Saturday, June 4, 2011

PEMANFAAT LUMPUR SAWIT SEBAGAI PAKAN UNGGAS


Oleh : Supratman Waras S


 ABSTRAK
Lumpur sawit (LS) merupakan salah satu produk samping pengolahan minyak kelapa sawit Dalam pemanfaatan bahan pakan yang belum umum digunakan, harus memperhatikan beberapa hal, seperti: jumlah ketersediaan, kandungan zat gizi, kemungkinan adanya faktor pembatas seperti zat racun atau zat-zat anti-nutrisi serta perlu tidaknya bahan tersebut diolah sebelum dapat digunkan sebagai pakan ternak, yaitu dengan tekhnologi fermentasi ini adalah membiakan mikroorganisme terpilih pada media lumpur sawitdengan kondisi tertentu sehingga mikroorganisme tersebut dapat berkembang dan mereubah komposisi kimia media tersebut menjadi bernilai gizi lebih baik. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui pemanfaatan produk lumpur sawit terfermentasi sebagai pakan unggas. pemberian produk fermentasi lumpur sawit dalam ransum itik sedang tumbuh hingga 15% tidak menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan maupun persentase karkas yang dihasilkan berbeda halnya dengan ayam kampung dan ayam broiler hanya dapat digunakan sebanyak 10 %, Pemberian produk fermentasi yang lebih banyak (15%) sudah menyebabkan penurunan pertumbuhan, diduga karena banyaknya asam nukleat (RNA) yang dikonsumsi yang berasal dari sel mikroorgasnisme di dalam produk terfermentasi.
Kata Kunci, Lumpur sawit, Fermentasi, pakan unggas

Pendahuluan

 Lumpur sawit (LS) merupakan salah satu produk samping pengolahan minyak kelapa sawit. Produksi lumpur sawit akan terus meningkat dengan meningkatnya produksi minyak sawit Indonesia (Bintang et al., 2003) Dalam pemanfaatan bahan pakan yang belum umum digunakan, harus memperhatikan beberapa hal, seperti: jumlah ketersediaan, kandungan zat gizi, kemungkinan adanya faktor pembatas seperti zat racun atau zat-zat anti-nutrisi serta perlu tidaknya bahan tersebut diolah sebelum dapat digunkan sebagai pakan ternak (Sinurat disitasi oleh sinurat, 2003).  LMS merupakan sumber daya yang cukup potensial sebagai pakan ternak dan tersedia dalam jumlah besar dan relatif tersedia sepanjang waktu. Sinurat et al. (2004) menyatakan bahwa kandungan protein kasar  LMS kering sekitar 9,6 % – 14, 52%  hampir sama dengan kandungan Protein kasar dedak padi, yaitu 13,3%, dan kandungan lemak  kasarnya 10,4%
            Fenita et al (2007) telah mencoba memberikan ampas tahu fermentasi (ASF) yang difermentasi dengan Aspergilus niger sampai 10 % dalam ransum ayam petelur memberikan produksi terbaik, berat telur tertinggi dan konversi ransum terendah dibanding dengan perlakuan kontrol tanpa ASF. ASF dapat menurunkan kolesterol  telur hanya sebesar 7.8 % dari 135.82 mg % menjadi 106.28 mg%,
            Jadi, untuk menekan biaya produksi perlu upaya penggunaan bahan lokal seperti lumpur sawit.

Peningkatan Nilai Gizi Lumpur Sawit Melalui Fermentasi

Pada prinsipnya tekhnologi fermentasi ini adalah membiakan mikroorganisme terpilih pada media lumpur sawitdengan kondisi tertentu sehingga mikroorganisme tersebut dapat berkembang dan mereubah komposisi kimia media tersebut menjadi bernilai gizi lebih baik.
 Pada beberapa penelitian yang sudah dilakukan di Balai Penelitian Ternak, fermentasi dilakukan dengan menggunakan Aspergillus niger karena lebih mudah tumbuh pada media lumpur sawit dan nilai gizi hasil fermentasi dianggap cukup baik.
Menurut RAPPER dan FENNEL (1977) dalam Sinurat(2003), Aspergillus niger sudah umum digunakan dalam proses fermentasin secara komersil dan dapat menghasilkan enzim-enzimamilolitik, proteolitik dan lipolitik. Aspergillus nigerjuga digunakan untuk menghasilkan enzim pytasesecara komersil (HOPPE, 1992). PRASERTSAM et al. (1999) dalam Sinurat(2003),  melaporkan bahwa fermentasi lumpur sawitdengan A. niger menghasilkan enzim xylanase dansellulase. Demikian juga SINURAT et al. (1998),PURWADARIA et al. (1999) dan PASARIBU et al. (2001) dalam Sinurat(2003), mengamati bahwa produk fermentasi lumpur sawitdengan menggunakan Aspergillus niger mengandungenzim mananase dan selulase. Besarnya aktivitas enzimpemecah serat ini dapat ditingkatkan bila menggunakan A. niger yang sudah mengalami mutasi (PURWADARIAet al., 1998) dalam Sinurat(2003),. Enzim yang dihasilkan selama prosesfermentasi ini diharapkan dapat memecah serat yang cukup tinggi di dalam lumpur sawit menjadi molekul karbohidrat yang lebih sederhana, sehingga meningkatkan jumlah energi yang dapat dimetabolisme oleh ternak.

Penggunaan Produk Fermentasi Lumpur Sawit Dalam Ransum Unggas

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui pemanfaatan produk lumpur sawit terfermentasi sebagai pakan unggas. Penelitian diMalaysia (YEONG dan AZIZAH, 1987) dalam Sinurat(2003), menunjukkan WARTAZOA Vol. 13 No.2 Th. 2003 45 bahwa lumpur sawit yang sudah difermentasi secara anaerobic thermo-acidophilic dapat digunakan di dalam ransum ayam pedaging hingga 15%. Produk fermentasi tersebut mengandung protein kasar 16,8% dan serat kasar 21,5%.
 Produk fermentasi yang dilakukan di Balai Penelitian Ternak, dengan menggunakan A. Niger sebagai inokulan hanya dapat digunakan sekitar 10% di dalam ransum ayam broiler (SINURAT et al., 2000) dalam Sinurat(2003),  maupun ransum ayam kampung sedang tumbuh (SINURAT et al., 2001c) dalam Sinurat(2003),. Pemberian produk fermentasi yang lebih banyak (15%) sudah menyebabkan penurunan pertumbuhan, diduga karena banyaknya asam nukleat (RNA) yang dikonsumsi yang berasal dari sel mikroorgasnisme di dalam produk terfermentasi (SINURAT et al., 2000) dalam Sinurat(2003),  hal ini dapat dilihat dari tabel berikut
Tabel :   Pengaruh pemberian produk fermentasi lumpur sawit terhadap pemampilan ayam broiler 1-42 hari
Parameter Kadar produk fermentasi dalam ransum
0 5 10 15
Konsumsi pakan (g) 3252 3070 3242 3091
Konversi pakan (g/g) 2.22 2.20 2.21 2.27
Mortalitas (%) 6.7 3.3 6.7 0
Karkas (%) 66.9 65.5 63.3 65.5
Lemak abdomen (%) 1.79 2.18 1.65 1.77
Bobot hati (%) 2.16 2.00 2.13 2.07
Sumber Sinurat et, al (2000) dalam Sinurat(2003)
 Berbeda halnya dengan ayam, pemberian produk fermentasi lumpur sawit dalam ransum itik sedang tumbuh hingga 15% tidak menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan maupun persentase karkas yang dihasilkan, ini disebabkan itik dapat mencerna serat kasar lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan ayam broiler dalam mencerna serat kasar,  seperti terlihat pada tabel berikut :
Tabel : Pengaruh pemberian produk fermentasi lumpur sawit terhadap penampilan itik pejantan 1-8 minngu
Parameter Kadar produk fermentasi dalam ransum
0 5 10 15
Konsumsi pakan (g) 5071 5124 5093 4975
Pertambahan Bobot Badan (g) 1065 1055 1022 1033
Konversi pakan (g/g) 4.78 4.86 4.99 4.82
Karkas (%) 68.9 70.9 72.4 69.0
Lemak abdomen (%) 1.00 0.89 0.37 0.26
Bobot hati (%) 2.63 2.61 3.43 3.03
Sumber Sinurat et, al (2000 1b) dalam Sinurat(2003)
            Pemberian pada level yang lebih tinggi (>15%) belum diketahui akibatnya karena tidak dilakukan dalam penelitian tersebut. Cara pemberian produk fermentasi lumpur sawit di dalam ransum unggas perlu diperhatikan. Pemberian produk fermentasi dalam bentuk kering menghasilkan performans ayam broiler (SINURAT et al., 2001a) Sumber Sinurat et, al (2000) dalam Sinurat(2003), maupun ayam kampung(SINURAT et al., 2001b) dalam Sinurat(2003), lebih baik dibandingkan dengan bila diberikan dalam bentuk basah. Pencampuran produk fermentasi dalam bentuk basah akan menimbulkan gumpalan-gumpalan sehingga tidak tercampur secara homogen dengan bahan pakan lainnya.

Kendala Pemanfaatan Produk Fermentasi Lumpur Sawit

Teknik fermentasi dapat dilakukan untuk meningkatkan nilai gizi lumpur sawit sehingga dapat digunakan untuk bahan pakan unggas, akan tetapi teknik ini perlu dikaji secara ekonomis sebelum diterapkan secara komersil. Beberapa tahapan proses yang mungkin membuat biaya proses fermentasi menjadi tinggi adalah proses pengeringan karena kandungan air lumpur sawit yang cukup tinggi. Disamping itu, proses fermentasi yang dikembangkan pada prinsipnya adalah untuk menumbuhkan kapang pada media lumpur sawit.
Untuk itu, dilakukan usaha meminimalkan persaingan dengan mikroorganisme yang tidak diharapkan melalui pengukusan atau sterilisasi. Proses ini juga mungkin akan menyebabkan biaya tinggi. Teknik-teknik yang mungkin dapat dilakukan untuk meminimalkan biaya dilakukan misalnya dengan memanfaatkan sumber energi yang tersedia di pabrik sawit. Meskipun proses fermentasi, dapat meningkatkan kandungan gizi dan menurunkan kadar serat lumpur sawit, masih ada faktor pembatas dalam pemanfaatannya. Seperti umumnya protein sel tunggal, protein produk fermentasi didominasi oleh RNA (ribonucleic acids). RNA dalam bahan pakan terfermentasi mungkin menjadi faktor pembatas, karena dapat menyebabkan gangguan metabolisme dalam tubuh ternak

Kesimpulan

Tekhnologi fermentasi dapat diaplikasikan pada penggunaan lumpur sawit karena dapat merubah komposisi kimia lumpur sawit menjadi bernilai gizi lebih baik. Fermentasi dilakukan dengan menggunakan Aspergillus niger karena lebih mudah tumbuh pada media lumpur sawit dan nilai gizi hasil fermentasi dianggap cukup baik.
Lumpur sawit yang sudah difermentasi secara anaerobic thermo-acidophilic dapat digunakan di dalam ransum ayam pedaging hingga 15%. Produk fermentasi tersebut mengandung protein kasar 16,8% dan serat kasar 21,5%. Namun ada penelitian lain yang menggunakan A. Niger sebagai inokulan hanya dapat digunakan sekitar 10% di dalam ransum ayam broiler. Pemberian produk fermentasi lumpur sawit dalam ransum itik sedangtumbuh hingga 15% tidak menyebabkan gangguanterhadap pertumbuhan maupun persentase karkas yang dihasilkan
Teknik fermentasi perlu dikaji secara ekonomis sebelum diterapkan secara komersil. Beberapa tahapan proses yang mungkin membuat biaya proses fermentasi menjadi tinggi adalah proses pengeringan karena kandungan air lumpur sawit yang cukup tinggi juga pengukusan atau sterilisasi dari lumpur sawit tersebut serta masih ada faktor pembatas dalam pemanfaatannya (RNA)

Daftar Pustaka

Bintang, I.A.K, A.P. Sinurat, dan T.Purwadaria, 2003. Respon Broiler terhadap Pemberian Ransum yang Mengandung Lumpur Sawit Fermentasi pada Berbagai Lama Penyimpanan. JTIV8(2):71-75
Fenita, Y.D. Kaharuddin, H. Prakoso.2007. Pemanfaatan Ampas Sagu Fermentasi (Metrilon Sp) dalam Ransum Berbasisi Minyak Ikan Lemuru (sardinella longiceps) terhadap Kualitas Telur Ayam Petelur. Laporan Penelitian PHK A2 Jurusan Peternakan UNIB.
http://bioindustri.blogspot.com/2008/05/pemanfaatan-produk-fermentasi lumpur.html http://jajo66.files.wordpress.com/2008/11/02potensi.pdf
http://library.usu.ac.id/download/fp/ternak-edhy.pdf
http://nazharbilly.blogspot.com/2009_06_01_archive.html
Nuraini, Sabrina & S.A. Latif 2008. Peforma Ayam dan Kualitas Telur yang Menggunakan Ransum Mengandung Onggok Fermentasi dengan Neurospora Crassa. Media Peternakan. Universitas Andalas: 195-201
Sinurat, A.P 2003. Pemanfaatan Lumpur Sawit untuk Bahan Pakan Unggas. Wartoza. Buletin Ilmu Peternakan Indonesia. Vol 13(2)39-47.

8 comments:

DIAH KASMIRAH said...

Ass...Ini Diah Kasmiarah (E1C009003)Mahasiswa peternakan Unib.Disini sedikit yang ingin saya komentari, masalah pemanfaatan Lumpur sawit sebagai pakan unggas. Melihat kondisi ekonomi yang cukup tinggi mengenai harga pakan ternak khususnya uggas, cukup menarik untuk membahas dan mencoba mempelajari pemanfaatan limbah sebagai bahan pakan ternak.Sudah banyak penelitian yang dilakukan dan uji kualitas terhadap protein yang ada pada lumpur sawit, tetapi mengapa bahan pakan ini masih sedikit dan hampir jarang ditemukan dipasaran untuk diperjual belikan kepada para peternak???
Tolong Dijawab Pak!!
Terima Kasih....

LIVESTOCK said...

Diah, meskipun sudah banyak penelitian tentang lumpur sawit namun tidaklah sederhana ketika lumpur sawit hendak dijadikan bahan pakan komersial. 1) harus dilakukan uji pada skala komersial; 2) ketersediaan bahan baku yang memadai dan; 3) kualitas yang konstan sepanjang tahun.

Ria Puspita Sari E1C009008 said...

sependapat dengan bapak bahwa untuk menjadikan limbah sawit sebagai pakan komersial dibutuhkan waktu terutama dalam proses menjadikan lumpur sawit dari yang basah sampai menjadi Lumpur sawit fermentasi yang memiliki kandungan PK mencapai 20-23 % dan dengan berbagai uji lab terhadap kandungan nutrisi yang lainnya. namun tidak menutup kemungkinan untuk menyediakan LSF dalam jumlah banyak dan dipasrkan kepada para peternak dikarenakan tingginya jumlah limbah yang ada terutama di bengkulu dengan harga yang relatif murah dan berkepanjangan. selain itu dengan tingginya kandungan B-karoten pada LSF dapat meningkatkan kecerahan yolk telur lebih baik jika dibandingkan dengan hanya mengandalakan B-Karoten dari jagung saja.namun memang yang menjadi kendala adalah kurangnya inovasi masyrakat untuk memanfaatkan dan mengeksplorasi lebih lanjut karena hal ini merupakan peluang yang sangat baik di dalam usaha pakan ternak. tapi mungkin sosialisasi ke masyarakatnya yang masih kurang sehingga masih belum diketahui secara luas..

Rina Simanjuntak95@yahoo.com said...

Rina simanjuntak
Disini yang saya tanyakan yang digunakan sebagai pakan apakah limbah dari proses pembuatan minyak kelapa sawit atau dari pelepahnya?? Lumpur sawit ini apakah dapat diberikan pada ternak Ruminansia dan berapa level yang baik untuk ternak tersebut??

Dewi Galingging said...

pemanfaatan lumpur sawit sebagai pakan unggas merupakan sebuah pengetahuan baru bagi masyarakat luas. akan tetapi perlu diperhatikan beberapa hal mengenai pengolahan dan pemakaiannya pada ternak agar tidak terjadi penyakit yang merugikan pada ternak.

Renus Panjaitan said...

Renus Panjaitan,
Beberapa tahapan proses yang mungkin membuat biaya proses fermentasi menjadi tinggi adalah proses pengeringan karena kandungan air lumpur sawit yang cukup tinggi.(SINURAT et al. 2001b dan 2001c).

Adakah Kendala lainnya dalam Pemanfaatan Produk Fermentasi Lumpur Sawit Pak??
Tolong Dijawab Pak..
Terima Kasih..

Anonymous said...

bagaimana cara mengatasi kandungan serat yang tinggi pada lumpur sawit ini pak jika akan digunakan sebagai pakan??
tks

Anonymous said...

LISNAWATI ANGGRAINI
E1C0C010039
Pak bagaimana mengatasi kadar serat tinggi pada lumpur sawit jika akan di gunakan sebagai pakan, tks

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...