFAATAN SUPLEMENTASI AKAR ALANG-ALANG (Imperata cylindrica) DALAM RANSUM PADA AYAM BROILER



Resensi Oleh : Erina Nuraini
Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu
Abstrak
Kebutuhan akan penggunaan tanaman obat sebagai suplemen (feed supplement) sudah sangat umum digunakan pada ransum ternak. Kandungan zat gizi yang diperlukan semakin tinggi menyebabkan kebutuhan bahan pakan semakin meningkat. Feed supplement yang digunakan haruslah aman bagi ternak dan juga diperlukkan untuk dapat meningkatkan kualitas karkas dan performans pada ayam broiler.  Suplementasi pada pakan dapat diberikan dalam bentuk ekstrak ataupun dalam bentuk tepung, seperti yang digunakan pada penelitian ini yaitu akar alang-alang (Imperata cylindrica).
Akar alang-alang (Imperata cylindrica) dapat dimanfaatkan untuk  pakan ternak, memiliki kandungan seperti  asam asetat, asam oksalat, asam malat, dan asam sitrat  yang berperan dalam peningkatan efesiensi metabolisme energi dalam tubuh. Penggunaan suplementasi ekstraks akar alang-alang (Imperata cylindrica) sampai level 4 g/kg pakan dapat meningkatkan kualitas karkas pada ayam broiler, sedangkan pada penggunaan suplementasi tepung akar alang-alang (Imperata cylindrica) yang diberikan pada level 1 % dapat memperbaiki nilai konsumsi ransum dan menekan kelainan pada kaki ayam broiler.
Kata kunci : ayam broiler, akar alang-alang,  feed supplement.

Tuesday, January 3, 2012

Pemanfaatan Ampas Tahu sebagai Pakan Unggas


Gustina
Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu
Jalan Raya Kandang Limun, Bengkulu
Abstrak
            Biaya pakan saat ini sangat mahal dan sudah lumayan susah mendapat pakan yang bagus dengan harga murah. Ampas tahu merupakan limbah dalam bentuk padatan dari bubur kedelai yang diperas dan tidak berguna lagi dalam pembuatan tahu. Oleh karena itu limbah yang sudah tidak berguna sebaiknya diolah menjadi pakan ternak sehingga bisa mendapatkan pakan yang relatif murah dan mempunyai kandungan gizi yang baik untuk produksi dan kesehatan ternak itu sendiri. Kandungan ampas tahu yaitu protein 8,66%; lemak 3,79%; air 51,63% dan abu 1,21%, maka sangat memungkinkan ampas tahu dapat diolah menjadi bahan makanan ternak. Penggunaan ampas tahu yang diberikan dalam ransum ayam broiler sampai level 20%.
Kata kunci : Pakan unggas, Ampas Tahu, Kandungan Ampas Tahu

Tuesday, December 20, 2011

Penggunaan Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L) Dalam Bentuk Tepung Dalam Ransum Terhadap Pertambahan Bobot Badan Ayam Broiler.


Oleh : Novita
Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu
Abstrak
Mengkudu memiliki beberapa senyawa aktif, diantaranya dapat meningkatkan proses penyerapan zat gizi dalam usus. Mengkudu dapat digunakan sebagai pakan tambahan dan  diharapkan dapat meningkatkan tampilan ternak khususnya unggas. Zat-zat nutrisi yang terkandung dalam buah mengkudu terdiri atas protein, lemak, karbohidrat, mineral dan vitamin (Jones, 2000). Mengkudu juga memiliki khasiat obat, merangsang sistem kekebalan tubuh, mengatur fungsi sel dan regenerasi sel jaringan tubuh yang rusak, serta kandungan air buah mengkudu matang sekitar 52%, sisanya berupa komponen-komponen yang terdiri dari enzim, vitamin, mineral, senyawa-senyawa asam (Bangun dan Sarwono,2002). Kandungan zat aktif yang terdapat di dalam buah mengkudu adalah sebagai berikut: Scopoletin, Pektin, Caproic, Caprylic, Arachidonic acid, Emodin, Terpenoid, Asperuloside, Galaktosa, arabinosa dan asam gluronat. Tepung buah mengkudu mengandung protein 16,7%, lemak 2,06%, serat kasar 33,7%, air 8,7%, abu 5,4%, calsium 0,08%, phospor 0,076%, dan energi metabolisme 3183 kkal/kg. Penambahan tepung buah mengkudu di dalam ransum dapat menggantikan fungsi antibiotik, tanpa mengganggu pertumbuhannya. Tepung buah mengkudu (Morinda citrifolia L) sampai level 2% dalam pakan tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan harian, konversi pakan, nilai biologis dan retensi N pada ayam pedaging.
Kata kunci: Tepung Buah Mengkudu, Bobot Badan, Ayam broiler.

Saturday, September 24, 2011

Pengaruh Pemberian Tepung Buah Mengkudu (Morinda citrifolia. L) dalam Ransum Terhadap Performans Ayam Broiler


Oleh: WAHYUTI DWI NINGSIH
ABSTRAK
            Dewasa  ini masyarakat cendrung selektif dalam memilih daging dengan kriteria yang sesuai dengan selera, diantaranya adalah daging dengan kandungan lemak yang rendah, perdagingan yang banyak serta aman bagi kesehatan tubuh. Pembuatan makalah ini bertujuan untuk mengetahui performans ayam broiler yang diberi ransum tepung buah mengkudu. Ayam broiler yang digunakan adalah berupa DOC sebanyak 100 ekor dengan Strain Arbor Accres MB 202 Platinum. Masing-masing terdiri dari 5 perlakuan dengan 4 ulangan dan masing-masing ulangan terdiri dari 5 DOC. Pakan ayam broiler yang diberikan adalah sama kecuali konsentrasi tepung buah mengkudu. P0 sebagai kontrol yaitu pakan tanpa buah mengkudu, P1 mengandung 0,75% tepung buah mengkudu dalam rannsum, P2 mengandung 1,5% tepung buah mengkudu dalam ransum, P3 mengandung 2,25% tepung buah mengkudu dalam ransum, dan P4 menganndung 3% tepung buah mengkudu dalam ransum. Selama penelitian pakan dan minum diberikan secara ad libitum. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan, variabel yang diamati adalah konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum. Analisis data dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung buah mengkudu sampai level 3% dalam ransum ayam broiler tidak berpengaruh terhadap konsumsi ransum, konversi ransum, dan pertambahan bobot badan.
Kata kunci : Ayam broiler, Tepung buah mengkudu, Performans

Pendahuluan
Dalam mengembangkan usaha ternak ayam pedaging, pada umumnya peternak memberikan ransum komersil karena ransum komersil telah memenuhi standar kebutuhan zat–zat makanan yang telah ditetapkan. Walaupun harganya relatif mahal, karena beberapa bahan penyusunnya masih diimpor, tetapi ransum komersil banyak tersedia di pasaran dan mudah didapat. Selain itu, di dalamnya sudah terkandung bahan pakan tambahan (feed additive) seperti tetracycline, procaine, penicilin, teramycin dan tylosin. Pencampuran feed additive ini dimaksudkan untuk meningkatkan daya simpan ransum dan memacu pertumbuhan ternak. Namun penggunaan feed aditive yang terus menerus akan mengakibatkan terdapatnya produk metabolit berupa residu antibiotik seperti tylosin, penicillin, oxytetracyeline dan kanamycin (Rusiana dan Iswarawanti, 2004). Oleh karena itu penggunaan feed additive alami merupakan alternatif untuk mengurangi akumulasi residu feed additive dalam daging (Ahmad dan Elfawati, 2008).

Friday, June 3, 2011

Pemanfaatan Lumpur Sawit Fermentasi dengan Aspergillus niger dalam ransum ayam broiler

Oleh:  Astria Palinka
 
 ABSTRAK
 Ayam broiler merupakan jenis ayam penghasil daging yang unggul karena selain pertumbuhannya cepat dengan masa pemeliharaan yang relatif singkat juga memiliki daging yang empuk dengan kandungan gizi yang tinggi. Dewasa ini permintaan akan daging meningkat karena urbanisasi, perkembangan nutrisi dan penghasilan yang tinggi. Bobot badan ayam broiler sangat tergantung dari bahan pakan yang dikonsumsinya, sehingga dibutuhkan pakan yang berkualitas. Harga pakan yang cukup tinggi membuat peternak kesulitan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini. Salah satu upaya yang dilakukan untuk menekan biaya ransum adalah dengan memanfaatkan sumber bahan pakan non kovensial seperti lumpur  sawit. Namun karena nilai gizi lumpur sawit yang rendah maka dilakukan sentuhan tehnologi seperti fermentasi untuk meningkatkan nilai gizinya. Salah satu inokulum yang baik digunakan untuk fermentasi adalah kapang Aspergillus niger. Lumpur sawit fermentasi (LSF) dengan Aspergillus niger Mampu meningkatkan nilai protein kasar dan menurunkan kandungan serat kasar. selain itu penggunaan LSF dapat digunakan sampai taraf 10% tanpa memberikan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan performans ayam pedaging.
 Kata Kunci : Ayam broiler, lumpur sawit, Aspergillus niger.

Thursday, June 2, 2011

Pengaruh Pemberian Ampas Teh (Camellia sinensis) Fermentasi dengan Aspergillus niger pada Ayam Broiler

Oleh : Wahyuti Dwi Ningsih 

 ABSTRAK
            Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan ampas the fermentasi dengan Aspergillus niger dalam ransom terhadap pertambahan bobot hidup, efisiensi penggunaan protein serta persentase karkas pada ayam broiler. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan ternak percobaan sebanyak 100 ekor anak ayam umur satu hari dan dibagi menjadi lima perlakuan ransom dan empat ulangan. Kelima perlakuan ransom disusun berdasarkan tingkat penggunaan ampas teh produk fermentasi, yaitu  : RO (0.0%), R1 (2,5%), R2 (5,0%), R3 (7,5%) dan R4 (10,0%). Hasil penelitian menunjukka R1 (2,5% ampas teh fermentasi) merupakan ransom yang memberikan pengaruh paling baik terhadap semua parameter yang diukur. Penggunaan tepung ampas teh produk fermentasi sampai taraf 7,5% dapat direspon secara positif oleh ayam broiler, sedangkan peggunaannya pada taraf 10,0% dapat menurunkan pertambhan bobot hidup (PBH), ttapi masih mempunyai nilai efisien protein dan persentase karkas yang setara dengan R0 (ransom control).
 Kata Kunci : Ampas Teh fermentasi, PBH, Efisiensi protein, Karkas, Broiler

Wednesday, June 1, 2011

RESPON AYAM BROILER TERHADAP PEMBERIAN RANSUM YANG MENGANDUNG LUMPUR SAWIT

SYARLI RAMAYANI  (EIC006026)

 ABSTRAK
Sampai saat ini, Indonesia masih mengimpor bahan pakan seperti jagung dan bungkil kedelai untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Jumlah impor ini terus meningkat sesuai dengan peningkatan kebutuhan akan produk peternakan. Dilain pihak, Indonesia memiliki bahan pakan lokal yang belum lazim dimanfaatkan. Salah satu diantaranya adalah lumpur sawit yang merupakan limbah pengolahan minyak sawit. Pada tahun 2001, produksi lumpur sawit (kering) diperkirakan sebanyak 632.570 ton dan jumlah ini akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan produksi minyak sawit. Beberapa peneliti telah melaporkan bahwa lumpur sawit dapat digunakan sebagai bahan pakan untuk ternak sapi, domba, babi dan unggas.
Lumpur sawit mengandung serat kasar yang tinggi dan kecernaan gizi yang rendah sehingga penggunaannya untuk pakan unggas sangat terbatas. Proses fermentasi ternyata dapat meningkatkan kadar protein, asam amino dan energi termetabolis (TME) serta menurunkan kadar serat lumpur sawit. Pengujian biologis menunjukkan bahwa produk fermentasi lumpur sawit dapat digunakan hingga 10% di dalam ransum ayam broiler dan ayam kampung, tetapi di dalam ransum itik sedang tumbuh dapat digunakan sebanyak 15%.
 Kata kunci : Broiler,fermentasi lumpur sawit.

Saturday, May 21, 2011

Effect of Sauropus androgynus extract on the performance of broiler

U. Santoso
Department of Animal Science, Faculty of Agriculture, Bengkulu University
Jalan Raya Kandang Limun Bengkulu

Abstract
The aim of this research was to evaluate effect of Sauropus androgynus leaf extract (SAE) on performance of broiler chicks. Forty 20-day-old male chicks were divided into four treatment groups with five replicate each. Each replicate consisted of two male broilers. Complete randomized design was used in this experiment. One groups was fed basal diet + 0 g SAE, and other three groups were fed basal diet + 9 g/kg diet, basal diet + 13.5 g/kg diet, or basal diet + 18 g/kg diet. Basal diet contained 19% crude protein and ME 3.200 kcal/kg. It was shown that SAE supplementation did not significantly affect body weight and body weight gain, but it significantly reduced feed intake at all levels whereas feed conversion ratio was significantly reduced in broilers fed 18 g SAE. Income over feed cost was highest in broiler chicks received 18 g SAE. In conclusion, 18 g supplementation of SAE to the diet resulted in the best performance and income over feed cost BIPP, 7 (1): 15-21 (2001).
Key words: Sauropus androgynus extract, performance, income over feed cost

Effect of Sauropus androgynus extract on organ weight, toxicity and number of Salmonella sp and Escherichia coli of broiler meat

Urip Santoso
Department of Animal Science, Faculty of Agriculture, Bengkulu University
Jalan Raya Kandang Limun Bengkulu

Abstract
The aim of this research was to evaluate effect of Sauropus androgynus leaf extract (SAE) on organ weight, toxicity and number of Salmonella sp and Escherichia coli of broiler meat. Forty 20-day-old male chicks were divided into four treatment groups with five replicate each. Each replicate consisted of two male broilers. Complete randomized design was used in this experiment. One groups was fed basal diet + 0 g SAE, and other three groups were fed basal diet + 9 g/kg diet, basal diet + 13.5 g/kg diet, or basal diet + 18 g/kg diet. Basal diet contained 19% crude protein and ME 3.200 kcal/kg. It was shown that SAE supplementation did not significantly affect gizzard weight and spleen weight, but it significantly increased liver weight in broilers fed diet supplemented 13.5 g SAE/kg and toxicity (P<0.05), and significantly reduced heart weight in broilers fed diet supplemented 18 g SAE/kg. SAE significantly reduced the number of Salmonella sp and Escherichia coli of meat (P<0.05). In conclusion, 18 g supplementation of SAE to the diet resulted in lower heart weight with no toxicity observed, and resulted in met with lower contamination of pathogenic bacteria BIPP, 7 (2): 162-169 (2001).
Key words: Sauropus androgynus extract, organ weight, toxicity, Salmonella sp., Escherichia coli

Tuesday, April 26, 2011

Reduction of fat accumulation in broiler chickens by Sauropus androgynus (katuk) leaf meal supplementation

U. Santoso and Sartini
Department of Animal Science, Faculty of Agriculture, Bengkulu University
Jl. Raya Kandang Limun, Bengkulu, Indonesia

Abstract: The present study was designed to evaluate the usefulness of Sauropus androgynus leaf (SAL) meal on reducing fat accumulation in broiler chickens. Eighty unsexed broiler chickens were allocated to four treatment groups with five replicates of four chickens each. SAL meal supplementation had no effect on body, leg, back, breast, wing, liver and heart weights, carcass protein, moisture and ash cotnets (P>0.05). Broiler fed diets supplemented with 30 g of SAL meal had lower feed intake with better feed conversion ratio (P<0.05) than did the control chickens. SAL supplementation at all levels significantly reduced fat accumulation in abdomen region, and liver (P<0.01), and in carcass (P<0.05). Higher SAL supplementation resulted in lower fat accumulation in the carcass (r2= 0.94; P<0.01), abdomen (r2=0.99; P<0.01) and liver (r2=0.98; P<0.01). The current study showed that a 30 g supplementation of SAL meal to the broiler diet (30 g SAL meal/kg diet) was effective to improve feed conversion ratio without reducing body weight. SAL meal supplementation to the diet reduced fat accumulation in broiler chickens (Asian-Australasian Journal of Animal Science, 2001, 14 (3): 346-350)
Key words: Sauropus androgynus leaf meal, caracass fat, abdominal fat, broiler

Thursday, April 7, 2011

Menciptakan Broiler yang Seragam

Oleh: Urip Santoso

 Ketidakseragaman berat badan akan meningkatkan biaya produksi sehingga menurunkankan pendapatan peternak. Ada cara praktis untuk mendapatkan broiler yang seragam.

            Tujuan memelihara broiler adalah mendapatkan produktivitas yang tinggi serta menghasilkan berat badan yang dikehendaki pasar. Untuk mencapainya, seorang peternak harus berupaya agar broiler yang dipelihara sebagian besar mempunyai berat badan yang ideal pada umur pasar. Dengan demikian perlu diciptakan broiler yang mempunyai berat badan yang seragam.
            Sebagai contoh, kerugian yang akan dialami oleh peternak jika berat badan broiler sangat bervariasi antara lain adalah produksi broiler setiap kandangnya menjadi berkurang, sementara biaya produksinya tetap. Hal ini tentu saja akan memperkecil keuntungan yang diperolehnya. Bervariasinya berat badan ini akan menghasilkan bervariasinya berat karkas atau daging yang diproduksi. Selain itu, konsumen cukup selektif dalam memilih karkas broiler. Mereka menyukai  broiler/karkas broiler dengan berat tertentu. Oleh karena itu, bervariasinya berat badan akan berakibat tertundanya pemasaran yang berarti meningkatnya biaya produksi, atau lebih celakanya terpaksa dijual dengan murah.
            Dibawah ini diberikan petunjuk praktis cara-cara membuat broiler seragam.
Memelihara betina atau jantan saja
            Secara umum berat badan broiler jantan dan betina berbeda. Oleh karena itu, memelihara broiler secara terpisah sangat dianjurkan untuk menciptakan keseragaman. Namun, hal ini tampaknya sulit dilaksanakan mengingat industri bibit saat ini menjualnya secara mixed.
Membeli DOC yang seragam
            Jika memungkinkan, peternak hendaknya membeli DOC yang berat badannya seragam. Hal ini tentu saja memerlukan kerja sama dengan industri bibit, dimana industri bibit selalu menyediakan bibit yang relatif seragam.

Tuesday, April 5, 2011

The usefullness of Sauropus androgynus leaf extract as feed supplement to produce meat desgner


Urip Santoso, Yosi Fenita and Wiranda G. Piliang
Department of Animal Science, Faculty of Agriculture, Bengkulu University, Indonesia

Summary
            The present study was conducted  to evaluate effect of Sauropus androgunus leaf extract on performance, meat quality and fat accumulation in broilers. The experiment used broiler chickens strain Arbor Acres (Platinum). Experimental diets contained 20% protein and 3.200 kcal/kg and started at 21 days of age. !105 broiler chickens were distributed to seven treatment gropus as follows: 1) control, broilers were fed diet without Sauropus androgynus leaf extract (SAE); 2) broilers were fed diet plus 4.5 g SAE extracted by hot water/kg diet; 3) broilers were fed diet plus 9 g SAE extracted by hot water/kg diet; 4) broilers were fed diet plus 0.9 g SAE extracted by ethanol 95%/kg diet; 5) broilers were fed diet plus 1.8 g SAE extracted by ethanol 95%/kg diet; 6) broilers were fed diet plus 0.9 g SAE extracted by ethanol 70%/kg diet; 7) broilers were fed diet plus 1.8 g SAE extracted by ethanol 70%/kg diet. Experimental results showed that SAE supplementation significantly (P<0.05) increased body weight and body weight gain at 28, 35 and 42 days of age. The results also showed that SAE supplementation increased feed intake at 42 days of age without improvement in feed conversion ratio. The results showed that supplementation of SAE significantly increased carcass weight (P<0.05), meat color (P<0.05) and carcass color (P<0.01) and meat taste (P<0.05) but significantly reduced meat smell (P<0.01). This supplementation significantly rduced fat content of  abdomen (P<0.05). SAE significantly reduced the concentration of total lipid, total cholesterol, LDL-cholesterol, VLDL-cholesterol, LDL-cholesterol, glucose, atherogenic index but significantly increased HDL-cholesterol in serum of broilers. SAE  had no effect on the content of total lipid and cholesterol in thigh meat. SAE significantly increased amino acid content (P<0.05), changed the composition of amino acid, and increased the content of linoleic acid, linolenic acid and stearic acid in meat. In conclusion, supplementation of SAE increased feed intake, body weight, body weight gain but had no effect on feed conversion ratio. SAE reduced fat deposition in abdomen and leg. SAE may potential as drug of atherosclerosis, diabetes mellitus, hypercholesterolemia and hypertriglyceridemia.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...