Sunday, March 15, 2015

PENGGUNAAN JENIS PENGENCER TERHADAP KUALITAS SEMEN BEKU PADA KAMBING




Oleh : Asti Yosela Oktaviana, NPM. E1C011096
Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu

ABSTRAK
Kerusakan yang sering terjadi pada semen kambing selama proses pembekuan dapat disebabkan karena pembentukkan kristal-kristal es, sehingga dapat terjadi penurunan kualitas semen khususnya penurunan motilitas, membran plasma utuh, daya hidup dan tudung akrosom spermatozoa setelah thawing. Penggunaan berbagai jenis pengencer dapat membantu mencegah terjadinya kerusakan semen. Jenis pengencer yang digunakan dapat berupa pengencer gliserol, pengencer tris, pengencer kuning telur dan air kelapa. Dari beberapa penelitian yang dilakukan diperoleh hasil dari penambahan pengenceran gliserol 6% dan pengencer tris mampu melindungi spermatozoa dari berbagai kerusakan selama proses kriopreservasi semen beku pada kambing etawa, sedangkan untuk pengencer semen dengan menggunakan kuning telur dan air kelapa mampu mempertahankan kualitas semen kambing nubian jika menggunakan pengenceran 75% kuning telur dengan 25% air kelapa dan pengencer 50% kuning telur dengan 50% air kelapa, sehingga dapat mempertahankan kualitas semen yang selanjutnya layak untuk digunakan dalam program IB pada berbagai jenis kambing.
Kata kunci : Jenis Kambing, pengencer, kualitas semen.


PENDAHULUAN
            Inseminasi buatan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan mutu genetik kambing lokal Indonesia. Selain itu inseminasi buatan juga mampu meningkatkan populasi dan produksi ternak secara kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan semen pejantan yang bebas penyakit dan mempunyai mutu genetik yang tinggi.  Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam program IB adalah kualitas semen beku. Semen kambing bisa mengalami kerusakan dikarenakan terjadi pembentukkan kristal-kristal es selama proses pembekuan. Toelihere (1985) menyebutkan kristal-kristal yang terbentuk selama proses pembekuan tersebut menyebabkan konsentrasi elektrolit dalam sel yang akan melarutkan selubung lipoprotein dinding sel spermatozoa dan pada waktu thawing akan mengubah permeabilitas membran plasma yang selanjutnya dapat menyebabkan spermatozoa akan mati.
Untuk menjaga kualitas spermatozoa yang terdapat dalam straw tetap terjaga digunakan nitrogen cair sebanyak 1/3 kontainer untuk tempat penyimpanan semen beku dan krioprotektan yang terkandung dalam pengencer (Putranti dkk. 2010). Guna melindungi spermatozoa media pengencer yang digunakan harus mengandung kriprotektan. Peranan krioprotektan adalah mencegah terbentuknya kristal es dan menstabilkan membran plasma selama proses pembekuan (Kusumaningrum dkk., 2002). Kriprotektan ada dua jenis yaitu ektraseluler dan intraseluler, untuk kriprotektan ektraseluler dapat berupa kuning telur dan intraseluler dapat berupa gliserol. Salah satu pengencer untuk semen kambing adalah Tris aminomethane kuning telur. Kuning telur mengandung glukosa yang lebih efektif digunakan oleh spermatozoa, protein, dan memiliki viskositas yang menguntungkan bagi spermatozoa (Toelihere, 1981; Yuliyanti, 2001)
Menurut Ihsan (2011) kuning telur sebagai bahan krioprotektan esktraseluler berfungsi sebagai media penyedia makanan, sumber energi dan pelindung eskraseluler spermatozoa dari cold shock. Tris aminomethane kuning telur merupakan salah satu jenis pengencer kriprotektan ekstraseluler berupa kuning telur, kuning telur tersebut mengandung lipoprotein dan lesitin sebagai krioprotrktan atau pelindung pada saat pembekuan semen. Krioprotektan intraseluler seperti gliserol juga dapat mengatasi rendahnya kualitas semen beku, hal ini sesuai dengan peranan gliserol yaitu melindungi membran plasma, mencegah kerusakan fisik dan fungsional sel spermatozoa selama proses pembekuan semen akibat terbentuknya kristal-kristal es.
Media pengencer semen yang lain adalah air kelapa sebagai kombinasi dari kuning telur, ditambahkan air kelapa dalam pengenceran karena bahan pengencer yang ada saat ini tidak dapat memenuhi semua syarat tersebut sehingga diperlukan kombinasi atau gabungan untuk dilakukan pengenceran. Air kelapa merupakan bahan yang dapat digunakan sebagai pengencer semen. Kandungan dari air kelapa dapat berupa karbohidrat 4,11%-7,27% (Afiati dkk., 2003), bahan kering (50,0%), protein kasar (7,4%), serat kasar (3,0%), abu (2,0%), ekstrak eter (68,0%), kalsium (0,03%), dan phosphor (0,26%) (FAO, 1998). Air kelapa tidak mampu melindungi spermatozoa dari temperatur rendah, oleh karena itu perlu ditambah kuning telur atau zat lain.

ISI TULISAN
Dalam pembuatan pengencer untuk semen beku biasanya menggunakan pengencer triss, namun selain itu ada beberapa pengencer yang dapat ditambahkan dalam pengencer triss sehingga dapat mempengaruhi kualitas dari semen beku tersebut. Kualitas yang dimaksudkan adalah motalitas dari semen beku yang berasal dari jenis ternak jantan yang berbeda. Beberapa jenis pengencer yang dapat ditambahkan antara lain dapat berupa pengencer triss yang ditambahkan dengan glutathione, gliserol. Beberapa penelitian dilakukan mengenai pengunaan disetiap pengencer. Syarat pengencer yang baik adalah murah, sederhana, praktis dibuat dan tidak mengandung racun terhadap sperma serta dapat mempertahankan dan tidak membatasi daya fertilisasi sperma sehingga memungkinkan dilakukan penilaian setelah pengenceran. Dari hasil penelitian Fitri Rizqi Amalia, dkk. Pengaruh penambahan Glutathione 6 mm dalam pengencer Triss aminomethane kuning telur yang mengandung DMSO dapat memberikan hasil yang baik untuk mempertahankan motilitas spermatozoa sebesar 75% pada kambing boer selama pendinginan dan mempertahankan selama proses pengenceran. Sedangkan untuk penambahan glutathione sebanyak 13 mm dan 19 mm berdampak motilitas spermatozoa mengalami penurunan yang nilainya dibawah kontrol yaitu 73% dan 73,5%. Meskipun terdapat sedikit penurunan, motilitas spermatozoa masih dalam kisaran normal dan layak untuk proses semen beku. Dari hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa pemberian Glutathione boleh dilakukan jika menggunakan glutathinis 6 mm.
Jenis pengencer lainnya adalah gliserol, penambahan krioprotektan seperti gliserol merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi rendahnya kualitas semen beku kambing. Hal ini didasarkan pada peranan gliserol dalam melindungi membran plasma, mencegah kerusakan fisik dan fungsional sel spermatozoa selama proses pembekuan semen akibat terbentuknya kristal-kristal es. Dalam penelitian Surya, dkk (2000) menggunakan gliserol sebanyak 5%, 6% dan 7% yang diberikan pada pembekuan semen kambing penanakan etawa. Penambahan gliserol ke dalam pengencer Tris tidak berpengaruh besar terhadap persentase motilitas spermatozoa sebelum pembekuan (sesudah pengenceran dan ekuilibrasi). Namun pasca pembekuan pengaruh gliserol sudah terlihat, dimana penambahan gliserol sebesar 6% sesudah thawing menghasilkan persentase motilitas sebanyak 52,60% lebih tinggi dibandingkan penambahan gliserol 5% dengan motilitas  44,31% dan 7%  motilitasnya mencapai 45,28%. Dengan demikian penambahan gliserol 6% ke dalam pengencer Tris mampu memberikan perlindungan terhadap semen kambing peranakan etawa dari pengaruh yang merugikan dan dosis gliserol sebanyak 5% dan 7% belum mampu mencegah terbentuknya kristal-kristal es dalam sel spermatozoa selama proses pembekuan. Pengaruh perlindungannya yaitu memodifisier kristal-kristal es yang terbentuk selama proses pembekuan. Dengan demikian pemberian gliserol baik untuk dilakukan dalam pembekuan semen karena gliserol dapat berdifusi kedalam sel spermatozoa dan dapat dimetabolisier dalam proses-proses yang menghasilkan energi yang berupa fruktosa. Gliserol akan memasuki siklus perombakan fruktosa pada triosa fosfat dan selanjutnya akan dirombak menjadi asam laktat untuk dioksidasi lebih lanjut. Fruktosa yang tersedia ini akan menyebabkan spermatozoa tetap bergerak.
Penentuan kualitas semen perlu dilakukan untuk menentukan kadar pengenceran semen. Kuantitas dan kualitas semen yang didapatkan dalam penelitian ini tergolong normal (Tambing,1990). Keberadaan spermatozoa tersebut sangat dipengaruhi oleh suhu agar tetap hidup dan dapat bertahan, maka diukur dengan persen motilitas individu spermatozoa.
            Selama penyimpanan berlangsung persentase motilitas individu spermatozoa mengalami penurunan, baik pada tingkat pengenceran 1:5, 1:10, maupun 1:15. Namun demikian, nampak bahwa semakin lama disimpan pada suhu kamar (4 dan 6 jam), tingkat pengenceran 1:10 menghasilkan persentase motilitas individu lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat pengenceran lainnya.
2.      Persentase Viabilitas Spermatozoa
Selama penyimpanan berlangsung persentase viabilitas spermatozoa mengalami penurunan, baik pada tingkat pengenceran 1:5, 1:10, maupun 1:15. Namun demikian, nampak bahwa semakin lama disimpan pada suhu kamar (4 dan 6 jam) tingkat pengenceran 1:15 menghasilkan persentase viabilitas lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat pengenceran yang lainnya .
            Motilitas spermatozoa terus menurun seiring dengan lamanya waktu penyimpanan semen yang menurut Yani et al. (2001) karena ketersediaan energi semakin terbatas. Hasil penelitian Affandhy (2003) dan Afiati dkk. (2003) menunjukkan bahwa motilitas sperma pada semen sapi Simmental dan peranakan Ongole yang diencerkan dengan kuning telur dan air kelapa bertahan sampai hari ke tiga
Daya tahan hidup spermatozoa sebelum dilakukan pengenceran cukup baik. Hal ini terlihat dari sperma yang bergerak progresif dan menghasilkan gerakan massa yang merupakan gerakan secara bersama-sama ke satu arah membentuk gelombang yang tebal dan tipis. Pada pengamatan ini didapat volume sperma pada satu kali pengambilan rata-rata 1,10 ml/ejakulasi, sebanding dengan volume sperma kambing normal adalah 0,10-1,50 ml/ejakulasi (Hulet dan Shelton, 1980). Volume sperma yang didapat dalam pengamatan ini juga sebanding dengan pengamatan yang dilakukan oleh Hastono et al. (1988) yang berkisar antara 1,52+0,84 ml. Adanya perbedaan ini kemungkinan disebabkan faktor teknis pada waktu penyadapan, yakni adanya sperma yang tercecer. Tabel 1 menyajikan hasil pengamatan daya tahan sperma kambing dengan berbagai larutan pengencer.

KESIMPULAN
            Kerusakan yang sering terjadi pada semen kambing selama proses pembekuan dengan proses pengenceran yang kurang tepat, terdapat beberapa bahan pengencer yang digunakan seperti pengencer triss yang ditambahkan dengan glutathione, gliserol bertujuannya untuk mengevaluasi kualitas semen beku pada kambing. Serta kualitas sperma dipengaruhi oleh suhu, Motilitas spermatozoa terus menurun seiring dengan lamanya waktu penyimpanan semen karena ketersediaan energi semakin terbatas.


DAFTAR PUSTAKA

Surya Ntal,1999. PENGARUH GLISEROL DALAM PENGENCER TRIS TERHADAP KUALITAS SEMEN BEKU KAMBING PERANAKAN ETAWAH. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner Vol. 5 No.2 Th. 2000

Fitri rizk, 2010. PENGARUH GLUTATHIONE TERHADAP KUALITAS SEMEN KAMBING BOER POST THAWINGDALAM PENGENCER YANG MENGANDUNG DIMETYLSULFOXIDE (DMSO).Universitas Brawijaya Malang. Malang.

A.Winarno, 2001. PENGARUH TINGKAT PENGENCERAN TERHADAP KUALITAS SPERMATOZOA KAMBING PE SETELAH PENYIMPANAN PADA SUHU KAMAR. Universitas Brawijaya Malang. Malang.

Siti Aminah.2000. DAYA TAHAN HIDUP SPERMATOZOA KAMBING DENGAN MENGGUNAKAN LARUTAN PENGENCER TRIS, AIR KELAPA, SKIM, DAN SUSU MURNI. Buletin Teknik Pertanian Vol. 6. Nomor 2, 2001.

Tatik Suteky,2007. Pengaruh Pengencer Kuning Telur dengan Air Kelapa dan Lama Penyimpanan terhadap Kualitas Semen Kambing Nubian. Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol. 2, No 2, Juli – Desember 2007


21 comments:

Anonymous said...

sangat menarik, nama:ikke nurjayanti peternakan 2012 saya mautanya pak apaka pada kambing kacang bisa di lakukan?

Mafika Sari said...

Wah menarik sekali. Di Bengkulu perlu diterapkan nih, kalau bisa dikembangkan di UPTD juga, Karena di UPTD rata-rata hanya ada semen sapi. Potensi yang sangat besar di dunia peternakan, namun kekurangannya IB pada kambing agak susah. Hal ini karena saat palpasi pasti terbatas dimana organ reproduksi luarnya yang kecil, tidak seperti pada sapi. Sehingga perlu adanya teknik lain untuk pemanfaatan IB pada kambing.

Mafika Sari said...

Wah menarik sekali. Di Bengkulu perlu diterapkan nih, kalau bisa dikembangkan di UPTD juga, Karena di UPTD rata-rata hanya ada semen sapi. Potensi yang sangat besar di dunia peternakan, namun kekurangannya IB pada kambing agak susah. Hal ini karena saat palpasi pasti terbatas dimana organ reproduksi luarnya yang kecil, tidak seperti pada sapi. Sehingga perlu adanya teknik lain untuk pemanfaatan IB pada kambing.

Mafika Sari said...

Wah menarik sekali. Di Bengkulu perlu diterapkan nih, kalau bisa dikembangkan di UPTD juga, Karena di UPTD rata-rata hanya ada semen sapi. Potensi yang sangat besar di dunia peternakan, namun kekurangannya IB pada kambing agak susah. Hal ini karena saat palpasi pasti terbatas dimana organ reproduksi luarnya yang kecil, tidak seperti pada sapi. Sehingga perlu adanya teknik lain untuk pemanfaatan IB pada kambing.

Rizky Saputra said...

Nama : Rizky Saputra
NPM : E1C013113
Kelas : A

Wah tentunya jenis pengencer tersebut harus bagus jika IB pada kambing ingin berhasil.
setahu saya, penegencer tersebut yaitu, kuning telur, air kelapa, dan lain-lain.
Terimakasih pak atas artikelnya sangat membantu sekali, darimana yang tidak kita tau menjadi tau. Dan wawasan menjadi luas

Bagus Dimas Setiawan said...

menarik karena, ada banyak jenis pengencer untuk dapat mempertahankan kualitas semen tersebut, karena kebanyakan, masih sedkit orang yang mengetahui penggunaan penegecer untuk kualitas sperma tersebut, semoga dengan adanya artikel ini, dapat bermanfaat dengan baik
by. Bagus Dimas Setiawan ( E1C0103061 )

Khalis Ahmad said...

Khalis Ahmad E1C013103
masih jarang sekali dibengkulu menggunakan semen kambing, yang saya ketahui hanyalah semen sapi saja. Dan saya setuju dengan pendapat saudara Rizky Saputra "yang kita tidak tau bisa menjadi tau" Super sekali...

arlis fajri said...

Sangat menarik jika kita membahas tentang inseminasi.
Dari hasil penelitian mbak asti kita bisa menyimpulkan bahwa untuk inseminasi pada ternak kambing masih sangat-sangat menjanjikan, apa lagi di daerah bengkulu belum adanya UPTD yang menyediakan serta melakukan inseminasi pada kambing.
Kita sebagai agen perubahan hendaknya lebih aktif untuk melakukan hal-hal yang baru di CZAL Jurusan peternakan Univeraitas Bengkulu.
Sebagai mahasiswa kita juga harus melatih soft skill kita dalam pelaksanaan inseminasi yang tentunya bisa dibimbing oleh dosen kita dari peternakan UNIB, agar nantinya pada saat lulus menjadi sarjana kita tidak hanya menyandang gelar S1, tetapi memiliki kemampuan yg seharusnya dimiliki oleh penyandang gelar S1.
Saya Arlis fajri
Angkatan 2014
Npm E1C014027

okta marliya said...

nama : okta marliya
npm : e1c014015

sethu saya koleksi semen kambing masih belum begitu banyak walaupun mungkin sudah ada, sedangkan di bengkulu sendiri setau saya hanya ada koleksi semen sapi di talang kering.lalu jika ada koleksi semen kambing dibengkulu akan tetapi alat yang di gunakan untuk meng-IB kambing alatnya berbeda dan juga lebih mahal dengan alat yang di gunakan pada sapi.

Yuni Panani said...

Nama ; yuni panani
Npm : e1c014021
Sangat menarik menurut saya, penerapan IB pada kambing ini masih jarang di lakukan, terkhusus di Bengkulu. Semoga kedepannya di Bengkulu segera di dirikan UPTD untuk pembibitan kambing,

Pimpi Sardianti said...

sangat menarik untuk dikembangkan sebab melakukan koleksi semen pada ternak ruminansia kecil(kambing) sangatlah jarang dan bahkan saya sendiri belum pernah melihatnya karena dibengkulu hanya terdapat UPTD pembibitan sapi. Semoga ditahun yang akan datang pembibitan ternak kambing dapat di terapkan melalui inseminasi buatan

ayu hariza said...

Nama :ayu hariza
Npm :e1c013034

Menarik untuk diterapkan karena masih jarang sekali untuk ternak kambing

Helsen Alexander said...

Nama : Helsen Alexander
Npm : E1C012036

setelah membaca jurnal ini sangat menarik untuk di terapkan khususnya di provinsi bengkulu karena IB pada kambing jarang di terapkan peternak peternak khusunya di provinsi bengkulu

hasna zahrah said...

nama : Hasna Umi Zahrah
NPM : E1C013100
Setelah membaca jurnal "PENGGUNAAN JENIS PENGENCER TERHADAP KUALITAS SEMEN BEKU PADA KAMBING" sangat menarik, hal ini dikarenakan di Provinsi Bengkulu belum banyak di terapkan oleh peternak-peternak yang ada di Bengkulu.

Anonymous said...

nama : wisnu abdi sulaiman
npm : e1c014111

pengaruh jenis pengencer terhadap kualitas semen beku, menjadi ajang mencari yang terbaik dari semua jenis pengencer tersebut sehingga akan bermanfaat bagi kualitas semenbeku yang menjadi produk utama pada ternak-ternak yang sering digunakan. seperti ternak ruminansia pada umumnya.

utami widyastuti said...

Utami wiwdyastuti
E1C013011

pengencer yang digunakan sangat berpengaruh besar terhadap mortilitas sperma yang digunakan untuk IB pada ruminansia terkhusus sapi dan kambing. dan bermanfaat sekali ide nya pak.
trima kasih

Resi Affriani said...

Resi affriani
E1C012104
Ternyata pengencer sangat berpengaruh terhadap kualitas semen beku pada ternak ruminan khususnya kambing.

Chetrisnawati Icetrisnawati said...

Ice trisnawati
E1c012070

Setelah membaca jurnal ini, pengencer sagat berpengaruh keberhasilan untuk IB

Chetrisnawati Icetrisnawati said...

Ice trisnawati
E1c012070

Setelah membaca jurnal ini, pengencer sagat berpengaruh keberhasilan untuk IB

Roni Saeful Anwar said...

Nama : Roni Saeful Anwar (E1C014067)
MK : Penyajian Ilmiah

ilmu yang sangat bermanfaat, kita bisa tau berbagai jenis pengencer untuk di pakai pada semen. ditambah IB ini dilakukan pada kambing. hal yang baru bagi kita, karna kita selslu melihat IB pada ruminan besar. Terimakasih

arlis fajri said...

Arlis fajri
E1c014027
Ilmu yang sabgat bermanfaat bagi kami,
Tetapi apakah d bengkulu sudah ada perlakuan seperti diatas, dan jika sudah apakah sudah d aplikasikan untuk kegiatan peternak yang ada d provinsi bengkulu

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...