Oleh: Sargie Santi
Banes
BAB I PENDAHULUAN
Didalam sebuah peternakan, pakan
menjadi faktor yang sangat penting untuk mendapatkan produksi yang optimal,
sehingga pakan menjadi faktor utama dalam suatu peternakan. Jika pakan yang
kita berikan baik maka produksi ternak akan mendapatkan hasil yang baik pula,
jika pakan yang kita berikan buruk maka hasil yang didapat juga akan buruk.
Sumber pakan menjadi sangat langka mengingat ketersediaan rumput yang sangat
sedikit, sehingga seorang peternak terdorong untuk menyusun ransum sebagai
pakan untuk ternak tersebut.
Berdasarkan data dari Deptan, 2009.
Lahan penanaman kakao mencapai 1.272,8 hektar dengan produksi 671,4 ton,
mengalami peningkatan pada tahun 2008 menjadi 1.364,4 hektar dengan produksi
721,4 ton. Saat ini, luas tanaman kakao di Kabupaten Kapahiang provinsi
Bengkulu tercatat sekitar 7.356 hektar.Sementara tanaman kakao terluas di
Bengkulu terdapat di Kabupaten Bengkulu Utara.Di daerah ini luas tanaman kakao
lebih kurang 8.500 hektar, tersebar di beberapa kecamatan.Sehingga limbah yang
dihasilkan dari tanaman kakao ini sangat berlimpah.
Kakao merupakan salah satu tanaman
yang dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan kalsium. Dalam prosesnya, kakao
akan menhasilkan limbah yang berbentuk kulit kakao yang sangat banyak dan
tersedia melimpah, sehingga kakao bisa dijadikan salah satu sumber pakan untuk
pertumbuhan ternak. Menurut Guntoro et al., (2006) Kulit buah kakao (Shel food
husk) kandungan nutrisinya terdiri atas P 8,11%, SK 16,42%,L 2,11%,Ca 0,08%,P
0,12% dan penggunaannya oleh ternak ruminansia 30-40, sedangkan menurut
Amirroenas (1990) kulit kakao mengandung selulosa 36,23%, hemiselulosa 1,14%
dan lignin 20%-27,95%.