Saturday, September 24, 2011

Pengaruh Pemberian Tepung Buah Mengkudu (Morinda citrifolia. L) dalam Ransum Terhadap Performans Ayam Broiler


Oleh: WAHYUTI DWI NINGSIH
ABSTRAK
            Dewasa  ini masyarakat cendrung selektif dalam memilih daging dengan kriteria yang sesuai dengan selera, diantaranya adalah daging dengan kandungan lemak yang rendah, perdagingan yang banyak serta aman bagi kesehatan tubuh. Pembuatan makalah ini bertujuan untuk mengetahui performans ayam broiler yang diberi ransum tepung buah mengkudu. Ayam broiler yang digunakan adalah berupa DOC sebanyak 100 ekor dengan Strain Arbor Accres MB 202 Platinum. Masing-masing terdiri dari 5 perlakuan dengan 4 ulangan dan masing-masing ulangan terdiri dari 5 DOC. Pakan ayam broiler yang diberikan adalah sama kecuali konsentrasi tepung buah mengkudu. P0 sebagai kontrol yaitu pakan tanpa buah mengkudu, P1 mengandung 0,75% tepung buah mengkudu dalam rannsum, P2 mengandung 1,5% tepung buah mengkudu dalam ransum, P3 mengandung 2,25% tepung buah mengkudu dalam ransum, dan P4 menganndung 3% tepung buah mengkudu dalam ransum. Selama penelitian pakan dan minum diberikan secara ad libitum. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan, variabel yang diamati adalah konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum. Analisis data dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung buah mengkudu sampai level 3% dalam ransum ayam broiler tidak berpengaruh terhadap konsumsi ransum, konversi ransum, dan pertambahan bobot badan.
Kata kunci : Ayam broiler, Tepung buah mengkudu, Performans

Pendahuluan
Dalam mengembangkan usaha ternak ayam pedaging, pada umumnya peternak memberikan ransum komersil karena ransum komersil telah memenuhi standar kebutuhan zat–zat makanan yang telah ditetapkan. Walaupun harganya relatif mahal, karena beberapa bahan penyusunnya masih diimpor, tetapi ransum komersil banyak tersedia di pasaran dan mudah didapat. Selain itu, di dalamnya sudah terkandung bahan pakan tambahan (feed additive) seperti tetracycline, procaine, penicilin, teramycin dan tylosin. Pencampuran feed additive ini dimaksudkan untuk meningkatkan daya simpan ransum dan memacu pertumbuhan ternak. Namun penggunaan feed aditive yang terus menerus akan mengakibatkan terdapatnya produk metabolit berupa residu antibiotik seperti tylosin, penicillin, oxytetracyeline dan kanamycin (Rusiana dan Iswarawanti, 2004). Oleh karena itu penggunaan feed additive alami merupakan alternatif untuk mengurangi akumulasi residu feed additive dalam daging (Ahmad dan Elfawati, 2008).

Thursday, September 22, 2011

Budidaya Angsa


Orang yang memelihara angsa sekarang ini sudah jarang kita temui. Padahal tanpa makanan yang khusus, angsa dapat berkembang biak dengan lebih baik dibandingkan kebanyakan unggas lainnya. Angsa tergolong sangat bandel dan relatif mudah tumbuh menjadi besar. Mereka lebih tahan terhadap penyakit dan hampir tidak memerlukan obat-obatan.
Satu hal yang barangkali meragukan, yaitu tentang air. Orang sering disodorkan foto angsa di atas air sehingga berkonotasi bahwa angsa dan air tidak dapat dipisahkan. Sebenarnya tidak demikian, bahkan sebaliknya lumpur dapat menimbulkan penyakit pada angsa. Angsa jelas dapat menjadi ternak peliharaan yang baik di pekarangan rumah.
Pemilihan bibit
Pertama-tama yang harus ditentukan adalah pemilihan bibit angsa. Memilih bibit tergantung dari tujuan pemeliharaannya. Bila untuk sekedar hobby maka akan banyak pilihan karena sifatnya kesukaan pribadi. Sedangkan untuk keperluan memproduksi daging atau telur, pilihan menjadi agak terbatas karena harus memperhitungkan faktor ekonomis yaitu ongkos produksi harus lebih rendah dari harga jual. Mengkalkulasi ongkos produksi sudah barang tentu bukan pekerjaan mudah bagi seorang pemula. Barangkali salah satu cara untuk mengurangi kerugian dari kemungkinan gagal adalah mulailah dengan sedikit. Untuk produksi daging usahakan agar waktu penjualannya yaitu saat angsa berumur 4 sampai 6 bulan jatuh menjelang Hari Raya Idulfitri yang biasanya harganya lebih baik. Untuk patokan harga daging dan telur tiap hari bisa dilihat di
Departemen Perdagangan dan Perindustrian R.I.
Jenis bibit angsa yang terkenal diantaranya adalah Toulouse, Embden dan African yang tergolong paling berat tubuhnya, Pilgrim yang berat tubuhnya pertengahan dan Chinese yang paling ringan beratnya. Walaupun demikian, kecepatan pertumbuhan dan kemampuan berproduksi telur pada jenis bibit yang sama belum tentu akan sama hasilnya. Jadi dari pengalaman berternak nantinya, pilihlah bibit dari induk yang pertumbuhannya paling cepat dan menghasilkan banyak telur.

Friday, September 2, 2011

Pemanfaatan Onggok Terfermentasi Sebagai Bahan Pakan untuk Meningkatkan Performans Unggas



 
Oleh : Misnadi
Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu

ABSTRAK
Pada saat ini pengembangan di bidang peternakan dihadapkan pada masalah pakan, yang mana ketersedian pakan khususnya untuk unggas jumlahnya sangat terbatas sehingga harus dicarikan alternatif pakan unggas yang mudah didapat, harganya terjangkau dan memiliki nutrisi yang baik. Onggok merupakan limbah industri yang  jumlahnya sangat melimpah dan dapat dimanfaatkan menjadi pakan ternak unggas apabila dilakukan fermentasi terlebih dahulu karena onggok memiliki nutrisi yang rendah sedangkan onggok terfermentasi memiliki kandungan nutrisi yang tinggi. Menurut Supriyati (2003), sebelum difermentasi onggok tersebut harus dikeringkan terlebih dahulu, sampai kadar airnya maksimal 20% dan selanjutnya digiling. Pemberian onggok terfermentasi dengan level 30% memberikan pengaruh yang lebih baik daripada yang tidak diberi onggok terfermentasi.
Kata kunci : Onggok terfermentasi, performans, unggas

Sunday, August 28, 2011

Mohon Maaf Lahir & Batin

Para pembaca dan semua pihak, di hari yang fitri ini saya mohon maaf atas segala ketidaknyamanan ketika Anda mengunjungi blog ini. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir & batin.

Wednesday, August 17, 2011

Daftar Sitasi Karya Ilmiah yang Saya Publikasikan


1.Saya kurang lebih telah mempublikasikan karya ilmiah baru sekitar 70. Dari 70 karya ilmiah tersebut baru sekitar 30 karya ilmiah yang saya temukan jumlah sitasinya. Berikut ini adalah daftarnya.

U Santoso, K Tanaka… - British Journal of Nutrition, 1995 - Cambridge Univ Press
(Received 28 July 1994 - Revised I December 1994 - Accepted 16 January 1995) ... To investigate
the effect of dried Bacillus subtilis culture on growth, body composition and hepatic lipogenic
enzyme activity, female broiler chicks were fed on either no additive (control) or dried B. ...
Cited by 33 - Related articles - All 5 versions
2.     Early skip-a-day feeding of female broiler chicks fed high-protein realimentation diets. Performance and body composition
U Santoso, K Tanaka… - Poultry science, 1995 - ps.fass.org
The effect of an early skip-a-day feeding program on performance and body composition of broiler
chicks fed high-protein realimentation diets was studied. One-day-old female broiler chicks were
withheld from feed for 2 d (0 to 2 d of age), and at 7 d of age three pens of 15 chicks each ...
Cited by 19 - Related articles - BL Direct - All 4 versions
3.     Effect of fermented product from Bacillus subtilis on feed conversion efficiency, lipid accumulation and ammonia production in broiler chicks
U Santoso, K Tanaka… - ASIAN …, 2001 - THE ASIAN-AUSTRALASIAN …
Cited by 9 - Related articles - BL Direct
[PDF] from ajas.infoU Santoso - Asian Australasian Journal of Animal Sciences, 2001 - ajas.info
1586 U. SANTOSO as follows. One group was fed ad libitum as the control group and other nine
groups were fed 25% ad libitum (25% multiplied by amount of feed intake of ad libitum chicks
at the previous day) for 3, 6 or 9 days, 50% ad libitum for 3, 6 or 9 days, and 75% ad ...
Cited by 6 - BL Direct
5.     Effect of early feed restriction on growth performance and body composition in broilers
U Santoso, K Tanaka, S Ohtani… - Asian Aust. J. Anim. Sci, 1993
Cited by 6 - Related articles
6.     U. Santoso and Sartini. 2001. Reduction of fat accumulation in broiler chickens by Sauropus androgynus (Katuk) leaf meal supplementation
Asian-Aust. J. Anim. Sci
Cited by 5 - Related articles
U Santoso - Asian-australasian journal of animal sciences, 2002 - cat.inist.fr
Two experiments were conducted to evaluate the effect of early feed restriction on growth, feed
conversion ratio (FCR) and mortality in unsexed broiler chickens. In Experiment 1, 350
one-day-old broiler chickens were divided into 7 groups. Each treatment group was ...
Cited by 5 - Related articles - BL Direct

Tuesday, August 16, 2011

PENINGKATAN PERFORMANS TERNAK RUMINANSIA DENGAN MENGGUNAKAN JERAMI PADI YANG DIFERMENTASI

 
Jemi sang sang

ABSTRAK

Mengevaluasi  jerami padi yang difermentasi oleh probiotik starbio sebagai pakan ternak. Sekelompok ternak sapi yang diberi pakan jerami padi yang difermentasi oleh probiotik dan sekelompok ternak sapi yang diberikan jerami padi tanpa fermentasi. Adapun yang diamati yaitu dapat mempengaruhi konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan(pbb), dan konversi pakan pada ternak sapi. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa penambahan bobot badan, konsumsi dan konversi pakan yang diberikan pakan jerami padi produk fermentasi lebih baik dibandingkan dengan jerami padi tanpa fermentasi.
Kata kunci: jerami padi, fermentasi, probiotik, ternak sapi.

PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Hasil ternak ruminansia merupakan salah satu komponen penting untuk memenuhi kebutuhan gizi akan daging bagi masyarakat Indonesia. Ternak ruminansia khususnya sapi bali merupakan salah satu plasma nutfah di Indonesia yang memiliki keunggulan dengan potensi genetik yang tinggi dan dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan tropis(Suranjaya, 1999). Pemeliharaan ternak ruminansia masih banyak dilakukan secara tradisional khususnya di daerah pedesaan, masih banayk ternak yang berkeliaran di pinggir-pinggir jalan untuk mencari pakan.
Pakan merupakan salah satu unsur yang sangat vital dalam suatu usaha peternakan, oleh karena itu penyediaan pakan harus diupayakan secara terus menerus (continue) sesuai dengan standar nutrisi menurut tingkatan umur ternak. Salah satu kendala yang dialami oleh banyak peternak di dalam suatu peternakan yaitu ketersediaan pakan hijauan segar sulit terpenuhi karena dapat dipengaruhi oleh musim. Dimana pada saat musim kemarau ternak sulit untuk mendapatkan hijauan segar (Syamsu, 2002).
            Usaha untuk menangani kesulitan ketersediaannya pakan hijauan pada saat musim kemarau, dapat dilakukan dengan pemanfaatan sisa hasil pertanian khususnya limbah jerami padi (Novita, 2006). Dimana limbah jerami padi merupakan limbah yang jumlahnya banyak dan mudah didapat. Penggunaan jerami padi sebagai pakan ternak ruminansia mempunyai banyak kendala yaitu tidak dapat mencukupi kebutuhan protein untuk mencukupi kebutuhan hidup pokok ternak, hanya dengan kandungan serat kasar yang tinggi dan protein kasar yang rendah di dalam jerami padi trsebut (Akmal, 2004). Selain itu jerami padi juga mengandung lignin, silika dan khitin yang dapat menyebabkan rendahnya daya cerna(Gunawan dkk, 2000), sehingga jerami padi tersebut dapat diolah agar didapatkan kandungan-kandungan nutrisi maupun protein yang dibutuhkan oleh ternak untuk mencukupi kebutuhan hidup pokoknya.

Sunday, August 7, 2011

Mikrobia Berbahaya yang Mencemari Daging

Mikrobia pathogen
Beberapa kuman yang dapat menyebabkan penyakit pada konsumen yang dapat ditularkan oleh daging antara lain:
  • Antraks, merupakan penyakit hewan (terutama pada sapi, kambing domba, kuda, babi, burung unta) yang dapat ditularkan ke manusia, yang disebabkan oleh kuman (bakteri) Bacillus anthracis.
  • Salmonella, dapat menyebabkan tifus, paratifus atau gangguan pencernaan (gastroenteritis). Kurang dari 100 sel sudah dapat menimbulkan penyakit. Salah satu strain Salmonella yang terdapat pada daging yaitu Salmonella Typhimurnium. Salmonella dapat menyebabkan gastroenteritis, demam enteric (thypoid dan parathypoid), septicemia (mikroorganisme berkembangbiak dalam aliran darah), diare, nausea dan muntah. Daging ayam dan olahannya dilaporkan sebagai media penyebaran penyakit Salmonellosis.
  • Staphylococcus aureus, kuman ini menghasilkan racun enterotoksin yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang mendadak, yaitu gejala keracunan seperti kekejangan pada perut dan muntah-muntah dan dapat pula terjadi diare. Bersifat meracun pada jumlah sel 106/g.
  • Clostridium perfringens, dapat menyebabkan keracunan yang ditandai dengan sakit perut, diare, pusing, tetapi jarang terjadi muntah-muntah.Dosis 108 sel untuk terjadinya infeksi.
  • Clostridium botulinum, dapat menyebabkan keracunan fatal, ditandai dengan lesu, sakit kepala, pusing, muntah dan diare, tetapi akhirnya penderita mengalami kesulitan buang air besar (konstipasi). Sistem syaraf pusat penderita akan terganggu.
  • Vibrio parahaemolyticus, gejala keracunan diare, muntah dan demam. Dosis infeksi 106 sel.
  • Shigella, infeksi akut usus yang ditandai oleh diare, demam dan muntah. Dosis infeksi 100-200 sel.
·         Strain patogen E. Colli dapat menimbulkan penyakit diare berdarah, pembengkakan dan kelainan ginjal, demam, kelainan syaraf dan bahkan kematian. Di Amerika, dalam setahun diperkirakan terdapat 110.220 kasus infeksi akibat E. Colli, 158.840 kasus infeksi E. Colli, dan diareheogenic E. Colli. Escherichia Colli dapat dijumpai pada daging masak yang terkontaminasi dengan daging mentah.
·         Listeria monocytogenes merupakan bakteri patogen penyebab wabah listeriosis (food borne disease) yang banyak terdapat pada daging dan produk mentah serta mampu bertahan pada suhu rendah. Kasus infeksi L. Monocytogenes dilaporkan terdapat 228 kasus di Perancis tahun 1997 dan 2002, yaitu pasien sebanyak 63% bacteriemia dan 26% bermasalah dengan sistem syaraf.

Daging Sapi


Setiap bagian daging dari sapi mempunyai komposisi gizi yang berbeda-beda. Oleh sebab itu ada baiknya kita mengenalnya.
Daging sapi paha depan atau dikenal juga sebagai chuck adalah bagian daging sapi yang berasal dari bagian atas paha depan. Ciri daging ini adalah berbentuk potongan segiempat dengan ketebalan sekitar 2-3 cm, dengan bagian dari tulang pundak masih menempel ke bagian paha sampai ke bagian terluar dari punuk. Biasanya daging ini digunakan untuk membuat bakso.
Daging Iga Sapi atau rib adalah bagian daging sapi yang berasal dari daging di sekitar tulang iga. Bagian ini termasuk dari delapan bagian utama daging sapi yang biasa dikonsumsi. Seluruh bagian daging iga ini bisa terdiri dari beberapa iga berjumlah sekitar 6 sampai dengan 12; untuk potongan daging iga yang akan dikonsumsi bisa terdiri dari 2 sampai dengan 7 tulang iga. Biasanya bagian ini digunakan sebagai bahan dasar makanan khas Makassar, sup konro.
Has Dalam atau tenderloin adalah daging sapi dari bagian tengah badan. Sesuai dengan karakteristik daging has, daging ini terdiri dari bagian-bagian otot utama di sekitar bagian tulang belakang, dan kurang lebih di antara bahu dan tulang panggul. Daerah ini adalah bagian yang paling lunak, karena otot-otot di bagian ini jarang dipakai untuk beraktivitas. Biasanya bagian daging ini digunakan untuk membuat steak.
Has Luar atau lebih dikenal dengan nama sirloin adalah bagian daging sapi yang berasal dari bagian bawah daging iga, terus sampai ke bagian sisi luar has dalam. Daging ini adalah daging yang paling murah dari semua jenis has, karena otot sapi pada bagian ini masih lumayan keras dibanding bagian has yang lain karena otot-otot di sekitar daging ini paling banyak digunakan untuk bekerja. Biasanya daging ini digunakan untuk membuat steak.
Penutup Daging Sapi atau lebih dikenal dengan nama Topside atau Round adalah bagian daging sapi yang terletak di bagian paha belakang sapi dan sudah mendekati area pantat sapi. Potongan daging sapi di bagian ini sangat tipis dan kurang lebih sangat liat. Selain itu bagian ini sangat kurang lemak sehingga jika dibakar atau dipanggang akan sangat lama melunakkannya. Biasanya daging ini digunakan untuk campuran daging pizza.
T-bone adalah bagian daging sapi yang biasa dibuat sebagai steak. Potongan daging ini terbentuk dari tulang yang berbentuk seperti huruf T dengan daging disekitarnya. Bagian daging yang paling besar biasanya berasal dari bagian has luar, sedangkan bagian kecilnya berasal dari has dalam.
Lamosir atau lamusir atau dikenal juga dengan nama cube roll adalah bagian daging sapi yang berasal dari bagian belakang sapi di sekitar has dalam, has luar dan tanjung. Biasanya daging ini digunakan untuk makanan khas Batam, Sup Lamosir.

Saturday, August 6, 2011

Waspadalah Terhadap Daging Berkualitas Rendah

Dewasa ini banyak sekali kecurangan yang dilakukan oleh pedagang daging. Konsumen sangat dirugikan oleh  tingkah laku mereka. Konsumen tidak hanya rugi uang tetapi juga kesehatannya juga terancam. Oleh sebab itu kita harus berhati-hati ketika membel daging. Berikut saya sajikan beberapa ciri daging yang tidak berkualitas serta membahayakan kesehatan kita. Ayam bangkai
1)      tampak bercak darah yang menyebar di sekujur tubuh. Itu merupakan darah yang telah membeku. Sedangkan ayam yang terkena wabah penyakit biasanya memiliki bercak biru namun tak menyeluruh.
2)      rongga tubuh bagian dalam berwarna kehitaman, demikian pula organ-organ tubuh seperti usus, hati dan ginjal. Untuk menipu calon konsumennya, ada pedagang yang mengolah terlebih dulu ayam bangkai sebelum dijual. Tidak jarang di pasaran dijumpai daging ayam bangkai yang berwarna kuning atau sering disebut “ayam duren”
3)      bau busuk atau anyir, kelembekan daging dan warna tetap tidak hilang begitu saja. Bahkan setelah direbus atau digoreng pun daging tersebut tetap mengeluarkan bau tak sedap.
4)      Pada beberapa bagian tertentu berwarna biru kehitaman (memar), hal ini menandakan ayam mati secara tidak wajar. Bisa mati sewaktu pengangkutan, terjepit, terpukul, atau tertabrak kendaraan.
5)      Terasa berlendir ketika kita pegang.
6)       Kekenyalan otot dada dan paha agak lembek
7)      Saat ayam dipotong menjadi beberapa bagian, ayam bangkai akan mengeluarkan gumpalan darah. Sementara ayam bangkai berwarna merah tua bahkan cenderung hitam yang biasanya terpusat pada bagian tertentu, terutama pada sayap.
Bau khas bangkai.
8)      Irisan leher / bekas pemotongan rapi.
9)      Adanya darah yang membeku pada arteri / pembuluh darah dan vena jugularis.
10)  Warna daging kehitaman ( 3 – 5 jam setelah kematian ).
11)  Usus berwarna kebiruan.
12)  Paru, jantung dan organ lain masih ada darah.
13)  Ketika ditekan tidak segera kembali (tidak elastic)
14)  Darah terkumpul sesuai saat terjatuh..

Friday, August 5, 2011

Sifat Sifat Berbagai Jenis Daging Ternak:


Para pembaca, daging yang bermutu baik tentu saja akan berakibat baik bagi kesehatan manusia yang mengkonsumsinya. Oleh sebab itu, kita semua perlu mengetahui ciri-ciri berbagai jenis daging agar kita tidak tertipu. Berikut adalah sifat-sifat berbagai daging ternak. Semoga sajian ini bermanfaat.
  1. Daging Sapi
    • Warna merah pucat, merah keungu-unguan atau kecoklatan dan akan berubah menjadi warna chery (merah cerah) bila daging tersebut kena oksigen.
    • Serabut daging halus tapi tidak mudah hancur dan sedikit berlemak
    • Konsistensi liat, jika saat dicubit seratnya terlepas maka daging sudah tidak baik.
    • Lemak berwarna kekuning-kuningan
    • Tekstur daging kenyal.
    • Kondisi daging sapi keras namun tidak kaku.
    • Bau dan rasa aromatis.
    • Dijual dengan cara digantung.
Diskripsi mutu warna baku untuk daging sapi
No Urut/skor
Diskripsi

1
Merah pink
Dark pink
2
Merah ceri
Light cherry red
3
Merah ceri agak gelap
Slight dark cherry red
4
Merah agak gelap
Moderately dark red
5
Merah gelap
Dark red
6
Merah sangat gelap
Very dark red
Sumber: Soekarto, S. T. 1990. Dasar dasar pengawasan dan standarisasi mutu pangan. IPB Press, Bogor.
  1. Daging Kerbau
    • Warna lebih merah dari daging sapi
    • Serabut otot kasar dan lemaknya berwarna putih
    • Rasanya hampir sama dengan daging sapi
    • Pada umumnya liat, karena umumnya disembelih pada umur tua

Thursday, August 4, 2011

PENTINGNYA PROTEIN HEWANI ASAL TERNAK BAGI KESEHATAN


Dikompilasi Oleh: Urip Santoso
Pendahuluan
Rendahnya konsumsi protein hewani berdampak pada tingkat kecerdasan dan kualitas hidup penduduk Indonesia. Kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagaimana ditunjukkan oleh peringkat Human Development Indeks (HDI) tahun 2004 yang dikeluarkan United Nation Development Program (UNDP), Indonesia berada pada peringkat ke-111, satu tingkat di atas Vietnam (112), namun jauh di bawah negara ASEAN lainnya, Singapura (peringkat 25), Malaysia (59), Thailand (76) dan Fhilipina (83).
 Terdapat hubungan tingkat konsumsi protein hewani dengan tingkat kecerdasan pada anak usia pra-sekolah. Konsumsi protein hewani yang rendah pada anak usia prasekolah dapat mengakibatkan anak-anak berbakat normal menjadi sub-normal atau bahkan defisien. Peningkatan konsumsi protein hewani dapat mengurangi frekuensi kejadian defisiensi mental. Ironisnya mereka pada umumnya berasal dari keluarga tidak mampu (miskin).
 Selain untuk kecerdasan, protein hewani dibutuhkan untuk daya tahan tubuh. Protein hewani berperanan penting dalam mencegah terjadinya anemia pada orang yang menggunakan otot untuk bekerja keras. Gejala anemia tersebut dikenal dengan istilah “sport anemia”. Penyakit ini dapat dicegah dengan mengkonsumsi protein yang tinggi, dimana sebanyak 50% dari protein yang dikonsumsi harus berasal dari protein hewani.
 Protein hewani diduga berperan terhadap daya tahan eritrosit (sel darah merah) sehingga tidak mudah pecah. Protein hewani juga berperan dalam mempercepat regenerasi sel darah merah.
 Protein hewani memiliki komposisi asam amino yang lengkap dan dibutuhkan tubuh. Nilai hayati protein hewani relatif tinggi. Nilai hayati menggambarkan berapa banyak nitrogen (N) dari suatu protein dalam pangan yang dimanfaatkan oleh tubuh untuk pembuatan protein tubuh. Semakin tinggi nilai hayati protein suatu bahan pangan makin banyak zat N dari protein tersebut yang dapat dimanfaatkan untuk pembentukan protein tubuh. Hampir semua pangan asal ternak mempunyai nilai hayati 80 ke atas. Telur memiliki nilai hayati tertinggi yakni 94-100.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...