Monday, April 9, 2012

Pemanfaatan Kulit Buah Kakao Sebagai Pakan Ternak



Oleh : Ria Puspita Sari
Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu
ABSTRAK
Luasnya lahan perkebunan kakao di Indonesia yang mencapai 1.167.000 ha mengakibatkan tingginya produksi buah kakao yang diikuti dengan tingginya limbah kakao berupa kulit buah kakao. Produksi kulit buah kakao mencapai 74 % dari produksi buah kakao. Namun tingginya produksi limbah kakao ini tidak diiringi dengan pemanfaatan secara maksimal. Salah satu alternatif yang baik untuk mengatasi hal ini adalah dengan memanfaatkan kulit buah kakao sebagai bahan pakan ternak. Kulit buah kakao berpotensi sebagai bahan pakan pengganti konsentrat karena harga yang relatif murah dan jumlah yang banyak serta kandungan protein kasar yang relatif tinggi mencapai 10 % dalam bentuk segar dan 16,60 % dalam bentuk kulit buah kakao yang difermentasi dengan Aspergillus niger. Pemberian kulit buah kakao fermentasi 10 % dalam ransum itik tidak menunjukkan pengaruh negatif terhadap konsumsi ransum. 22 % pemberian dalam ransum ayam broiler mampu meningkatkan produktivitas broiler dan pemberian pada taraf 20-40 % dari total ransum mampu menurunkan kadar kolesterol daging broiler.
Kata kunci : Kulit buah kakao, limbah kakao, kakao fermentasi, Aspergillus niger.


Pendahuluan
Indonesia memiliki areal perkebunan yang sangat luas. Luas areal perkebunan di Indonesia mencapai 16 juta hektar. Salah satunya adalah perkebunan kakao yang mencapai 1.167.000 ha (Guntoro, 2006). Selama lima tahun terakhir ini produksi kakao terus meningkat sebesar 7,14% per tahun atau 49.200 ton pada tahun 2004 (Baharuddin, 2007). Jika proporsi limbah mencapai 74 % dari produksi, maka limbah kulit buah kakao mencapai 36.408 ton per tahun. Hal ini merupakan suatu potensi yang sangat besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak.
Selain itu adanya harga bahan pakan konsentrat yang mahal menjadikan limbah kulit kakao berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak dikarenakan tingginya persentase produksi kulit kakao dengan harga yang relatif terjangkau. Bahkan di daerah-daerah penghasil buah kakao, kulit buah kakao belum dimanfaatkan, hanya menumpuk sebagai limbah.
Kulit buah kakao merupakan limbah agroindustri yang berasal dari tanaman kakao yang umumnya dikenal dengan tanaman coklat. Komposisi buah kakao terdiri dari 74% kulit, 24% biji kakao dan 2% plasenta. Berdasarkan komposisi tersebut, kulit buah kakao merupakan komposisi terbesar dari produksi buah kakao. Setelah dilakukan analisis proksimat, kakao mengandung 22% protein dan 3 – 9% lemak (Nasrullah dan Ela, 1993) sehingga memungkinkan dijadikan sebagai pakan alternatif bagi ternak. Limbah kakao bisa menghasilkan bahan konsentrat yang harganya relatif terjangkau. Pemanfaatan limbah dapat meningkatkan produktivitas (pertumbuhan, produksi susu, telur dan lain-lain) (Guntoro, 2006).
Kulit buah kakao dapat dimanfaatkan sebagai substitusi suplemen 5 – 15% dari ransum pada ternak domba dan pada ternak sapi dapat meningkatkan Pertambahan Berat Badan Harian (PBBH) 0,9 kg/hari dengan diolah terlebih dahulu. Kulit buah kakao perlu difermentasi terlebih dahulu untuk menurunkan kadar lignin. Kulit kakao dapat diolah dengan cara dilakukan fermentasi terlebuh dahulu maupun tanpa perlakukan fermentasi. Fermentor yang dapat digunakan untuk proses fermentasi dapat menggunakan Aspergillus Niger dan hasil fermentasi dapat dimanfaatkan untuk ternak ruminansia seperti ayam dan babi (Anonim, 2001).
Berdasarkan penerapan di atas, diketahui bahwa penggunaan kulit buah kakao belum banyak diaplikasikan sebagai bahan pakan alternatif bagi ternak. Dengan pertimbangan tersebut maka perlu dilakukan kajian tentang pemanfaatan kulit buah kakao sebagai bahan pakan bagi ternak.

Potensi Kulit Buah Kakao Sebagai Pakan Ternak
Produk sampingan atau limbah dari buah kakao hampir sebagain besar berupa kulit buah kakao yang mencapai 74 % dari produk utama buah kakao. Tingginya persentase kulit buah kakao ini belum maksimal dimanfaatkan. Salah satu alternatif dalam pemanfaatan kulit buah kakao adalah dengan menjadikannya sebagai bahan pakan ternak baik ternak ruminansia maupun ternak unggas. Selain kuantitas yang banyak yang mencapai 36.000 ton/tahun, harganya relatif murah dan mudah didapat serta kandungan protein kasarnya cukup tinggi yang mencapai 10 %  (Roesmanto, 1991). Jika difermentasi dengan Aspergillus niger kadar proteinnya mencapai 16,60 % (Guntoro, 2006). Berdasarkan hasil analisa proksimat (Nasrullah dan Ela, 1993) kandungan protein kakao mencapai 22%. Berdasarkan analisa kimia, limbah kakao mengandung zat-zat makanan yang dapat dimanfaatkan untuk pakan. Menurut Zainuddin et al. (1995) kulit buah kakao mengandung 16,5% protein, 16,5 MJ/kg dan 9,8% lemak dan setelah dilakukan fermentasi kandungan protein meningkat menjadi 21,9%.

Tabel 1. Kandungan Nutrisi Kulit Buah Kakao sebelum dan sesudah Fermentasi
Sumber : Guntoro 2006

            Berdasarkan tabel kandungan nutrisi di atas, persentase nutrisi kulit buah kakao non fermentasi jika dibandingkan dengan kulit buah kakao fermentasi mengalami perbedaan kandungan nutrisi terutama protein kasar dan serat kasar. Kandungan protein kasar kulit buah kakao fermentasi mengalami peningkatan dan serat kasarnya menurun. Proses fermentasi ini mampu meningkatkan kualitas nutrisi kulit buah kakao. Proses fermentasi dengan Aspergillus niger mampu meningkatkan protein kasar dari 8,11 % menjadi 16,61 % dan mampu menurunkan serat kasar dari 16,42 % menjadi 10,15 %. Penggunaan Aspergillus niger sebagai fermentor bahan pakan ternak sering dilakukan karena adanya sifat dari kapang yang mampu menghasilkan enzim-enzim yang berguna untuk menurunkan serat kasar dan meningkatkan protein kasar bahan pakan. Namun penggunaan kulit buah kakao dalam bentuk segar terbatas dikarenakan adanya zat antinutrisi berupa theobromin sebesar 0,17 – 0,20 %.
Tabel 2. Kandungan Theobromin (zat anti nutrisi) pada Bagian-Bagian Buah Kakao
Bagian Buah Kakao
Kandungan theobromin (%)
- Kulit buah
- Kulit biji
- Biji
0,17 – 0,20
1,80 – 2,10
1,90 – 2,0
Sumber : Wong, et al (1986)
Pemanfaatan Kulit Buah Kakao Sebagai Pakan Ternak
Pemberian Kulit Buah Kakao Pada Ternak Kambing
Berikut ini adalah hasil penelitian pemberian cangkang buah kakao pada ternak kambing:
No
Uraian
Rata- rata ( kg/hr/ek )
Polmas
Majene
1
Berat badan ternak kambing percobaan
• Berat badan awal
12,875 kg
16,00 kg
• Berat badan akhir
20,067 kg 
21,53 kg
• Pertambahan berat badan
0,23
0,184
2
Berat badan ternak kambing kontrol
• Berat badan awal
12,325 kg
15,11 kg
• Berat badan akhir
15,797 kg
18,117 kg
• Pertambahan berat badan
0,112
0,097
Sumber : BPTP Sulawesi Selatan 2001

Berdasarkan tabel diatas, ternak kambing yang diberi pakan kulit buah kakao menunjukkan adanya pertambahan berat badan dengan rata- rata 0,239 kg/hr/ek. Selain menunjukkan pertambahan berat badan, ternak kambing yang  mengkonsumsi kulit buah kakao memberikan tampilan performans bulu yang mengkilat dan mata berbinar, ternak terlihat lebih sehat serta aktif.
Berdasarkan hasil penelitian di desa Ongko dan Baruga Sulawesi Selatan, pemberian kulit buah kakao kepada ternak dapat berupa kulit kakao segar dan dalam bentuk tepung. Dari hasil penelitian  menunjukkan bahwa pemberian kulit buah kakao terhadap ternak kambing lebih dominan dalam bentuk segar. Hal ini disebabkan karena pemberian pakan berupa kulit buah kakao dalam bentuk segar lebih mudah didapatkan dibandingkan dalam bentuk lainnya.
Hasil penelitian menunjukkan kulit buah kakao segar yang dikeringkan dengan sinar matahari kemudian dicincang dapat langsung digunakan sebagai pakan ternak (Baharuddin, 2007). Namun, pemberian limbah kulit buah kakao secara langsung pada ternak justru akan menurunkan berat badan ternak. Hal ini dikarenakan tingginya kadar lignin dan selulosa yang terdapat pada kulit buah kakao. Oleh karena itu sebaiknya sebelum digunakan sebagai pakan ternak perlu difermentasikan terlebih dahulu untuk menurunkan kadar lignin yang sulit dicerna oleh ternak dan untuk meningkatkan nilai protein kasarnya.
Pemberian Kulit Buah Kakao pada Ternak Sapi
Pemberian limbah kakao olahan untuk pakan sapi yang digemukkan (fattening) memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan sapi. Bila pemberian limbah kakao tersebut dikombinasikan dengan pemberian ”Bio-Cas” akan menghasilkan PBB yang lebih tinggi lagi. Penggunaan limbah kakao olahan sebagai pakan penguat dapat meningkatkan keuntungan usaha dan keuntungan tersebut akan lebih tinggi bila penggunaan limbah kakao dikombinasikan dengan pemberian Bio-Cas (Guntoro, 2006). Berikut tabel pertambahan bobot badan sapi bali yang diberi pakan limbah kulit kakao :

Sumber : Guntoro,et al 2006
           
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat terjadi kenaikan berat badan awal sapi dari 261 kg mencapai 315,11 kg dengan PBB (Pertambahan Berat Badan) 636 g/ekor/hari selama mengkonsumsi kulit buah kakao olahan (fermentasi). Peningkatan bobot badan ini dikarenakan adanya kandungan gizi yang tinggi di dalam kulit buah kakao fermentasi dibandingkan hijauan sehingga pemberiannya dalam ransum sapi mampu meningkatkan jumlah zat-zat makanan yang terserap oleh tubuh ternak  (James dan David, 1998).

Pemberian Kulit Buah Kakao Pada Itik
             Hasil penelitian Warmadewi (2008) menunjukkan bahwa penggunaan 10 % pod kakao dalam ransum ternyata tidak berpengaruh terhadap jumlah ransum yang dikonsumsi oleh itik. Akan tetapi, pada level 20 % dan 30 %, penggunaan pod kakao dalam ransum secara nyata meningkatkan konsumsi ransum. Hal ini disebabkan karena meningkatnya kandungan serat kasar ransum sebagai akibat penggunaan pod kakao yang mengandung serat kasar tinggi.
Peningkatan kandungan serat kasar dalam ransum menyebabkan laju aliran ransum dalam saluran pencernaan menjadi cepat (Bidura et al., 1996) sehingga konsumsi ransum itik akan meningkat. Di samping itu, peningkatan serat kasar dalam ransum akan mengurangi efisiensi penggunaan energi metabolis (ME) yang disebabkan oleh terjadinya pengalihan sebagian fraksi energi netto untuk aktivitas energi muskuler yang dibutuhkan untuk aktivitas tambahan gizard dan untuk mendorong sisa makanan sepanjang saluran pencernaan itik (Lloyd et al., 1978).
Penggunaan pod kakao pada tingkat 20 % dan 30 % menyebabkan penurunan berat badan akhir itik. Hal ini disebabkan karena peningkatan konsumsi serat kasar sebagai akibat dari penggunaan pod kakao. Serat kasar tidak dapat dicerna oleh ternak unggas sehingga secepatnya dikeluarkan dari saluran pencernaan yang menyebabkan peluang penyerapan zat makanan menjadi berkurang (Bidura, 2007). Serat kasar yang tinggi menyebabkan penurunan kecernaan energi (Siri et al., 1992) dan penyerapan lemak (Sutardi 1997) sehingga pertambahan berat badan itik menurun. Berdasarkan penelitian Wenk dan Hadorn (l994), peningkatan kandungan serat kasar ransum dari 3,2 % menjadi 9,1 % dan 11,2 % secara nyata menurunkan berat badan dan karkas ayam. Hal ini terbukti dari hasil penelitian Puspani (2005) yang mendapatkan bahwa peningkatan serat kasar ransum menyebabkan terjadinya penurunan koefisien cerna bahan kering dan koefisien cerna bahan organik ransum sehingga penyerapan nutrien ransum menjadi rendah.
Penggunaan 10 % pod kakao dalam ransum tidak berpengaruh secara nyata terhadap penampilan itik Bali jantan umur 2 – 8 minggu. Akan tetapi, tingkat penggunaan 20 % dan 30 % pod kakao dalam ransum nyata menurunkan penampilan itik Bali jantan umur 2 – 8 minggu.

Pemberian Kulit Buah Kakao Pada Ayam
Berdasarkan penelitian Guntoro dan Rai Yasa (2005), penggunaan limbah kakao hasil fermentasi pada ayam Buras petelur pada taraf 22% tidak menyebabkan penurunan produktivitas telur tetapi memberikan peningkatan produktivitas. Penggunaan pada ayam pedaging hingga 5% tidak berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan, namun penggunaan di atas level tersebut akan menyebabkan turunnya laju pertumbuhan ayam (Zainuddin et al., 1995). Hal ini kemungkinan disebabkan karena adanya theobromin yakni zat antinutrisi pada kulit buah kakao yang dapat menghambat pencernaan (Zainuddin et al., 1995).    
Penggunaan pod-kakao yang disuplementasi probiotik dan enzim dalam ransum mampu menurunkan kadar kolesterol broiler. Menurut Siri et al.(1992), kecernaan energi menurun dengan semakin meningkatnya kandungan serat kasar ransum. Kandungan serat kasar yang tinggi dalam ransum ternyata dapat menurunkan kadar kolesterol dan perlemakan dalam tubuh ternak ayam (Bidura et al.,1996).  Penurunan kadar kolesterol tersebut disebabkan karena fraksi serat kasar yaitu lignin mampu mengikat kolesterol ransum sebesar 29,2% (Linder, 1985). Serat kasar mampu menurunkan kolesterol dengan jalan mengisi ventrikulus dan menurunkan lemak sebesar 25g/100g daging ayam (USDA, 1997). Sejalan dengan Suwidjayana dan Bidura (1999) bahwa suplementasi ragi tape dalam ransum dapat menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida daging dada itik. Syamsuhaidi (1997) melaporkan, bahwa semakin tinggi pemberian duckweed (20-40%) sebagai sumber serat pada broiler umur 3-8 minggu cenderung menghasilkan kolesterol daging yang semakin rendah. Terjadinya penurunan kolesterol, dikarenakan adanya kemampuan serat kasar untuk memperbaiki ekosistem mikroflora saluran pencernaan. Penambahan 0,20% enzim optizyme atau ragi dalam ransum yang mengandung pod kakao dapat menurunkan akumulasi lemak tubuh dan kadar kolesterol daging broiler umur enam minggu.

Kesimpulan
·         Kulit buah kakao dapat dijadikan sebagai bahan pakan ternak ruminansia maupun ternak unggas dengan pemberian dalam bentuk segar maupun dalam bentuk kulit buah kakao fermentasi.
·         Pemberian dalam bentuk segar sangat terbatas dikarenakan adanya zat antinutrisi berupa theobromin yang dapat menyebabkan penurunan produktivitas pada ternak.
·         Kulit buah kakao yang difermentasi dengan Aspergillus niger mampu meningkatkan PK menjadi 16,60 % dan menurunkan SK menjadi 10,15 %. Pemberian kulit buah kakao fermentasi kepada ternak mampu meningkatkan produksi dan produktivitas ternak ruminansia dan unggas.
·         Kulit buah kakao yang diberikan di dalam ransum ayam broiler mampu menurunkan kadar kolesterol daging ayam broiler.


Ucapan Terima Kasih
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada bapak Prof. Dr. Ir. Urip Santoso, S. Ikom., M. Sc selaku dosen pembimbing mata kuliah Penyajian Ilmiah yang memberikan bimbingan dan pengarahan sehingga karya tulis ilmiah ini dapat diselesaikan dengan baik.

Daftar Pustaka
Anggorodi. 1994. Ilmu Makanan Ternak Unggas. Universitas Indonesia, Jakarta.
Anonim, 2001. Sosialisasi dan Diseminasi Teknologi Pengkajian Ternak dengan Pemanfaatan
Limbah Kakao. Instalasi Pengkajian Penerapan Teknologi Pertanian (IPPTP). Makassar.

Anonim, 2001. Pemanfaatan Kulit Buah Kakao Sebagai Pakan Kambing. Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan. Lembar Informasi Pertanian (Liptan).

Baharuddin, W. 2007. Mengelola Kulit Buah Kakao Menjadi Bahan Pakan Ternak.

Bidura, I. G. N. G. 2007. Aplikasi Produk Bioteknologi Pakan Ternak. UPT Penerbit
Uiniversitas Udayana, Denpasar.

Bidura IGNG, Udayana IDGA, Suasta IM, Yadnya TGB. 1996. Pengaruh Tingkat Serat Kasar
Ransum Terhadap Produksi dan Kadar Kolesterol Telur Ayam. Denpasar. Laporan Penelitian Fakultas Peternakan Unud.

Guntoro, S., Sriyanto, N. Suyasa dan M. Rai Yasa. 2006. Pengaruh Pemberian Limbah Kakao
Olahan terhadap Pertumbuhan Sapi Bali (Feeding of Processed Cacao by-Product to Growing Bali Cattle). Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali, Ngurahrai, Denpasar.

Guntoro, S. dan I-M. Rai Yasa. 2005. Penggunaan Limbah Kakao Terfermentasi Untuk Pakan
Ayam Buras Petelur. Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor. J. Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Juli 2005. 8(2).

James, Blakely and David H. Bade. 1998. The Science of Animal Husbandry. Fourth
Edition. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Linder MC. 1985. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme Ed. II. (Terjemahan: Parakkasi, A). Jakarta:
Universitas Indonesia, Press.

Lloyd, L.E., B.E. McDonald and E.W. Crampton. 1978. The Carbohidrates and Their
Metabolism. In : Fundamental of Nutrion. 2 nd Ed. W.H. Freeman and Co., San Francisco.

Nasrullah dan A. Ella, 1993. Limbah Pertanian dan Prospeknya Sebagai Sumber Pakan Ternak di
Sulawesi Selatan. Makalah. Ujung Pandang.

Puspani, E. 2005. Penggunaan Pollard Dalam Ransum yang Disuplementasi Ragi tape terhadap                Penampilan dan Penurunan Kadar N-Amonia Ekskreta Broiler. Tesis, Program
pascasarjana, Universitas Udayana, Denpasar.

Siri S, Tobioka H, Tasaki J. 1992. Effects of Dietary Cellulose Level on Nutrient Utilization in
Chickens. AJAS 5(4): 741-746.

Sutardi T. 1997. Peluang dan Tantangan Pengembangan Ilmu-Ilmu Nutrisi Ternak.  Orasi
 Ilmiah, Guru Besar Tetap Ilmu Nutrisi Fapet IPB. Bogor.

Suwidjayana IN, Bidura IGNG. 1999. Khasiat Ragi Tape dan Effective Microorganisme
Menurunkan Kolesterol dan Lemak Karkas Itik. Denpasar. Laporan Penelitian Dosen Muda, Ditbinlitmas, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana. Jurnal Veteriner Desember 2010 Vol. 12 No. 1: 69-76 76

Syamsuhaidi. 1997. Penggunaan Duckweed (Family Lemnaccae) Sebagai Pakan Serat Sumber
Protein dalam Ransum Ayam Pedaging. Disertasi. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

United State Department of Agriculture (USDA) 1997. Washington DC: Poultry Grading
Manual.

Warmadewi, A, Putra Wibawa, I.G.N.G Bidura. 2008. Pengaruh Tingkat Penggunaan Pod Kakao
Dalam Ransum terhadap Penampilan Itik Bali Umur 2-8 Minggu. Program Studi Peternakan, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana, Denpasar.

Wenk, C., and R. Hadorn. 1994. The Effect of Different Sources of Dietary Fibre on Energy
Utilization in Broiler. P. 195 – 202. In. Energy Metabolism of Farm Animal. Proc. Of the 13th Symp. Mojocar, Spain 18 – 24 Sept. 1994. EAAP Publication No. 76, Spain.

Wong HK, Osman AH, Idris MSH.1986. Utilization of Cocoa by-Product as Feed. In Ruminant
Feeding Systems Utilizing Fibrous Agricultural residues. Dixon RM (Ed). Los Banos, Philippines. Pp 99-103.

Zainuddin, D., Sutikno, T. Haryadi dan Hernomoadi. 1995. Kecernaan dan Fermentasi Limbah
Kakao serta Pemanfaatannya pada Ternak Ayam. Kumpulan Hasil-Hasil Penelitian APBN TA 94/95. Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Bogor.

13 comments:

Lilis said...

Untuk melengkapi informasi di atas bisa dilihat pada site :
http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/1030/1/30407758.pdf

Redo Putra said...

Artikel nya bagus, ternayata limbah kulit kakau sangat baik di jadikan sebagai pakan ternak baik unggas maupun ternak ruminansia,di daerah pedesaan limbah ini di buang begitu saja,,mungkin ini menjadi tugas kita sebagai orang peternakan mengajak masyarakt untuk memanfaatkan limbah kulit kakau, untuk menghindari penumukan limbah.

putri anggraini said...

menurut saya tofik yang diangkat dalam artikel ini sangat menarik, di dalam artikel saya mebaca kalimat 'ternak kambing yang mengkonsumsi kulit buah kakao memberikan tampilan performans bulu yang mengkilat dan mata berbinar' kandungan apa yang terdapat pada kulit kakao yang dapat menyebabkan terjadinya hal ini?
terima kasih

LIVESTOCK said...

Salah satu senyawa yang bisa bikin bulu dan kulit mengkilat itu khitin, Puput.

rahmat mardiansyah said...

dengan mengkosumsi buah kakao dapat membuat ternak terutama kambing dapat membuat bulu yang mengkilat,dan mata berbinar,yang saya tanyakan apakah domba dan kuda bisa bulu nya mengkilat dana mata nya berbinar?

Dian Septiyani said...

dian septiyani ( e1c011079)

artikel ini menarik sekali, ternyata yang selama ini hanya numpuk menjadi smpah dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. dapat membuat ferformans bulu kambing mengkilat dan mata berbinar.

zakiah said...

bagus skali

Noviandi Erlangga (E1C011019) said...

Artikel yg menrik,,penggunaan limbah kulit kakao ternyta juga bisa dimnfatkan sbg paka ternak, kulit kakao ini bisa diberikan dlm kdaan segar ataupun yg sudh difermentasi,menrut sya pengolhn dg fermentsi ini ckup efektif akan tetpi msyrkt sndri kurng mengthui tntng proses fermntsi tsb, msyrkt lebih cendrung memberikanya dlm keadaan segar, akan tetpi justru pemberian kulit yg dlm keadaan segr ini dapat menyebabkan penurunan produktivitas pada ternak karena adanya zat antinutrisi berupa theobromin..
perlunya sosialisai dan penyuluhn mengenai nutirsi dan pengolahan kpd masyrakt yg awam umumnya..
terimakasih..

DESRI DINA(E1C011067) said...

dengan kita mengetahui kegunaan kulit kakao, kita dapat memanfaatkannya sebagai pakan ternak jadi di kebun kakao petani tidak akan numpuk sampah kulit kakao lagi.

DESRI DINA(E1C011067) said...

setelah kita membaca artikel ini kita dapat memberi tau para petani agar memanfaatkan kulit kakao sebagai pakan ternak tapi dalam pemberiannya sudah di fermentasi terlebih dahulu.

Radiyostri said...

Radiyostri (E1C011071)
.
Artikel yang sangat bagus dan bermanfaat.
Namun pada umumnya limbah ini masih dibuang belum dimanfaatkan sebagai pakan, karena kebanyakan rakyat Indonesia belum mengetahuinya. Padahal Kulit buah kakao sangat besar manfaatnya. Kulit buah kakao dapat dijadikan sebagai bahan pakan ternak ruminansia maupun ternak unggas dengan pemberian dalam bentuk segar maupun dalam bentuk kulit buah kakao fermentasi.

brilian putra pamungkas said...

(E1C011087)
jika kulit buah kakao sangat bermanfaat, seharusnya para petani lebih menyadari manfaat nya dan segera menerapkan pemanfaatannya agar mendapatkan hasil yang leebih optimal

Anonymous said...

denik pusnawati
e1c010026
artikelnya menarik,bahwa pemanfaatan kulit buah kakao bisa di jdikan pakan ternak .berapa persen pemberian kulit kakao yg bagus untuk ternak pak???

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...