Monday, October 17, 2011

PENGOLAHAN BUAH KELAPA SAWIT SEBAGAI BAHAN DASAR PAKAN UNTUK TERNAK SAPI


Oleh: YUDHAPRAWIRA
Abstrak
Pergeseran fungsi lahan pertanian menjadi non-pertanian merupakan salah satu penyebab rendahnya laju peningkatan populasi ternak, khususnya ternak ruminansia. Oleh karena itu pendekatan yang perlu ditempuh adalah melakukan integrasi pemanfaatan lahan tanaman tahunan, misalnya diversifikasi usaha perkebunan dengan peternakan, khususnya ternak ruminansia. Pemanfaatan pakan alternative yang dapat menjadi pakan hijauan andalan dimasa mendatang perlu ditingkatkan dengan mengoptimalkan fungsi lahan perkebunan yang ada. Dengan tata laksana yang baik dan benar terhadap pemanfaatan produk samping tanaman kelapa sawit akan sangat membantu para pekebun dalam penyediaan pakan hijauan. Pelepah kelapa sawit yang belum dimanfaatkan seoptimal mungkin merupakan salah satu bahan pakan hijauan alternative yang perlu dikerjakan, disamping produk samping hasil pengolahan minyak sawit, seperti Lumpur sawit, serat perasan,  bungkil dan tandan kosong. Batang kelapa sawit berpotensi sebagai pakan dasar untuk menggantikan hijauan sebagian atau seluruhnya. Dengan komposisi 30% batang sawit dan 70% konsentrat diperoleh pertambahan bobot badan sebesar 0,66-0,72 kg pada sapi, sebanding dengan penggunaan jerami (0,71 kg). Akan tetapi efisiensi penggunaan pakan lebih pada penggunaan batang sawit silase (FCR=8,84) dibanding dengan jerami (FCR=10,73).
Biomassa yang dapat dihasilkan dari satu luasan tanaman kelapa sawit dapat mencapai 10 ton per hektar per tahun. Jumlah tersebut sangat potensial untuk dijadikan pakan komplit berbasis produk samping kelapa sawit. Sebagai kosekuensinya tingkat produktivitas ternak ruminansia, khususnya sapi dapat ditingkatkan.
Kata kunci : Perkebunan, pelepah kelapa sawit, pakan hijauan, sapi potong.

 PENDAHULUAN
Untuk memenuhi permintaan daging Nasional yang meningkat dari tahun ke tahun, Pemerintah cq. Pihak swasta mendatangkan daging atau ternak bakalan untuk dipotong dari Negara Produsen. Ternak sapi yang semula merupakan pemasok daging Nasional tertinggi (53%) berangsur-angsur turun sumbangannya menjadi 24% pada akhir PJP I. Disisi lain dilaporkan bahwa laju pertumbuhanpopulasi sapi cenderung lambat, dan hal tersebut merupakan salah satu penyebabnya dan mempunyai kaitan erat dengan penyusutan lahan pertanian yang beralih fungsi ke non pertanian. Untuk mengejar ketertinggalan pengadaan daging Nasional, maka upaya meningkatkan produksi sapi potong Nasional melalui pendekatan kualitatif (produktifitas per unit ternak) dan kuantitatif (peningkatan populasi) harus dilakukan. Pendekatan kualitatif sedang dilakukan melalui perbaikan mutu genetik sapi lokal dengan mempergunakan teknik inseminasi buatan (IB). Perbaikan potensi genetic telah dilakukan dan sedang bejalan dengan menggunakan teknik inseminasi buatan (IB).
Namun demikian, untuk mencapai asil yang diharapkan, yaitu tingkat produksi yang tinggi, maka perbaikan mutu genetic sapi, terutama sapi potong lokal harus diimbangi dengan perbaikan pakan dan pola pemberian pakan yang memenuhi kebutuhan ternak (JALALUDIN et al., 1991b). ZARATE (1996) melaporkan bahwa program pemuliaan ternak akan sangat tergantung pada aspek tata laksana dan ketersediaan pakan yang berkelanjutan. Ditambahkan bahwa keberhasilan perbaikan performans ruminansia besar membutuhkan kondisi yang stabil dalam artian tatalaksana yang memadai, ketersediaan pakan yang berkelanjutan sepanjang tahun dan kesehatan lingkungan. Pola dan pemberian pakan yang belum sesuai dengan kebutuhan ternak dilaporkan merupakan factor utama rendahnya tingkat produktivitas ternak didaerah tropis (CHEN et al., 1990) dengan perkataan lain, problem utama upaya peningkatan produksi ternak ruminansia adalah sulitnya penyediaan pakan yang berkesinambungan baik dalam artian jumlah yang cukup dan kualitas yang baik, sebagai yang dikatakan CHEN et al., (1990).
Dilain sisi, pemanfaatan lahan untuk tujuan padang pengembalaan ternak makin tersisih oleh pemanfaatan lahan untuk pertanian, termasuk perkebunan. Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah peningkatan penyediaan pakan, baik melalui integrasi dan difersivikasi lahan pertanian, termasuk perkebunan. Dengan demikian, efisiensi pemanfaatan lahan dapat ditingkatkan sekaligus dapat memberi nilai tambah pada petani.
Minyak sawit merupakan minyak nabati yang cukup penting setelah minyak nabati yang berasal dari biji kedelai, dan menyumbangkan lebih dari 27% pengadaan minyak nabati dunia (FOLD, 2003). Selanjutnya dikatakan bahwa Indonesia menempati urutan kedua besar penghasil minyak kelapa setelah Malaysia. Luas tanam kelapa sawit di Indonesia dilaporkan mencapai 2.014.000 ha pada tahun 2000, dengan laju pertumbuhan setiap tahunnya mencapai 12,6% (LIWANG, 2003), diperkirakan pada masa-masa mendatang, Malaysia akan berada pada posisi stagnant sebagai akibat ketersediaan dan keterbatasan lahan yang dimiliki serta diperberat dengan ketersediaan tenaga kerja yang terbatas dan biaya kerja yang cukup tinggi. Sementara di Indonesia, (bila “kondisi stabil”) diperkirakan akan terus mengembangkan luas tanam kelapa sawit, khususnya perkebunan swasta dan perorangan. Problem utama perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah terbatasnya mesin atau pabrik pengelolaan produk tanam kelapa sawit berskala kecil sampai menengah, khususnya pada perkebunan swasta dan perorangan (LIWANG, 2003). Sebagai konsekuensi makin meningkatnya luas tanam kelapa sawit, adalah maikn meningkatnya pula produk samping hasil oleh kelapa sawit yang sedikit banyak akan menimbulkan problem baru dan perlu diantisipasi. Salah satu cara pemecahannya adalah dengan memanfaatkan ternak (CORLEY, 2003), khususnya ternak Ruminansia sebagai pabrik hidup yang dapat memenfaatkan produk samping tersebut sebagai pakan, sekaligus dapat dijadikan mesin hidup untuk dapat enyediakan pupuk organik.
POTENSI DAN NILAI NUTRISI PRODUK SAMPING TANAMAN DAN PENGOLAHAN BUAH KELAPA SAWIT
Di Indonesia, tanaman kelapa sawit (Elaeis guinensis Jacq) telah dikenal sejak tahun 1848 (pertama kali ditanam dikebun Raya Bogor) (CORLEY, 2003), sementara pengembangannya sebagai penghasil minyak kelapa sawit yang sangat dibutuhkan umat manusia dimulai pada tahun 1911. Keseimbangan asam lemak jenuh dan tidak jenuh  dalam minyak kelapa  sawit memperkuat posisi minyak sawit sebagai pangan umat manusia.
Demikian penting arti minyak nabati asal kelapa sawit, menyebabkan luas wilayah pengembangannya hingga saat ini sangat pesat. Produk samping tanaman kelapa sawit yang tersedia dalam jumlah yang banyak dan belum dimanfaatkan secara optimal adalah pelepa daun, lumpur sawit dan bungkil kelapa sawit (MOHAMED et al., 1986), khususnya sebagai bahan dasar ransom ternak Ruminansia (JALALUDIN, et al., 1991b). Dengan pola integrasi ataupun diversifikasi tanaman dan ternak (khususnya ternak Ruminansia) diharapkan dapat merupakan bagian integral dari usha perkebunan, sebagai yang disarankan oleh ABUHASSAN et al., (1991). Oleh karena itu, pemanfaatan produk samping tanaman kelapa sawit (pelepa) pada wilayah perkebunan sebagai basis pengadaan pakan ternak diharapkan banyak memberikan nilai tambah, baik secara langsung maupun tidak langsung (STUR, 1990).
Hal yang sama juga dilaporkan oleh ZAINUDIN dan ZAHARI (1992), bahwa integrasi usaha peternakan dibawah tanaman perkebunan memberikan dampak yang sangat besar artinya.
Ketersediaan lahan yang terbatas untuk sub-sektor peternakan, khususnya komoditas sapi, dan disertai dengan terus meningkatnya permintaan akan protein hewani, memaksa/mendorong para pelaku produksi peternakan unruk dapat memenfaatkan segala kesempatan untuk tetap berupaya meningkatkan produktivitas peternakan. Salah satu peluang yang harus dimanfaatkan secara optimal adalah melakukan pengembangan peternakan melalui pola integrasi ternak dengan perkebunan seperti perkebunan kelapa sawit.
Areal dibawah tanaman kelapa sawit kurang dapat ditumbuhi vegetasi alam karena rendahnya intensitas sinar matahari sebagai akibat naungan daun dari tanaman kelapa sawit yang cukup padat, khususnya tanaman yang telah berproduksi. Oleh karena itu, ketersediaan pakan hijuauan, berupa vegetasi alam yang dapat tumbuh diareal perkebunan kelapa sawit sangat terbatas dan tidak cukup untuk mendukung penyediaan pakan hijauan. Namun demikian, produk samping yang dihasilkan baik yang berasal dari tanaman (ISHIDA dan HASSAN, 1997) maupun pengelolaan kelapa sawit (WANZAHARI et al. 2003) berpotensi untuk dapat dioptimalkan sebagai bahan pakan ternak, khususnya ternak Ruminansia. Produk samping dimaksud adalah pelepa, daun, batang (KAWAMOTO et al., 2001), janjangan kosong, serat perasan, Lumpur sawit atau solid dan bungkil kelapa sawit.
Produk Samping Tanaman Kelapa Sawit
Pola tanaman kelapa sawit dengan jarak tanam antar pohon 9 x 9 m dapat menampung143 tanaman setiap hektar. Namun pada kenyataan dilapangan menunjukan bahwa jumlah pohon kelapa sawit untuk setiap hektar areal perkebunan hanya dapat mencapai 130 pohon. Hal ini dimungkinkan karena kondisi wilayah yang berbede-beda. Hasil pengamatan yang dilakukan di PT. Agricinal menunjukan bahwa untuk setiap pohon dapat menghasilkan 22 pelepah per tahun dengan rataan bobot pelepah per batang mencapai 2,2 kg(setelah dikupas dan siap disajikan).                                                          .
Tabel 1. Produk samping tanaman dan olahan kelapa sawit untuk setiap hektar
Biomasa
Segar (kg)
Bahan Kering (%)
BahanKering (kg)
Daun tanpa lidi
Pelepah
Tandan kosong
Serat perasan
Lumpur sawit, solid
Bungkilkelapa sawit
1.430
6,292
3.680
2,880
4.704
560
Total biomasa
46,18
26,07
92,1
93,11
24,07
91,83
658
1.640
3.386
2.681
1.132
514
10.011
Asumsi  :  1 ha, 130 pohon
1 pohon dapat menyediakan sejumlah 22 pelepah per tahun
1 pelepah, bobot 2,2 kg (hanya 1/3 bagian yang dimanfaatkan)
Bobot daun per pelepah 0,5 kg
Tandan ksong 23% dari TBS
Prod minyak sawit 4 ton per ha per tahun (Liwang, 2003)
1000 kg TBS menghasilkan 250 kg minyak sawit, 294 kg Lumpur sawit, 180 kg serat perasan dan 35 kg bungkil kelapa sawit (Jalaludin et al., 1991a)
Produk samping pengolahan kelapa sawit
Proses ekstrak buah sawit akan menghasilkan produk utama dalam bentuk minyak sawit (palm oil), sementara produk samping yang diperoleh berbentuk tandan kosong, serat perasan, Lumpur sawit/solid dan bungkil kelapa sawit.                         
 Liwang (erupa minyak sawit 2003) melaporkan bahwa produksi minyak sawit (palm oil) yang dapat dihasilkan untuk setiap hektar adalah 4 ton per tahun.
Jumlah tersebut dapat dihasilkan dari lebih kurang 16 ton tandan buah segar (Jalaludin et al., 1991a). Selanjutnya dikatakan bahwa  dari setap 1000 kg tandan buah segar dapat diperoleh produk utama berupa minyak sawit sejumlah 250 kg dan produk samping sejulah294 kg lumpur sawit, 35 kg bungkil kelapa sawit dan 180 kg serat perasan. Jumlah tersebut dapat disetarakan dengan 1.223 kg Lumpur sawit, 509 kg bungkil kelapa sawit dan 2.678 kg serat  perasan dan 3.386 kg tandan kosonguntuk setiap hektarper tahun. Atas dasar nilai tersebut maka dapat diketahui bahwa produk samping pengolahan buah kelapa sawityang dapat dihasilkan dari perkebunan kelapa sawit yang ada d Indonesia mencapai 2.463 metrik ton Lumpur sawit, 1.026 metrik ton bungkil kelapa sawit, 5.394 metrik ton serat perasan dan 6.818 metrik ton tandan kosong.
Ketersediaan teknologi pengolahan produk samping
Untuk dapat dimanfaatkan secara optimal, maka produk samping tanaman dan pengolahan buah kelapa sawit sebaiknya diberi perlakuan. Tujuan perlakuan tersebut adalah untuk meningkatkan nilai nutrient produk samping tersebut. Hal tersebut dapat dilakukan secara fisik (cacah, giling, tekanan uap), kimia (NaOH, Urea), biologis (fermentasi) ataupun kombinasi daripadanya. Perlakuan secara kimia dengan menggunakan 8% sodium hidroxida(NaOH), dilaporkan dapat meningkatkan kecernaan bahan kering serat perasan dari 43,2 menjadi 58% (Jalaludien  et al., 1991b). Selanjutnya juga dilaporkan bahwa penggunaannya, baik dengan sodium hidroxida hingga perlakuan NaOH dengan tekanan uap menurunkan tingkat kecernaan bahan kering serat perasan dan batang kelapa sawit (oil palm trunk).
Tidak diperoleh alasan yang cukup, mengapa perlakuan tersebut dapat menurunkan tingkat kecernaan bahan kering serat perasan. Upaya mempertahankan dan meningkatkan kualitas nutrient pelepah kelapa sawit melalui proses amoniasi, pemberian molasses, perlakuan alkali, pembuatan silase, tekanan uap tinggi, peletisasi dan secara enzimatis telah dilakukan oleh peneliti di Malaysia (Wan Zahari et al.,2003). Selanjutnya dilaporkan bahwa dengan pendekatan-pendekatan tersebut kandungan nutrient pelepah dapat ditingkatkan.
Lumpur sawit diketahui merupakan hasil ikutan proses ekstraksi  minyak sawit yang mengandung air cukup tinggi. Produk samping ini diketahui menimbulkan masalah lingkungan, sehingga upaya untuk mengatasinya  telah dilakukan dengan mengurangi kandungan air lumpur sawit untuk selanjutnya dapat dipergunakan sebagai bahan pakan ternak, khususnya ternak ruminansia (Webb et al., 1976). Produk hasil pemisahan Lumpur sawit dari sebagian besar kandungan air nya dikenal dengan solid. Solid diketahui mengandung protein kasar sejumlah 14% (dasar bahan kering).
Usaha untuk meningkatkan kandungan nutrient solid telah pula dilakukan dengan pendekatan fermentasi secara aerobic dan hasilnya dilaporkan meningkatkan kandungan protein kasar menjadi 43,4% dan energi menjadi 2,34 kkal EM/g (dikutip oleh Yeong et al., 1983). Hasil fermentasi dengan menggunakan Aspergillus niger, telah pula dilakukan oleh para peneliti Balai Penelitian Ternak, Ciawi-Bogor, dan dilaporkan bahwa kandungan protein kasar hasil fermentasi tersebut dapat meningkatkan kandungan protein kasar dari 12,21 menjadi 24,5% (dasar bahan kering), sementara kandungan energi termetabolis meningkat dari 1,6 kkal per gram menjadi 1,7 kkal per gram (Sinurat et al., 1998). Selanjutnya dikatakan, teknologi fermentasi tersebut masih membutuhkan penyempurnaan untuk terus dapat meningkatkan nilai nutrient produk hasil fermentasi.
Bungkil kelapa sawit merupakan produk samping yang mengandung nutrient dan nilai biologis yang tinggi. Oleh karena itu, pemanfaatannya tidak diragukan. Tandan kosong dan serat perasan merupakan produk samping yang berpotensi, meskipun belum bamyak dimanfaatkan.                                                                          
  Hal ini disebabkan kedua produk samping tanaman kelapa sawit mengandung serat kasar yang cukup tinggi. Upaya peningkatan nilai nutrient produk samping tersebut belum banyak dilakukan, khususnya sebagai pakan ruminansia. Hingga saat ini kedua produk tersebut masih dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kompos untuk dikonsumsi pihak perkebunan.

 KESIMPULAN
Produk samping perkebunan kelapa sawit berpotensi untuk dapat dijadikan bahan pakan. Ketersediaan produk samping tersebut berpotensi dan dengan upaya mengoptimalkan pemanfaatannya, diyakini bahwa pemeliharaan sapi diperkebunan kelapa sawit dapat dilakukan melalui pola pemeliharaan intensif (dikandangkan). Untuk mendapatkan hasil yang optimal, monitoring dan evaluasi penampilan yang mendapat pakan berbasis produk samping kelapa sawit perlu terus dilakukan, utamanya pada berbagai status fisiologis yang berbeda.
UCAPAN TERIMA KASIH
Pada kesempatan ini saya sebagai penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Prof. Urip Santoso, S.IKom., MSc., Ph.D. yang telah banyak memberikan arahan dan bimbingan  dalam pengkayaan materi kepada penulis, sehingga penyusunan Karya Ilmiah ini dapat diselesaikan, serta saudara Jemi Sangsang yang telah banyak membantu ,sehingga terselesaikan karya ilmiah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Hassan, O. S. Ismael, A.R. Mohd Jaafar, D. Nakanishi, N. Dahlan and S.H. Ong. 1991. Experience and challenges in processing, treatments, storage and feeding or oil palm trunks based diets for beef production. Proc. Sem. On Oil Palm Trunks and Others Palmwood Utilization, MSAP. Kuala Lumpur, Malaysia, 231-245.
Abu Hassan O. and M. Ishida. 1991. Efect of water, mallases and urea addition on oil palm frond silage quality. Fermentation, characteristics and palatability to Kedah-Kelantan bulls. Proc. 3 rd Int. Symp. On The Nutrition of Herbivores. Wan Zahari M., Z. A. Tajuddin, N. Abdullah and H.K. Wong (Eds). Penang. Malaysia. P. 94.
Abu Hassan O. and M. Ishida. 1992. Status of Utilization of selected fibrous crop residues and animal performance with special emphasis on processing of oil palm frond (OPF) for ruminant feed in Malaysia. Trop.Agric. Res. Series 24 : 135-143.
Aritonang, D. 1984. Pengaruh penggunaan bungkil inti sawit dalam ransom babi yang sedang tumbuh. Disertasi. Fak. Pasca Sarjana IPB. Bogor.
Chen, C.P. 1990. Management of Forage for Animal Production under Tree Crops. In: Proc. Integrated Tree Croping and Small ruminat Production system. Iniques L.C. and M.D. Sanches (Eds). SR-CRSP. Univ. California Davis, USA. Pp. 10-23.
Corley, R.H.U. 2003. Oil Palm: A major Tropical Crop. Burotrop 19: 5-7.
Fold, N. 2003. Oil Palm: Market and Trade. Burotrop. 19: 11-13.
Ishida, M. and O. A. Hassan. 1997. Utilization of oil palm frond as ccattle feed. JARQ 31: 41-47.
Jalaludin, S., Y.W. Ho, N. Abdullah and H. Kudo. 1991a. Strategis for Animal Improvement In Shoutheast Asia. In: Utilization of feed Resources in Relation to Utilization and Physiology of Ruminants in the Tropics. Trop Agric. Res. Series 25 pp. 67-76.
Jalaludin, S., Z.A. Jelan, N. Abdullah and Y.W. Ho. 1991b. Recent Development in the Oil Palm By Product Based Ruminant Feeding System. MSAP, Penang, Malaysia pp. 35-44.
Kawamoto, H., M Wan Zahari, N.I. S. Mohd Ali, Y Ismail and S. Oshio. 2001. Palatability, digestibility and voluntary intake of Processed Oil palm fronds in cattle. JARQ. 35 (3); 195-200.
Liwang, T. 2003. Palm Oil mill effluent management. Burutrop Bull., 19: 38.
Mohamad, H., H.A. Halim and T.M. Ahmad. 1986. Availability and potential of oil palm trunks and fronds up to year 2000. Palm Oil Research Institute of  Malaysia (PORIM) 20: 1-17.
Noel., J.M. Processing and by-product. Burotrop Bull. 19:8.
Sasaki, M. 1992. The Advancement of live stock Production with special Reference to feed Resources Development in Tropics-Current Situation and future Prospects.    In :Utilization of feed Resources in Relation to Utilization and Physiologi of Ruminant in the Tropic. Trop. Agric. Res. Series 25: 67-76.
Sinurat A.P., T. Purwadaria, J. Rosida, H. Surachman, H. Hamid dan I.P. Kompiang. 1998. Pengaruh suhu ruang fermentasi dan kadar air substrat terhadap nilai gizi produk fermentasi Lumpur sawit. JITV 3: 225-229.
Stur, W.W. 1990. Methodology for Establishing Selection Criteria for Forage Species valuation. In: Proc. Integrated Tree Croping and Small Ruminat Production System. INIQUES L.C. and M.D. Sanches (Eds). SR-CRSP. Univ. California Davis, US. Pp.3-9

27 comments:

hermypuspitasari said...

Menurut saya,setelah membaca artikel ini, baru saya tahu bahwa buah kelapa sawit berpotensi baik untuk dijadikan bahan pakan pada ternak yang selama ini saya hanya tahu lumpur ini sawit, pelepah daun sawit. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, pengamatan dan evaluasi performance yang mendapat pakan yang diperllukan oleh ternak terutama sapi

RISKA KURNIA/E1C010024 said...

dari artikel ini, saya jadi tahu bahwa buah kelapa sawit bisa digunakan sebagai pakan ternak, apakah tidak ada peningkatan lemak didalam tubuh ternak jika mengkonsumsi buah kelapa sawit,yang saya ketahui kelapa sawit adalah sebagai bahan pembuat minyak.

erina nuraini said...

setelah membaca artikel ini saya baru mengetahui bahwa buah sawit dapat juga menjadi pakan ternak, karena setahu saya buah sawit itu hanya untuk membuat minyak sawit saja, dan daunnya yang untuk pakan ternak.

DIAH KASMIRAH said...

Dari artikel yang saya baca, ternyata tidak hanya pelepah dan daun sawit saja yang dapat dijadikan sebagai pakan ternak tetapi buahnya pun juga bisa dimanfaatkan untuk pakan. apakah dalam pemberian level yang cukup tinggi dapat mengakibatkan efek samping terhadap ternak dan apa tidak ada pengaruh terhadap kerugian ekonomi jika sawit tersebut dijadikan sebagai bahaan dasar untuk pakan ternak???

duseko putra said...

setelah dilihat dari artikel yang dibuat, buah kelapa sawit sangat bagus untuk ternak ruminansia karena memiliki nutrisi yang cukup tinggi.

dadang m faris said...

dadang m faris (npm E1c0090350

Diantara biji kelapa sawit dengan pelapa sawit manahkah yang banyak nutrisinya???

karina said...

Ternyata sawit banyak sekali yah manfaatnya,selain dapat dimanfaatkan menjadi minyak,sawit juga dapat dijadikan pakan ternak.

angga putra sinaga (E1C009002) said...

bagai mana masalah episiensi ekonominya ?
kan kita ketahui bila sawit di jual langsung harganya berkisar Rp1100-Rp 1250.
dan jika di jadikan bahan dasar pakan untuk sapi apakah lebih menguntungkan?

hikman aja said...

hikman(e1c009056)
artikel yang menarik, sawit yang begitu luas di indonesia belum begitu banyak dimanfaatkan sebagai lahan maupun pakan ternak, bagaimana dengan kesukaan ternak mengkonsumsi sawit tersebut, apa bisa memenuhi kebutuhan nutrisi ternak??

Hendro Fadly said...

Materi ini sangat bermanfaat dalam kegiatan Kukerta kami Pak....
Disini pelepah sawit belum banyak dimanfaatkan, mungkin proses pengolahannya menjadi pakan yang perlu saya pelajari terlebih dahulu

putri anggraini said...

sebelumnya saya mohon maaf bila sedikit lancang, setelah membaca artikel diatas menurut saya antara judul dengan isi tulisan sedikit tidak singkron. artikel ini berjudul pengolahan buah kelapa sawit sebagai bahan dasar pakan untuk ternak sapi", namun setelah saya baca, didalam tulisan ini lebih banyak membahas tentang limbah hasil pengolahan buah sawit. sekadar masukkan mungkin kalimat "pengolahan buah kelapa sawit" bisa diganti dengan "pengolahan limbah hasil pemanfaatan buah kelapa sawit". terima kasih dan maaf jika kurang berkenan.

LIVESTOCK said...

Thanks atas saran & kritiknya Putri.

Anonymous said...

menurut pendapat saya, program integrasi sawit sapi dengan penmanfatan limbah hasil olahan sawit yang lebih dikenal dengan SOLID merupakan prospek yang sangat baik. terobisan ini telah dilakukan oleh salah satu perusahaan swasta di BU yang bergerak dibidang kelap sawit dan hasil yang diperoleh sunggug signifikan, jadi,terobisan ini sungguh berlian. terima kasih

Anonymous said...

mantap

Anonymous said...

AGUS SUTRISNO (E1C009030)


SAYA RASA HARUS ADA DUKUNGAN YANG SEIMBANG SDA, SDM DAN INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA SAWIT.
BAGI PETANI YANG BACA ARTIKEL INI PASTI NYESAL KALAU BELUM DARI DULU PUNYA KEBUN SAWIT TETAPI BELUM MEMANFAATKAN BY PRODUCT NYA...!

rahmat mardiansyah said...

saya tertarik dengan artikelni karna kelapa sawit mampu meningkatan produktivitas sapi yang mana kadar serat yang terdapat di sawit hampir sama dengan kadar serat jerami

dori nuringgani pratama E1C011093 said...

menurut saya setelah membaca jurnal dan artikel ini saya tahu bahwa buah kelapa sawit perpotensi baik untuk dijadikan bahan pakan pada ternak ,,pelepah daun sawit ini sanagat optimal buat pakan ternak

anton saputra said...

wah artikelnya bagus ini tapi kyakny judulnya kurang pas, walau isinya sangat lengkap dan dapat membantu peternak untuk lebih memanfaatkan limbah pertanian yang kurang optimal dalam pengelolaanya

Binti nurkhasanah E1C011051 said...

menarik sekali ternyata buah kelapa sawit bisa menjadi bahan dasar pakan ternak sapi perlu pengembangannya lagi karena kelapa sawit di Indonesia mulai perkembang dan banyak ditanam para petani.

Binti nurkhasanah E1C011051 said...

menarik sekali ternyata buah kelapa sawit bisa menjadi bahan dasar pakan ternak sapi perlu pengembangannya lagi karena kelapa sawit di Indonesia mulai perkembang dan banyak ditanam para petani.

darmawan (EC011027) said...

menurut saya masuk akal juga buah kelapa sawit di jadikan pakan ternak , namun ide ini kurang baik , sebab petani sawit tidak akan memberi buah kelapa sawit untuk di jadikan bahan pakan ternak ,

DESRI DINA(E1C011067) said...

dengan membaca artikel ini saya bisa tau bahwa buah sawit tidak hanya bisa di olah sebagai minyak goreng tapi sebagai pakan juga bisa.

wajuli haryadi said...

wajuli(e1c010014)
saya baru mengetahui kalau buah kelapa sawit dapat dijadikan pakan alternatif untuk ternak..tapi pak,saya pernah melihat anjing yang suka makan buah sawit,namun setelah dia memakan itu bulunya jadi rontok..apa yang menyebabkan hal tersebut pak..?

vera aprilianti / E1C010020 said...

pak, apakah efisien penggunaan buah kelapa sawot sebagai pakan untuk sapi ?
padahal, manusia sendiri menggunakannya sebagai bahan untuk pembuatan minyak..

Anonymous said...

Suryadi (E1C010048)
belum dimanfaatkan secara optimal adalah pelepa daun, lumpur sawit dan bungkil kelapa sawit
Untuk dapat dimanfaatkan secara optimal,setelah saya membaca artikel ini,ternyata kelapa sawit banyak manfaatnya untuk pakan ternak unggas maupun ruminansia,,, maka produk samping tanaman dan pengolahan buah kelapa sawit sebaiknya diberi perlakuan. Tujuan perlakuan tersebut adalah untuk meningkatkan nilai nutrient produk samping tersebut. Hal tersebut dapat dilakukan secara fisik (cacah, giling, tekanan uap), kimia (NaOH, Urea), biologis (fermentasi) ataupun kombinasi daripadanya. Perlakuan secara kimia.teimakasih...

Anonymous said...

CANDRA DWI SAPUTRA E1C009022
Saya sangat senang saat membaca artikel ini pak. informasinya sangat lengkap dan sangat bermanfaat. namun yang menjadi pertanyaan saya mengapa aplikasi pengunaannya oleh peternak masih sanggat sedikit, padahal perkebunan kelapa sawit boleh dibilang ada dimana-mana begitu juga ternak ruminansianya??????

Anonymous said...

denik pusnawati E1C010026
artikel ini menarik.tapi saya masih bingung bagaimna cara pengolahan buah kelapa sawit untuk di jdikan pakan ternak...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...