Showing posts with label Petelur. Show all posts
Showing posts with label Petelur. Show all posts

Thursday, March 15, 2012

PENGARUH PEMBERIAN GAMAL DALAM CAMPURAN PAKAN TERHADAP PRODUKTIVITAS AYAM BROILER DAN AYAM PETELUR



Disusun oleh : SITI QOTIMAH

ABSTRAK

                Penulisan artikel review yang mereferensi pada beberapa penelitian dan beberapa literature ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh level tepung daun gamal terhadap performans broiler. Yang selanjutnya hasilnya dapat digunakan sebagai informasi tentang penggunaan tepung daun gamal pada level tertentu yang efisien dan performa yang dihasilkan lebih baik. Walaupun sangat bermanfaat bagi ternak, tingkat racun dalam Gamal juga sudah dikenal sejak lama. Sehingga daun gamal sebaiknya dilayukan terlebih dahulu sebelum diberikan kepada ternak. Beberapa literatur menyebutkan pelayuan selama 12 – 24 jam. Batas maksimum penggunaan tepung daun gamal dalam ransum ayam broiler 5% dan ayam petelur 2,5%. Pemberian daun Gamal pada ayam berupa tepung daun yang dicampur dengan bahan pakan lainnya. Pemberian tepung daun sebanyak 2,5% sudah cukup untuk memberikan warna kuning yang cerah, pemberian yang lebih tinggi tidak banyak meningkatkan warna kuning telur. Penggunaan level tepung daun gamal relatif baik sampai dengan perlakuan 4,5 % tepung daun gamal.

Tuesday, April 12, 2011

Budidaya Ayam Petelur


 
i
1. SEJARAH SINGKAT
Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk diambil telurnya. Asal mula ayam unggas adalah berasal dari ayam hutan dan itik liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak. Tahun demi tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi secara ketat oleh para pakar. Arah seleksi ditujukan pada produksi yang banyak, karena ayam hutan tadi dapat diambil telur dan dagingnya maka arah dari produksi yang banyak dalam seleksi tadi mulai spesifik. Ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi daging dikenal dengan ayam broiler, sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan ayam petelur. Selain itu, seleksi juga diarahkan pada warna kulit telur hingga kemudian dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat. Persilangan dan seleksi itu dilakukan cukup lama hingga menghasilkan ayam petelur seperti yang ada sekarang ini. Dalam setiap kali persilangan, sifat jelek dibuang dan sifat baik dipertahankan (“terus dimurnikan”). Inilah yang kemudian dikenal dengan ayam petelur unggul.
Menginjak awal tahun 1900-an, ayam liar itu tetap pada tempatnya akrab dengan pola kehidupan masyarakat dipedesaan. Memasuki periode 1940-an, orang mulai mengenal ayam lain selain ayam liar itu. Dari sini, orang mulai membedakan antara ayam orang Belanda (Bangsa Belanda saat itu menjajah Indonesia) dengan ayam liar di Indonesia. Ayam liar ini kemudian dinamakan ayam lokal yang kemudian disebut ayam kampung karena keberadaan ayam itu memang di pedesaan. Sementara ayam orang Belanda disebut dengan ayam luar negeri yang kemudian lebih akrab dengan sebutan ayam negeri (kala itu masih merupakan ayam negeri galur murni). Ayam semacam ini masih bisa dijumpai di tahun 1950-an yang dipelihara oleh beberapa orang penggemar ayam. Hingga akhir periode 1980-an, orang Indonesia tidak banyak mengenal klasifikasi ayam. Ketika itu, sifat ayam dianggap seperti ayam kampung saja, bila telurnya enak dimakan maka dagingnya juga enak dimakan. Namun, pendapat itu ternyata tidak benar, ayam negeri/ayam ras ini ternyata bertelur banyak tetapi tidak enak dagingnya.
Ayam yang pertama masuk dan mulai diternakkan pada periode ini adalah ayam ras petelur white leghorn yang kurus dan umumnya setelah habis masa produktifnya. Antipati orang terhadap daging ayam ras cukup lama hingga menjelang akhir periode 1990-an. Ketika itu mulai merebak peternakan ayam broiler yang memang khusus untuk daging, sementara ayam petelur dwiguna/ayam petelur cokelat mulai menjamur pula. Disinilah masyarakat mulai sadar bahwa ayam ras mempunyai klasifikasi sebagai petelur handal dan pedaging yang enak. Mulai terjadi pula persaingan tajam antara telur dan daging ayam ras dengan telur dan daging ayam kampung. Sementara itu telur ayam ras cokelat mulai diatas angin, sedangkan telur ayam kampung mulai terpuruk pada penggunaan resep makanan tradisional saja. Persaingan inilah menandakan maraknya peternakan ayam petelur.
Ayam kampung memang bertelur dan dagingnya memang bertelur dan dagingnya dapat dimakan, tetapi tidak dapat diklasifikasikan sebagai ayam dwiguna secara komersial-unggul. Penyebabnya, dasar genetis antara ayam kampung dan ayam ras petelur dwiguna ini memang berbeda jauh. Ayam kampung dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa baiknya. Sehingga ayam kampung dapat mengantisipasi perubahan iklim dengan baik dibandingkan ayam ras. Hanya kemampuan genetisnya yang membedakan produksi kedua ayam ini. Walaupun ayam ras itu juga berasal dari ayam liar di Asia dan Afrika.
2. SENTRA PETERNAKAN
Ayam telah dikembangkan sangat pesat di setiapa negara. Sentra peternakan ayam petelur sudah dijumpai di seluruh pelosok Indonesia terutama ada di Pulau Jawa dan Sumatera, tetapi peternakan ayam telah menyebar di Asia dan Afrika serta sebagian Eropa.

Monday, April 11, 2011

Konsumsi Protein Asal Ayam Ras

Oleh: Urip Santoso

            Telah diketahui bahwa protein memegang peranan yang sangat penting bagi kesehatan manusia. Protein antara lain berperan penting dalam perkembangan sel otak, memelihara dan mengganti sel yang rusak dll. peranan ini tidak tergantikan oleh zat nutrisi lainnya. Oleh sebab itu, protein harus ada dalam makanan manusia.

            Kebutuhan protein bagi manusia berbeda-beda tergantung kepada umur, jenis aktivitas dll. menurut Winarno et al (1980) sebaiknya 25% dari kebutuhan protein dipenuhi dari hewan. Misalnya bila kita membutuhkan 51 gram protein setiap harinya (kebutuhan orang dewasa), maka protein hewaninya adalah 12,75 gram per hari denganprotein nabatinya sebesar 38,25 gram. Kebutuhan protein dari hewani ini dapat dipenuhi dari ikan atau produk air lainnya dan dari ternak. Jika target minimal konsumsi protein asal ternak sebanyak 5 gram, maka sisanya dapat dipenuhi dari ikan sebesar 7,75 gram. Ikan  selain sebagai sumber protein juga kaya akan asam lemak omega 3 yang mempunyai peranan penting bagi perkembangan sel otak, retina mata dll. disinyalir asam lemak ini dapat meningkatkan perkembangan kecerdasan anak-anak.protein asal hewan sangat penting bagi kita karena komposisi asam aminonya lebih seimbang, sumber mineral penting, dan sumber vitamin B12 yang tidak ada dalam produk nabati, dan yang penting lebih lezat. Variabilitas konsumsi sumber protein ini sangat penting untuk memberikan pengaruh suplementari yang positif. Hal ini dapat melengkapi kekurangan yang ada pada satu jenis sumber protein. Selain karena dapat menyeimbangkan asam amino yang dikonsumsi, maka dengan variabilitas tersebut, akan diperoleh keseimbangan zat gizi lainnya, mengingat sumber protein yang dikonsumsi bukanlah protein murni.

Protein asal Ayam Ras

            Kebutuhan protein asal ternak bagi masyarakat Indonesia ditargetkan sebesar 5 gram/kapita/hari yang terdiri dari daging 22 gram, telur 6 gram dan susu 6 gram per kapita per hari. Variabilitas konsumsi protein asal ternak ini perlu dilakukan, selain dapat memberikan pengaruh suplementer, untuk menghindari kebosanan, dan juga dapat menciptakan variabilitas lapangan pekerjaan. Namun, tentunya jumlah tersebut bukan merupakan harga mati. Kita bisa saja membeli sumber protein hewani yang sesuai dengan kemampuan ekonomi ini. Dari semua produk ternak, maka daging asal ayam atau unggas lainnya dan telur merupakan sumber protein yang relative lebih murah. Oleh karena itu sangatlah wajar jika konsumsi produk asal ayam meningkat  cukup tajam (Tabel I).
            Dari table I terlihat bahwa konsumsi telur meningkat dari 1,8 kg/kapita/tahun pada tahun 1985 menjadi 3,1 kg pada tahun 1996 atau naik sebesar 72%. Konsumsi daging broiler juga meningkat dari 2,0 kg pada tahun 1985 menjadi 4,9 kg atau naik sebesar 145%. Dapat dilihat bahwa konsumsi daging broiler meningkat lebih pesat daripada telur. Padahal harga telur relatif lebih murah daripada daging broiler. Prilaku konsumen ini kurang diketahui sebabnya. Ada dugaan bahwa lebih rendahnya konsumsi telur berkaitan dengan kandungan kolensterol yang tinggi pada telur. Diketahui bahwa kolesterol dapat meningkatkan kolesterol darah dan merupakan salah satu penyebab penyakit jantung koroner. Meskipun demikian, ada ahli yang membuktikan bahwa mengkonsumsi telur dalam jumlah yang wajar tidak akan menaikkan kolesterol darah.
Konsumsi daging broiler sebesar 4,9 kg ini kira-kira sudah mencapai 60,5% dari target konsumsi daging sebesar 8,1 kg. Ini menunjukkan bahwa daging broiler telah dipilih oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Jumlah konsumsi telur sebesar 3,1 kg per kapita per tahun pada tahun 1996 ini telah melebihi target minimal konsumsi telur. Mengingat telur juga merupakan sumber protein asal ternak yang murah, maka kemungkinan akan terjadi peningkatan konsumsi di masa yang akan datang. Oleh sebab itu komposisi konsumsi protein asal ternak telah diubah, dimana konsumsi telur ditargetkan menjadi 4 kg/kapita/tahun. Sementara itu, diperkirakan konsumsi daging asal ruminansia (kambing, sapi, kerbau, domba) kurang meningkat pesat dikarenakan harganya yang mahal, maka diharapkan sumber protein asal daging dapat dipenuhi dari daging ayam yang harganya lebih murah.
            Jika kita hitung konsumsi asal ayam ini secara kasar, maka ditemukan angka sebesar 3,7 gram/kapita/hari. Perlu diingat bahwa konsumsi ini belum termasuk konsumsi protein asal unggas lain seperti ayam buras, itik, angsa, entok, puyuh dll. konsumsi protein asal unggas lain ini diduga cukup banyak jumlahnya.

Saturday, April 2, 2011

Beternak Ayam Kampung Petelur

Quantcast  Oleh Suharyanto
Pengantar
Ayam kampung boleh dikatakan sebagai ayam asli Indonesia yang sudah dipelihara sejak jaman dahulu. Ayam ini memiliki potensi yang sudah terbukti, mampu member kontribusi bagi pemenuhan kebutuhan keluarga, setidaknya sebagai penghasil daging dan telur. Kebanyakan ayam kampung bersifat dwifungsi, yaitu sebagai penghasil daging dan penghasil telur, dan biasanya tergantung bagaimana tujuan peternak memelihara ayam kampung. Ayam kampung merupakan hasil domestikasi ayam hutan merah selama berabad-abad. Ayam kampung yang ada di Indonesia morfologinya (bentuk-bentuk fisik) sangat beragam, sulit sekali dibedakan dan dikelompokkan ke dalam klasifikasi tertentu. Karena tidak memiliki cirri yang khusus dan tidak adanya ketentuan tujuan dan arah usaha peternakannya, ayam kampung dinamakan juga sebagai ayam buras (bukan ras), untuk membedakan dengan ayam yang sudah jelas tujuan dan arah usahanya, misalnya khusus petelur atau pedaging) yang disebut dengan ayam ras. Produktivitas ayam kampung yang dipelihara secara ala kadarnya memang masih rendah. Produksi telur per tahunnya sekitar 60 butir dan berat badan ayam jantan dewasa tidak melebihi dari 2 kg. Apa lagi ayam betina dan ayam-ayam yang sudah tua maka berat badannya jauh lebih rendah lagi. Namun demikian, bila ayam kampung dipelihara secara benar, tepat dan intensif maka produktivitasnya dapat ditingkatkan, khususnya bila diarahkan untuk petelur.
Menentukan Tujuan
Beternak ayam kampung perlu dipersiapkan beberapa hal, diantaranya adalah penetapan tujuan beternak, apakah sebagai penghasil daging atau penghasil telur. Penentuan tujuan ini penting karena akan menentukan cara memelihara dan manajemennya, termasuk dalam pemilihan induk untuk bibitnya. Selain menentukan tujuan komoditas yang akan diproduksi, penentuan maksud beternak juga penting. Setidaknya ada 3 maksud dan tujuan orang beternak ayam kampung, yaitu beternak hanya sekedar mengisi waktu luang dan beternak sebagai sumber penghasilahan keluarga. Bila beternak hanya untuk mengisi waktu luang, maka kepuasan yang dicapai adalah kepuasan mengisi waktu dengan kesibukan sehari-hari mengurus ternak. Kepuasan tersebut memberikan nilai tersendiri, terutama bagi yang sudah pension. Selain kepuasan tersebut, beternak juga menambah hasil berupa telur atau anak ayam atau daging walaupun ini bukanlah target utama dari beternak. Maksud dan tujuan yang kedua adalah beternak sebagai usaha penghasil pendapatan. Bila tujuan ini sudah ditetapkan maka usaha peternakan ayam kampung yang dijalankan akan menerapkan kaidah-kaidah usaha. Keuntungan berupa ekonomi merupakan target utama yang harus dihasilkan. Kepuasan peternak akan ditentukan dengan seberapa banyak nilai ekonomi yang dihasilkan dari peternakan yang dijalankan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...