Tuesday, June 21, 2011

The Integration of Oil Palam Plantation for Beef Cattle Development to Improve Meat Production

SISTEM INTEGRASI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT SEBAGAI PUSAT PENGEMBANGAN TERNAK SAPI POTONG DALAM RANGKA MENCAPAI SWASEMBADA DAGING

Oleh : MISNADI

The demand of protein from animal tend to increase coincide with the population growth, economic development, nutritional consciousness, and life style. Beef is one of the important source of protein in the Indonesian diet. At present there is a gap between domestic demand of protein and supply of livestock, to solve the problem Indonesia government has been decided to import either livestock or frozen meat. To minimize the gap , some invention should be done. Conversion of agricultural land to residential areas causing limitation of natural feed resources for livestock. Diminishing availability of agricultural land due to converted to residential areas could be the main couse of decreasing total production and population of livestock in Indonesia. In the year of 2020, consumtion of protein is expected to increase about 2-3 times more than the average current consumption of less than 2 kg/capita/year.The high demand for protein from meat is an opportunity for business development of local beef cattle therefore, efforts to increase livestock productivity needs to be done.
There is substantial potential for improved land use and farmer income through the integration between crops and animals. Integrated crop-livestock system especially estate crops such as Oil palm plantation is a potential alternative to suport the development of livestock agribusiness as well as estate crop agribusiness in Indonesia. The pattern of integration is very possible to be developed extensively in the available forage, and waste-product that can be used as cattle feed. With these efforts are expected that the problem of forage limitations can be overcome by utilizing agricultural waste, or fodder crop as a pasture.
Integration between crops commodities and livestocks showed significant added value to farmer income. Integration between oil palm plantations and beef cattle have a huge potential to increase beef population through the use of its by product and fodder for fed. Maintenance of beef cattle in the area of oil palm plantations is done by entering into a plantation area of livestock, livestock thereby able to consume forage around the area between oil palm plantation. Some of the benefits of livestock integration include savings in weeding cost, reduction of chemical fertilizers and income from the sale of livestock. In addition cattle also can be utilized as draf animal power carrying fresh fruit bunch with out any effect on reproduction performance. Some researchs showed that the average daily gain of cattle rearing under oil palm plantation with out supplementation about 0.6 kg/day.  
The integration between oil palm plantation and cattle has known as management enviromentaly friendly because oil palm waste product that become a problem for the environment because the waste that can pollute the environment, can be used as main source of feed cattle. palm oil mill wastes that become a problem for the environment because the waste that can pollute the environment, can be resolved so that environmental pollution will be reduced. Oil palm waste product such as solid, sludge, palm kernel cakel (PKC) ,oil palm fronds (OPF), palm press fibre (PPF) and POME potential as beef cattle feed. PKC is widely used as the main. ingredient in rations for feedlot. Feedlot cattle e are normally fed up to 80% PKC with live weight gain (LWG) of 0.6-0.8 kg day-1 and 1- 1.2 kg day-1 crossbred cattle respectively. PKC at almost 100% has been fed to feedlot cattle with no negative effect provided that the supply of Ca and vitamins (inparticular, A, D and E) is sufficient to meet their requirements.
Cattle palm oil intergration can provide great benefits for livestock and crops, the benefits certainly derived from these two commodities. Cattle can be used as a means of transportation is the result of oil and cattle can certainly also for sale directly after the population increases. While the palm, the advantage is certainly derived from the fruit production and transportation cost savings achieved and fertilizer so it is expected to be able to increase farmers' income, increase the population so that self-sufficiency in beef cattle can be achieved, the benefits can be obtained from the sale of cattle and crops, but it gains unnoticed by the ranchers who are improving the quality of soil due to manure application. With increasing population, these cows are expected to be able to contribute in providing the domestic supply of meat so that imported beef can be resolved. From the above description can be concluded that with the integration of cattle with oil palm plantations  have a huge potential to increase animal population througt the use of its by products for feed, Therefore, integration between cattle and oil plam plantation are expected to increase farmers' income, increasing population, so self-sufficient in beef cattle can be achieved. Hence the development of cattle and oil palm plantation to be followed by realistic in large commercial; scale must be supported by government policy.

RINGKASAN
Permintaan protein hewani cenderung meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk , perkembangan ekonomi, kesadaran akan kebutuhan gizi, serta perbaikan tingkat pendidikan. Sapi potong merupakan penyumbang daging terbesar dari kelompok ruminansia terhadap produksi daging nasional sehingga usaha ternak ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai usaha yang menguntungkan. Berkurangnya lahan mengakibatkan ketersediaan sumber pakan untuk ternak berkurang. Lahan pertanian yang makin berkurang akibat beralih fungsi menjadi pemukiman, menyebabkan petani-peternak harus mempunyai alternatif usaha untuk mencapai pendapatan, antara lain dengan mengatur pola tanam secara bergantian maupun campuran. Alternatif lain adalah mencapai usaha ternak sapi melalui integrasi sapi-tanaman pangan atau tanaman perkebunan.
Pola integrasi sangat memungkinkan untuk dikembangkan secara luas karena tersedia hijauan, hasil samping dan limbah yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Dengan upaya tersebut diharapkan keterbatasan hijauan pakan dapat diatasi dengan memanfaatkan limbah pertanian atau perkebunan, sehingga produktivitas tanaman dan ternak menjadi lebih baik. Sistem integrasi (Penggabungan) antara dua komoditi pertanian selama ini diyakini mampu memberi untung berlipat. Begitu juga dengan integrasi antara tanaman kelapa sawit dengan ternak sapi telah direalisasikan di beberapa daerah dan terbukti mampu mengangkat kesejahteraan petani.
Di sisi lain, permintaan daging sapi yang tinggi merupakan peluang bagi usaha pengembangan sapi potong lokal sehingga upaya untuk mencapai produktivitasnya perlu terus dilakukan. Konsumsi daging sapi penduduk Indonesia tahun 2020 diperkirakan akan meningkat sekitar 2-3 kali lipat dari rata-rata konsumsi saat ini kurang dari 2 kg/kapita/tahun. Populasi sapi potong yang ada sekarang di Indonesia menurut data statistik Ditjen Peternakan sekitar 10,5 juta ekor.
Pemeliharaan ternak sapi potong di areal perkebunan kelapa sawit dilakukan dengan cara memasukkan ternak ke dalam areal perkebunan, dengan demikian diharapkan ternak mampu mengkonsumsi hijauan yang ada disekitar kelapa sawit. Selain itu ternak juga diharapkan mampu memanfaatkan limbah yang dihasilkan oleh pabrik pengolahan kelapa sawit. Jumlah ternak disesuaikan dengan daya tampung lahan sehingga tidak menimbulkan efek negatif bagi perkebunan kelapa sawit.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah perkebunan sawit dan ikutannya seperti pelepah, solid, bungkil inti sawit, minyak sawit sangat potensial sebagai pakan ternak sapi potong. PKC telah secara umum dipergunakan untuk pengembangan ternak sapi feedlot terutama di Malaysia. Bahkan penggunaan PKC sampai dengan l00 % dengan suplementasi Ca dan vitamin C tidak menimbulkan efek samping terhadap ternak sapi itu sendiri. Dengan demikian limbah pabrik kelapa sawit yang selama ini menjadi masalah bagi lingkungan hidup karena menjadi limbah yang dapat mencemari lingkungan, dapat teratasi sehingga pencemaran lingkungan menjadi berkurang. Integrasi sapi-tanaman dapat memberi manfaat yang besar bagi ternak dan tanaman, keuntungan yang didapat dipastikan berasal dari dua komoditi tersebut. Sapi bisa digunakan sebagai alat transportasi hasil sawit dan sapi ini tentunya bisa juga untuk dijual langsung setelah populasinya bertambah. Sedangkan dari sawit, keuntungannya sudah pasti berasal dari produksi buah dan tercapai penghematan biaya transportasi dan pupuk sehingga diharapkan dapat mampu mencapai pendapatan petani, mencapai populasi ternak sapi sehingga swasembada daging dapat tercapai, keuntungan dapat diperoleh dari hasil penjualan sapi dan hasil tanaman, selain itu keuntungan yang tanpa disadari oleh peternak adalah membaiknya kualitas tanah akibat pemberian pupuk kandang. Dengan bertambahnya populasi sapi tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam menyediakan pasokan daging dalam negeri sehingga impor daging sapi dapat teratasi.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dengan adanya integrasi ternak sapi dengan perkebunan kelapa sawit diharapkan dapat mencapai pendapatan petani, mencapai populasi ternak sapi sehingga swasembada daging dapat tercapai.  Namun demikian diperlukan political will untuk mengembangkan sistem integrasi sait ternak pada skala besar.


1.1.       Latar Belakang

Berkurangnya lahan mengakibatkan ketersediaan sumber pakan untuk ternak berkurang. Integrasi ternak pada perkebunan menjadi trend masa kini (Dwatmadji et al., 2004). Sampai saat ini Indonesia adalah produsen sawit terbesar di dunia dengan areal 6,78 juta hektare dan produksi 17,37 juta ton/tahun. Ternak sapi merupakan salah satu komoditas ternak penghasil daging terbanyak dan tergolong dalam jenis ruminansia yang mampu mengkonsumsikan pakan berserat tinggi seperti hijauan dan konsentrat dalam jumlah banyak.
Konsumsi daging sapi di Indonesia terus mengalami peningkatan, namun peningkatan tersebut belum diimbangi dengan penambahan produksi yang memadai. Produksi daging sapi dalam negeri yang belum mampu memenuhi permintaan tersebut terkait dengan adanya berbagai permasalahan dalam pengembangan sapi potong. Beberapa permasalahan tersebut adalah:
 1) Usaha bakalan atau calf-cow operation kurang diminati oleh pemilik modal karena secara ekonomis kurang menguntungkan dan dibutuhkan waktu pemeliharaan yang lama
 2)  Adanya keterbatasan pejantan unggul pada usaha pembibitan dan peternak
 3) Ketersediaan pakan tidak kontinyu dan kualitasnya rendah terutama pada musim kemarau
4)    Pemanfaatan limbah pertanian dan agroindustri pertanian sebagai bahan pakan belum optimal
 5) Efisiensi reproduksi ternak rendah dengan jarak beranak (calving interval) yang panjang (Maryono et al., 2006)
 6) Terbatasnya sumber bahan pakan yang dapat mencapai produktivitas ternak dan masalah potensi genetik belum dapat diatasi secara optimal (Kariyasa 2005; Santi 2008)
 7) Gangguan wabah penyakit (Isbandi., 2004). Djajanegara dalam Syamsu et al., (2003) menyatakan, perubahan fungsi lahan dari wilayah sumber hijauan pakan menjadi areal tanaman pangan atau kawasan permukiman dan industri juga mengganggu penyediaan hijauan pakan ternak.

Sistem integrasi sawit ternak (SISNAK) mulai di introduksikan di Bengkulu tahun 2004. Peran ternak di perkebunan sawit dapat digunakan sebagai pengangkut TBS dan sekaligus sumber pupuk (Dwatmadji et al., 2005). Sistem Integrasi sapi-sawit adalah suatu kegiatan yang memadukan 2 (dua) atau lebih usaha dengan tujuan untuk mencapai keuntungan. Dengan peningkatan efisiensi satu usaha atau kedua usaha yang dipadukan disamping menghasilkan produk utamanya juga menghasilkan produk yang digunakan sebagai input usaha yang kedua atau juga terjadi hal yang sebaliknya, maka diperolehlah keuntungan/pendapatan ganda. Pada kebun kelapa sawit menghasilkan (pelepah, hijauan daun dan gulma) sedangkan pada ternak sapi dapat menghasilkan (kotoran/pupuk organik) yang dapat dimanfaatkan untuk kesuburan tanah dalam kebun kelapa sawit, dimana kondisi ini saling sinergi dan bermanfaat. Pembinaan masyarakat petani kelapa sawit bertujuan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat melalui sistem integrasi sapi-sawit untuk meningkatkan pendapatan. Sedangkan keuntungan yang didapat dipastikan berasal dari dua komoditi tersebut. Beberapa keuntungan dari sistem integrasi ini antara lain menurunkan ketergantungan herbisida untuk mengatasi gulma, sapi bisa digunakan sebagai ternak kerja untuk mengangkut TBS, dari lahan ke tempat pengumpulan hasil atau pabrik sawit (Dwatmadji et al.,2004) dan sapi ini tentunya bisa juga untuk dijual langsung setelah populasinya bertambah. Sedangkan dari sawit, keuntungannya sudah pasti berasal dari produksi buah dan tercapai penghematan biaya transportasi dan pupuk.
Prinsip integrasi perkebunan kelapa sawit dengan sapi adalah untuk memanfaatkan limbah kelapa sawit sebagai pakan ternak, kemudian memanfaatkan kotoran ternak untuk pupuk organik kelapa sawit, sehingga akan tercipta sistem pertanian yang bebas limbah. Pola integrasi ini dapat menggunakan pendekatan konsep LEISA (Low External Input System Agriculture) yaitu ketergantungan antara tanaman perkebunan dan ternak dapat memberi keuntungan pada kedua usaha tani. Berdasarkan konsep LEISA tersebut, dikembangkan Sistem Integrasi sapi di perkebunan kelapa sawit atau populer disebut SISKA.
Direktorat Jenderal Perkebunan sangat mendorong terciptanya integrasi sawit-sapi ini, karena penggabungan ini bertujuan untuk mencapai produktivitas usaha tani berbasis kelapa sawit, mendorong tumbuhnya kegiatan integratif antara ternak dan sawit (biogas, gerobak, pupuk), mendorong penyebaran sentra pengembangan ternak sapi, mendukung peningkatan populasi sapi (swasembada daging dan ekspor), mendukung kebijakan ketahanan pangan, serta mendukung pengembangan wilayah.
Pola integrasi ini sangat memungkinkan untuk dikembangkan secara luas karena tersedia hijauan, hasil samping & limbah yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, bentuk pengusahaannya hamparan, kelembagaan ekonomi petani memadai, paket teknologi pemanfaatan hijauan, hasil samping & limbah sudah berkembang, serta infrastruktur memadai.
Pakan merupakan komponen biaya produksi tertinggi dalam usaha peternakan, dengan kisaran 65-75% untuk sapi potong. Tingkat produksi dan reproduksi sapi potong di Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan di daerah temperate. Hal tersebut disebabkan ketersediaan dan pemberian pakan tidak mencukupi kebutuhan ternak, baik untuk hidup pokok maupun produksi.

1.2.       Tujuan

Penulisan karya tulis ini bertujuan untuk mengkaji perlunya sistem integrasi perkebunan kelapa sawit sebagai pusat pengembangan ternak sapi potong dalam rangka mencapai swasembada daging.
BAB II. TELAAH PUSTAKA
Kebutuhan daging penduduk indonesia sampai saat ini terus meningkat, seiring dengan peningkatan kesejahteraan dan pemahaman tentang gizi pada masyarakat Indonesia. Sayangnya peningkatan kebutuhan daging nasional ini kurang dibarengi dengan peningkatan supply daging nasional, karena perkembangan sapi potong di Indonesia masih sangat rendah.  Sebagai akibatnya, kebutuhan daging dalam negeri terpaksa harus bergantung pada daging impor. Tingkat konsumsi protein hewani yang berupa daging dipercaya sangat berpengaruh pada kualitas hidup manusia (Soekirman, 2002). Data menunjukkan bahwa konsumsi daging pada masyarakat dinegara-negara berkembang, termasuk Indonesia, masih sangat rendah. Saat ini konsumsi daging penduduk Amerika sudah mencapai 120 kg (kapita/tahun), sedangkan penduduk di negara-negara ASEAN mengkonsumsi sebanyak 18 kg(kapita/tahun), pada saat yang sama konsumai penduduk Indonesia masih berkisar 7,34 kg (Delgano et al., 1999). Peningkatan konsumsi daging penduduk Indonesia akan semakin sulit dicapai melihat kenyataan bahwa sampai saat ini Indonesia masih mengimpor daging sebanyak 67.000 ton/tahun daging dari luar (Anonimous, 2011).
Sampai saat ini Indonesia adalah produsen sawit terbesar di dunia  dengan luas areal 7,8 juta hektare dan produksi 19,84 juta ton/tahun. Perkembangan lahan sawit yang begitu pesat terjadi baik secara nasional maupun di daerah. Khusus di Bengkulu ada sekitar 84.904 ha lahan sawit berpotensi untuk pengembangan Sistem Integrasi Sawit  Ternak (SISNAK), maka diperkirakan dapat menampung 212.260 ternak sapi lokal, dengan perbandingan 1 ha dapat menampung 2-3 ekor. Neraca daging sapi nasional pada tahun 2008 hanya memenuhi 64,9 % dari proyeksi kebutuhan konsumsi sepanjang 2008 dengan kata lain Indonesia masih kekurangan 135.110 ton (35,1%) dari total kebutuhan daging. Diasumsikan seekor sapi lokal menghasilkan daging 123,91 kg dan sapi impor 198,85 kg, jumlah itu setara 581.695 ekor sapi impor, sehingga total impor pada 2010 diestimasi mencapai 931.695 ekor. Apabila upaya untuk mencapai populasi sapi potong tidak optimum maka ketergantungan sapi impor semakin tinggi. Pada tahun 2015 penduduk Indonesia akan berkisar 253 juta jiwa, oleh sebab itu diperkirakan defisit daging sapi dapat mencapai 334.000 ton. Sapi potong merupakan penyumbang daging terbesar dari kelompok ruminansia terhadap produksi daging nasional sehingga usaha ternak ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai usaha yang menguntungkan. Sistem integrasi (Penggabungan) antara dua komoditi pertanian selama ini diyakini mampu memberi untung berlipat. Begitu juga dengan integrasi antara tanaman kelapa sawit dengan ternak sapi telah direalisasikan di beberapa daerah dan terbukti mampu mengangkat kesejahteraan petani. Pengembangan ternak dengan sistem low-input ini ternyata mampu memberikan pertambahan berat badan sekitar 0,5-0,6 kg/hari. Pemeliharaan sapi potong dengan pola seperti ini diharapkan pula dapat mencapai produksi daging sapi nasional yang hingga kini belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat. Di sisi lain, permintaan daging sapi yang tinggi merupakan peluang bagi usaha pengembangan sapi potong lokal sehingga upaya untuk mencapai produktivitasnya perlu terus dilakukan. Konsumsi daging sapi penduduk Indonesia tahun 2020 diperkirakan akan meningkat sekitar 2-3 kali lipat dari rata-rata konsumsi saat ini kurang dari 2 kg/kapita/tahun. Populasi sapi potong yang ada sekarang di Indonesia menurut data statistik Ditjen Peternakan sekitar 10,5 juta ekor.

BAB III. METODE PENULISAN

3.1.    Metode Pengambilan Data

Metode yang digunakan dalam pengambilan data adalah melalui studi pustaka atau telaah pustaka. Studi pustaka adalah tinjauan, sintesis atau ringkasan kepustakaan tentang masalah dalam penulisan. Kegiatan ini mencakup mencari, mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi literatur yang relevan dengan masalah dalam karya tulis ini. Literatur dapat berupa jurnal ilmiah, hasil penelitian, skripsi, thesis, makalah seminar, internet, dan buku yang mempunyai kaitan dengan masalah dalam tulisan ini (Rodot, 1996 dalam Suhendra, 2004)

3.2.    Rancangan Pembahasan

Rancangan pembahasan dalam karya tulis ini bersifat deskriptif, yaitu menelaah permasalahan yang ada disekitar dengan mengemukakan beberapa sumber pustaka dengan data-data yang mendukung. Metode ini bertujuan untuk mendeskripsikan, mencatat, menganalisis dan menginterpretasikan kondisi-kondisi atau keadaan yang ada, dari data tersebut kemudian dilakukan analisis, dengan kata lain, metode deskriptif bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai keadaan yang ada dan melihat serta menghubungkan kaitan antara variabel-variabel yang ada.

3.3.    Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan cara mengumpulkan atau menggabungkan data-data yang diperoleh dari telaah pustaka yang selanjutnya dianalisis dengan metode deskriptif. Kesimpulan diambil berdasarkan data yang diolah dalam pembahasan dengan membuat intisari dari keseluruhan dan pembahasan yang telah diuraikan.

BAB IV. ANALISIS DAN SINTESIS

1.1.       Pengembangan Usaha Ternak Sapi Melalui Integrasi Ternak Sapi - Sawit

Produk samping industri kelapa sawit yang belum dimanfaatkan secara optimal adalah pelepah, daun, tandan kosong, serat perasan, lumpur sawit, dan bungkil kelapa sawit. Salah satu cara pemecahannya adalah dengan memanfaatkannya untuk pakan ternak. Sapi dapat memanfaatkan produk samping tersebut sebagai pakan dan sekaligus menghasilkan pupuk organik untuk tanaman. Pola integrasi ataupun diversifikasi tanaman dan ternak diharapkan dapat menjadi bagian integral dalam usaha perkebunan. Dengan perkataan lain, pemanfaatan produk samping industri kelapa sawit pada wilayah perkebunan dapat menjadi basis pengembangan sapi potong. Hasil penelitian di Bengkulu menunjukkan bahwa limbah perkebunan sawit dan ikutannya seperti pelepah, solid, bungkil inti sawit, minyak sawit sangat potensial sebagai pakan ternak (Hidayat et al., 2006, 2007, dan 2009, Akbarillah, 2007).   Kehadiran sapi potong di perkebunan kelapa sawit diharapkan dapat memberikan nilai tambah, baik secara langsung maupun tidak langsung, selain dampaknya terhadap kebersihan lingkungan.
Pada dasarnya upaya optimalisasi produksi daging bisa dilakukan dengan beberapa alternatif seperti:
               i.                        Intensifikasi dan ekstensifikasi lahan tidur
             ii.                        Optimalisasi pemanfaatan sumber pakan alternati
           iii.     Integrasi ternak dengan tanaman perkebunan/industri kelapa sawit, Integrasi ternak dengan perkebunan dikembangkan berdasarkan konsep LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) dengan cara:
1. Limbah perkebunan dalam hal ini kebun sawit seperti solid, pelepah, dan bungkil sawit dimanfaatkan sebagai pakan,
2. Kotoran ternak dan limbah sawit non pakan didekomposisi menjadi kompos untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah,
3.  Penggembalaan ternak diarahkan untuk memakan tanaman liar/gulma
Sumber pakan berupa hijauan diperoleh dari area perkebunan dan juga dari produk sampingan olahan sawit seperti pelepah, solid, dan bungkil sawit. Produk sampingan tersebut sangat bermanfaat karena tersedia sepanjang tahun tidak seperti hijauan yang menjadi sangat terbatas pada saat musim kemarau.
Kandungan nutrien produk samping tanaman dan hasil ikutan industri Pengembangan sapi potong berbasis industri kelapa sawit 213 olahan kelapa sawit telah dilaporkan oleh peneliti Malaysia (Jalaludin et al., 1991) dan Indonesia (Aritonang 1984; Mathius et al., 2004a). Kandungan dan kualitas nutrien produk samping tanaman kelapa sawit cukup rendah akibat tingginya kandungan serat kasar, namun kandungan karbohidrat dalam bentuk gula mudah larut cukup tinggi.
Di lain pihak, ketersediaan padang penggembalaan menurun hingga 30%. Mersyah (2005) mengemukakan, ada dua faktor yang menyebabkan lambannya perkembangan sapi potong di Indonesia. Pertama, sentra utama produksi sapi potong di Pulau Jawa yang menyumbang 45% terhadap produksi daging sapi nasional sulit untuk dikembangkan karena:
a)    Ternak dipelihara menyebar menurut rumah tangga peternakan (RTP) di pedesaan
b)    Ternakdiberpakan hijauan pekarangan dan limbah pertanian
c)    Teknologi budi daya rendah
d)    Tujuan pemeliharaan ternak sebagai sumber tenaga kerja, perbibitan (reproduksi) dan penggemukan (Roessali et al., 2005)
e)    Budi daya sapi potong dengan tujuan untuk menghasilkan daging dan berorientasi pasar masih rendah.
Kedua, pada sentra produksi sapi di kawasan timur Indonesia dengan porsi 16% dari populasi nasional, serta memiliki padang penggembalaan yang luas, pada musim kemarau panjang sapi menjadi kurus, tingkat mortalitas tinggi, dan angka kelahiran rendah. Kendala lainnya adalah berkurangnya areal penggembalaan, kualitas sumber daya rendah, akses ke lembaga permodalan sulit, dan penggunaan teknologi rendah (Syamsu et al., 2003; Isbandi 2004;Ayuni 2005; Rosida 2006).
Faktor pendorong pengembangan sapi potong adalah permintaan pasar terhadap daging sapi makin meningkat, ketersediaan tenaga kerja besar, adanya kebijakan pemerintah yang mendukung upaya pengembangan sapi potong, hijauan pakan dan limbah pertanian tersedia sepanjang tahun, dan usaha peternakan sapi lokal tidak terpengaruh oleh krisis ekonomi global (Kariyasa 2005; Gordeyase et al., 2006; Rosida 2006; Nurfitri 2008). Berkaitan dengan berbagai permasalahan tersebut maka pemanfaatan bahan pakan lokal perlu dioptimalkan sehingga dapat menekan biaya pakan tanpa mengganggu produktivitas ternak. Salah satuupaya yang dapat ditempuh adalah memelihara ternak secara terintegrasi dengan tanaman pangan atau perkebunan.
Dengan upaya tersebut diharapkan keterbatasan hijauan pakan dapat diatasi dengan memanfaatkan limbah pertanian atau perkebunan, sehingga produktivitas tanaman dan ternak menjadi lebih baik (Kariyasa 2005; Gordeyase et al., 2006; Utomo dan Widjaja 2006; Suryana 2007a). Integrasi ternak dan tanaman dapat dilakukan melalui pola kemitraan antara pihak perusahaan dan petani-ternak atau pemerintah daerah (Suharto 2004; Utomo dan Widjaja 2004). Masalah lain yang perlu mendapat perhatian adalah tingginya angka pemotongan sapi betina produktif meskipun Undang-undang Peternakan dan Veteriner dengan tegas melarang pemotongan sapi betina produktif. Jika pemotongan sapi betina produktif terus berlangsung tanpa pengawasan yang ketat dan sanksi yang berat maka sumber penghasil sapi bakalan akan menjadi berkurang yang selanjutnya akan menurunkan populasi sapi potong di Indonesia.

1.2.       Potensi Integrasi Ternak Sapi – Sawit

Sumber daya peternakan, khususnya sapi potong merupakan salah satu sumber daya alam yang dapat diperbaharui (Renewable) dan berpotensi untuk dikembangkan guna mencapai dinamika ekonomi. Menurut Saragih dalam Mersyah (2005), ada beberapa  perlunya mengembangkan usaha ternak sapi potong, yaitu:
  1. Budi daya sapi potong relatif tidak bergantung pada ketersediaan lahan dan tenaga kerja yang berkualitas tinggi
  2. Memiliki kelenturan bisnis dan teknologi yang luas dan luwes
  3. Produk sapi potong memiliki nilai elastisitas terhadap perubahan pendapatan yang tinggi
  4. Dapat membuka lapangan pekerjaan.
Daging sapi merupakan salah satu sumber protein hewani yang banyak dibutuhkan konsumen, dan sampai saat ini Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan sehingga sebagian masih harus diimpor. Kondisi tersebut mengisyaratkan suatu peluang untuk pengembangan usaha budi daya ternak, terutama sapi potong.
Menurut Priyanti (2007), usaha ternak sapi-tanaman dapat memberikan dampak budi daya, sosial, dan ekonomi yang positif. Potensi ketersediaan pakan dari limbah tanaman cukup besar sepanjang tahun sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap pakan dari luar dan menjamin keberlanjutan usaha ternak (Priyanti, 2007).
Sistem integrasi merupakan penerapan usaha tani terpadu melalui pendekatan low external input antara ternak sapi dan tanaman (Priyanti, 2007). Sistem ini sangat menguntungkan karena ternak dapat memanfaatkan rumput dan hijauan pakan yang tumbuh liar, jerami atau limbah pertanian sebagai pakan, selain menghasilkan kotoran sebagai pupuk organik untuk mencapai kesuburan tanah. Sistem integrasi juga dapat menambah pendapatan rumah tangga dengan mengolah kotoran sapi menjadi kompos. Pupuk kompos selanjutnya dapat dijual kepada petani lain atau masyarakat yang membutuhkannya.
Usaha tani integrasi menerapkan pendekatan sistem dalam satu kesatuan daur produksi (Priyanti, 2007). Dalam penelitiannya, Suwandi (2005) dan Priyanti (2007) mengkaji sistem integrasi tanaman-ternak sapi potong. Beberapa hasil penelitian menunjukkan sistem integrasi ternak sapitanaman dapat mencapai pendapatan petani (Sariubang et al., 2003; Suwandi 2005; Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat 2007; Priyanti 2007).
Lahan pertanian yang makin berkurang akibat beralih fungsi menjadi pemukiman, misalnya, menyebabkan petani-peternak harus mempunyai alternatif usaha untuk mencapai pendapatan, antara lain dengan mengatur pola tanam secara bergantian maupun campuran. Alternatif lain adalah mencapai usaha ternak sapi melalui integrasi sapi-tanaman pangan atau tanaman perkebunan (kelapa). Imam (2003) menyatakan, pengembangan peternakan dapat melalui diversifikasi ternak sapi dengan lahan persawahan, perkebunan, dan tambak. Suwandi (2005) yang meneliti penerapan pola usaha tani padi sawahsapi potong melaporkan sistem ini dapat mencapai produksi dan keuntungan petani berlahan sempit.
Selain sebagai sumber daging, ternak sapi berfungsi sebagai penghasil pupuk atau kompos untuk mencapai produksi tanaman pangan. Kotoran ternak dapat pula digunakan sebagai sumber biogas (Hasnudi, 1991). Hal ini mengindikasikan, integrasi sapi-tanaman dapat memberi manfaat yang besar bagi ternak dan tanaman. Menurut Bamualim et al., (2004), keuntungan langsung integrasi ternak sapi-tanaman  adalah meningkatnya pendapatan petani-peternak dari hasil penjualan sapi dan hasil tanaman. Keuntungan tidak langsung adalah membaiknya kualitas tanah akibat pemberian pupuk kandang.
Menurut Kariyasa dan Kasryno (2004), usaha ternak sapi akan efisien jika manajemen pemeliharaan diintegrasikan dengan tanaman sebagai sumber pakan bagi ternak itu sendiri. Ternak sapi menghasilkan pupuk untuk mencapai produksi tanaman, sedangkan tanaman dapat menyediakan pakan hijauan bagi ternak.

1.3.       Pola Integrasi Ternak Sapi – Sawit

Pembangunan peternakan sebagai bagian integral dari pembangunan pertanian sebagaimana yang tercantum dalam arah dan kebijakan pembangunan nasional yang pada hakekatnya bertujuan untuk mencapai produksi, memperluas lapangan kerja, menunjang sektor industri dan ekspor, mencapai pendapatan dan gizi masyarakat yang pada akhirnya secara keseluruhan dapat diharapkan mencapai kesejahteraan masyarakat.
Program keterpaduan antara kelapa sawit dan ternak ruminansia harus didukung dengan penerapan teknologi yang tepat/sesuai, sehingga produksi yang dihasilkan dapat lebih efisien, berdaya saing dan berkelanjutan. Pada dasarnya sistem keterpaduan ini menjadi daur ulang sumberdaya yang tersedia secara optimal (Wijono et al.,2003).
Pola integrasi sapi dan kelapa sawit dapat berkembang dengan baik dan efisien karena adanya aliran sumberdaya yang tidak terputus yang bersumber dari limbah sawit sebagai pakan ternak dan kompos setelah di daur ulang, sehingga terjalin mata rantai kebersihan dan kelestarian lingkungan. Ternyata pendekatan cara ini sangat dianjurkan oleh para ahli ekonomi, lingkungan, pertanian dan peternakan karena akan diperoleh produk yang lebih murah, berkualitas dan terjamin keberlanjutannya.
Semakin meningkatnya konsumsi daging oleh masyarakat harus diimbangi dengan ketersedian daging dengan harga yang terjangkau. Masalah yang dihadapi saat ini adalah ketersediaan daging sedikit sehingga harga melambung tinggi, dengan demikian tidak semua konsumen mampu membeli. Tingginya harga disebabkan karena ketersediaan daging yang sedikit serta daging tersebut masih diimpor. Jika daging disuplai dari dalam negeri maka harga daging tersebut akan lebih murah sehingga seluruh lapisan masyarakat mampu membelinya. Masalah tersebut dapat diatasi dengan meningkatkan populasi ternak dalam negeri sehingga mampu memasok kebutuhan akan daging oleh masyarakat.

BAB V. SIMPULAN DAN REKOMENDASI
5.1.    Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dengan adanya integrasi antara ternak sapi dengan perkebunan kelapa sawit diharapkan dapat mencapai pendapatan petani, meningkatkan populasi ternak sapi sehingga swasembada daging dapat tercapai.
5.2.    Saran
Dari penulisan diatas, maka penulis menyarankan:
Memanfaatkan kelebihan dan kekurangan yang Tuhan berikan kepada kita merupakan wujud dari rasa syukur kita kepada-Nya, sehingga tidak ada sesuatu yang tuhan ciptakan itu hanya sia-sia saja. Hal ini telah dibuktikan dengan adanya potensi yang sangat besar berupa hamparan rumput diantara tanaman kelapa sawit yang merupakan sebagian produk tumbuhan yang dapat dimanfaatkan oleh ternak sebagai pakan yang mampu memberikan dampak positif bagi ternak sehingga kebutuhan akan protein hewani dapat terpenuhi. Namun peran pemerintah harus tetap ada sebagai jembatan penghubung antara petani peternak dengan lembaga perusahaan yang ada.

DAFTAR PUSTAKA
Anonimous. 2010. Pemanfaatan Limbah Sawit Sebagai Pakan Ternak Sapi. Kampung Adat Paser Kalimantan Timur.

Bamualim, A., R.B. Wirdahayati, dan M. Boer. 2004. Status dan peranan sapi lokal pesisir di Sumatera Barat. Prosiding Seminar Sistem Kelembagaan Usaha Tani Tanaman-Ternak. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta.

Elly.F.H. at al,. 2008. Pengembangan Usaha Ternak Sapi Rakyat Melalui Integrasi Sapi-Tanaman Di sulawesi utara. Jurnal Litbang Pertanian, 27(2). Manado

Imam, H.M.S. 2003. Strategi usaha pengembangan peternakan berkesinambungan. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.

Maryono, E. Romjali, D.B. Wijono, dan Hartatik. 2006. Paket rakitan teknologi hasil-hasil penelitian peternakan untuk mendukung upaya Kalimantan Selatan mencapai swasembada sapi potong. Makalah disampaikan pada Diseminasi Teknologi Peternakan, Banjarbaru, 17 Juli 2006. Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan bekerja sama dengan Loka Penelitian Sapi Potong, Grati. hlm. 15.

Mersyah, R. 2005. Desain sistem budi daya sapi potong berkelanjutan untuk mendukung pelaksanaan otonomi daerah di Kabupaten Bengkulu Selatan. Disertasi, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Priyanti, A. 2007. Dampak Program Sistem Integrasi Tanaman Ternak terhadap Alokasi Waktu Kerja, Pendapatan dan Pengeluaran Rumah Tangga Petani. Disertasi. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor

Roessali, W., B.T. Eddy, dan A. Murthado. 2005. Upaya pengembangan usaha sapi potong melalui entinitas agribisnis “corporate farming” di Kabupaten Grobogan. Jurnal Sosial Ekonomi Peternakan 1(1): 25−30.

Rosida, I. 2006. Analisis Potensi Sumber Daya Peternakan Kabupaten Tasikmalaya sebagai Wilayah Pengembangan Sapi Potong. Skripsi. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.

Suharto. 2004. Pengalaman pengembangan usaha sistem integrasi sapi-kelapa sawit di Riau. hlm. 57−63 Prosiding Lokakarya Nasional Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi, Bengkulu, 9−10 September 2003. Departemen Pertanian bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Bengkulu dan PT Agricinal.

Suryana. 2009. Pengembangan Usaha Ternak Sapi Potong Berorientasi Agribisnis Dengan Pola Kemitraan. Jurnal Litbang Pertanian, 28(1). Kalimantan Selatan

Suryana. 2007a. Pengembangan integrasi ternak ruminansia pada perkebunan kelapa sawit. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian 26(1): 35−40.

Suryana, A. 2007b. Arah kebijakan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dalam pemasyarakatan inovasi teknologi pertanian. hlm. 5−12. Prosiding Seminar Nasional dan Ekspose Percepatan Inovasi Teknologi Spesifik Lokasi Mendukung Kemandirian Masyarakat Kampung di Papua, Jayapura, 5−6 Juni 2007. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Papua,

Suwandi. 2005. Keberlanjutan Usaha Tani Terpadu Pola Padi Sawah-Sapi Potong Terpadu di Kabupaten Sragen: Pendekatan RAP-CLS. Disertasi. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Hidayat. Akbarillah.T., Soetrisno edi. 2006, 2007. Produksi Ternak Sapi Berbasis Hasil Ikutan Kebun Sawit Melalui Peningkatan Kualitas Pakan, Manipulasi Ekosistem Mikrobia Rumendan Protein By Pass. Laporan Hibah Bersaing Dikti.

Akbarillah.T., Hidayat. 2007. Pengaruh Pemanasan Bungkil Inti Sawit Dalam Pakan Berbasis Hasil Ikutan Kebun Sawit Dan Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit. Laporan Penelitian Indifood Riset Nugraha.

Hidayat. Akbarillah.T., Jarmuji. 2009. Pengaruh Penggunaan Pelepah Sawit, Bungkil Inti Sawit Dan Lumpur Minyak Sawit Dalam Pakan (Diet) Terhadap Kecernaan Dan Pertambahan Berat Badan Sapi. Laporan Penelitian HPSN Dikti.

Dwatmadji., Suteky.T., Dan E. Soetrisno (2005) Multi Peran Sapi Bali Pada Sistem Agro Farming Kelapa Sawit (Elaeis guineensis). Laporan Hasil Penelitianh Hibah Bersaing, ahun 2

13 comments:

CaHDjoGjAtEa said...

Ada wacana bahwa feses yang di hasilkan dari sapi justru menhasilkan jamur trikoderma yang dapat merusak sawit. jika wacana itu benar, apakah SISKA masih efektif??....

rocky said...

kayaknya kalau sawit dan sapi potong kurang cocok ya, betul kata siti. menurut saya bagaimana kalau sawit tersebut di integrasikan dengan kambing2 besar, seperti boer, etawa, burawa.dll

Agus Sutrisno (E1C009030) said...

السلام عليكم

Sistem Integrasi Ternak Kebun sepertinya menarik banget...?
Disebutkan tadi bahwa "SISKA" dengan dua komoditi ini adanya hubungan mutualisme, dari perkebunan kelapa sawit dihasilkan( pelepah, hijauan,daun serta gulma), sedangkan pada ternak sapi dihasilkan kotoran / feses sebagai pupuk bagi tanaman kelapa sawit...>
Apa Yang menjadi permasalahan saat ini ...?
Informasi lain menyebutkan bahwa Siska merupakan sistem integrasi
yang mungkin kurang efektif, salah satu dampak negatif yaitu feses sapiyang menempel pada tanaman sawit akan ditumbuhi jamur sehingga merusak tanaman kelapa sawit dan merugikan petani,..?
Maka Sistem integrasi apakah yang cocok untuk Perkebunan kelapa sawit ?...Wsslm>

putri anggraini said...

integrasi perkebunan sawit dengan ternak sapi potong, sebuah pemikiran yang sangat menarik. mungkin ide ini dapat diterapkan di desa asal sya, kebetulan ditempat saya areal perkebunan sawit yang dimiliki masyarakat cukup luas, ditambah lagi skrg sudah dibangun pabrik sawit.
tapi apakah jamur trikhoderma yang dihasilkan dri kotoran sapi tidak membawah pengaruh yang buruk bagi lingkungan disekitar perkebunan??

muhammad yusuf said...

Muhammad Yusuf ( E1c010008 )
ide yang hebat memadukan antara kebun sawit dengan ternak ruminansia, tapi saya masih belum puas dengan hasil survei BPS yang menjelaskan masalah swasembada daging, antara data jumlah penduduk dan jumlah ternak itu sendiri masih saya ragukan kebenarannya. terus bagaimana pemerintah bisa menyimpulkan bahwa Indonesia itu sudah Swasembada daginng atau belum? terimakasih pak.

brilian putra pamungkas said...

(E1C011087)
integrasi perkebunan sawit dengan ternak sapi potong, sebuah pemikiran yang sangat menarik. mungkin ide ini dapat diterapkan di desa asal sya, kebetulan ditempat saya areal perkebunan sawit yang dimiliki masyarakat cukup luas, ditambah lagi skrg sudah dibangun pabrik sawit.
tapi apakah jamur trikhoderma yang dihasilkan dri kotoran sapi tidak membawah pengaruh yang buruk bagi lingkungan disekitar perkebunan??

Binti nurkhasanah E1C011051 said...

integrasi perkebunan kelapa sawit dengan ternak sapi potong.Ide yang bagus yang memadukan perkebunan dengan ternak ruminnsia khususnya sapi potong tetapi saya masih kurang paham dalam pelaksanaanya.Tapi bagaimana dampak feses yang dkawatirkan akan merusak kelapa sawit tersebut..?

Binti nurkhasanah E1C011051 said...

integrasi perkebunan kelapa sawit dengan ternak sapi potong.Ide yang bagus yang memadukan perkebunan dengan ternak ruminnsia khususnya sapi potong tetapi saya masih kurang paham dalam pelaksanaanya.Tapi bagaimana dampak feses yang dkawatirkan akan merusak kelapa sawit tersebut..?

muhammad yusuf said...

muhammad yusuf (e1c010008)
artikel di atas cukup menarik, setiap kkeputusan yang kita ambil dalam beternak pasti akan menghasilkan sisi positif dan sisi negatif. pertanyaan saya berkaitan dengan artikel ini adalah apakah ada dampak negatif dan hambatan dalam integrasi ternak kebun? terimakasih...

SIKI ANDRI PUTRA said...

SIKI ANDRI PUTRA. Menarik untuk di tinjau lagi, berdasarkan dari komentar-komentar diatas. ada yang pro dan ada juga yang kontra, menurut saya pribadi,perpaduan/integrasi ternak dengan kebun itu sangat baik,selain ternak bisa membantu membersihkan lahan dengan memakan rumput tetapi ternak juga bisa memberikan manfa'at terhadap pertumbuhan sawit melalui feses dan urinnya...walaupun saya tidak mengambil matakuliah limbah dan integrasi ternak kebun.

lizna sweet said...

LISNAWATI ANGGRAINI
E1C010039
bagaimana cara menanggulangi sistem integrasi yang masih berjalan tetapi tidak memperhatikan sistemnya dengan baik pak???

Anonymous said...

SILISTI(E1C010019)


Artikel yang mengenai Integrasi perkebunan kelapa sawit dengan ternak sapi potong ini sangat baik sekali karena dapat memanfaatkan perkebunan sawit dengan ternak potong yang mana kita ketahui bahwa kotoran sapi dapat dijadikan pupuk untuk sawit sedangkan ternak sapi dapat memanfaatkan daun kelapa sawit menjadi pakannya. sehingga saling menguntungkan satu sama lain.

Ramadhan Sumanto said...

Ramadhan Sumanto
E1C013125


sepertinya bisa juga menambahkan 1 metode yang yaitu metode

elaeisculture yaitu metode yang menggunakan kelapa sawit sebagai media hidup ..
yaitu bisa di tanamkan dengan tanaman bayam yang di tanam di bagian pelepah sawit yang sudah jatuh untuk lebih lengkap nya bisa cari mengenai pemanfaatan eleaisculture ...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...