|
Table
2. Drinking Water Quality Guidelines
for Poultry
|
||||
|
Contaminant
or characteristic
|
Level
considered average
|
Maximum
acceptable level
|
Remarks
|
|
|
Bacteria
|
||||
|
|
Total bacteria
|
0/ml
|
100/ml
|
0/ml is desirable.
|
|
|
Coliform bacteria
|
0/ml
|
50/ml
|
0/ml is desirable.
|
|
Nitrogen compounds
|
||||
|
|
Nitrate
|
10 mg/l
|
25 to 45 mg/1
|
Levels from 3 to 20 mg/l may
affect performance.
|
|
|
Nitrite
|
0.4 mg/l
|
4 mg/l
|
|
|
pH
|
6.8 to 7.5
|
----
|
A pH of less than 6.0 is not
desirable. Levels below 6.3 may degrade performance.
|
|
|
Total hardness
|
60 to 180
|
----
|
Hardness levels less than 60 are
unusually soft; those above 180 are very hard.
|
|
|
Naturally occurring chemicals
|
||||
|
|
Calcium
|
60 mg/l
|
----
|
Levels as low as 14 mg/l may be
detrimental if the sodium level is higher than 50 mg/l.
|
|
|
Chloride
|
14 mg/l
|
250 mg/l
|
|
|
Copper
|
0.002 mg/l
|
0.6 mg/l
|
Higher levels produce a bad odor
and taste.
|
|
|
Iron
|
0.2 mg/l
|
0.3 mg/l
|
Higher levels produce a bad odor
and taste.
|
|
|
Lead
|
----
|
0.2 mg/l
|
Higher levels are toxic.
|
|
|
Magnesium
|
14 mg/l
|
125 mg/l
|
Higher levels have a laxative
effect. Levels greater than 50 mg/l may affect performance if the sulfate
level is high.
|
|
|
Sodium
|
32 mg/l
|
----
|
Levels above 50 mg/l may affect
performance if the sulfate or chloride level is high.
|
|
|
Sulfate
|
25 mg/l
|
1250 mg/l
|
Higher levels have laxative
effect. Levels above 50 mg/l may affect performance if magnesium and chloride
levels are high.
|
|
|
Zinc
|
----
|
1.50 mg/l
|
Higher levels are toxic.
|
|
|
SOURCE: Adapted from T. A. Carter and R. E. Sneed, Drinking
Water Guidelines for Poultry, Poultry Science and Technology Guide No.
42, North Carolina State University
|
||||
Monday, September 10, 2012
Pedoman Mutu Air Minum untuk Unggas
Pedoman Mutu Air Minum untuk Ternak
|
TABLE
1. DRINKING WATER QUALITY GUIDELINES
|
|||
|
|
|
|
|
|
CONTAMINANT
OR CHARACTERISTIC |
LEVEL
CONSIDERED AVERAGE
|
MAXIMUM
ACCEPTABLE LEVEL
|
REMARKS
|
|
|
|||
|
Bacteria
|
|||
|
Total Bacteria
|
0
/ ml
|
100
/ ml
|
0/
ml is desirable
|
|
|
|
|
|
|
Coliform Bacteria
|
0
/ ml
|
50
/ ml
|
0/
ml is desirable
|
|
|
|||
|
Nitrogen Compounds
|
|||
|
Nitrate
|
10
mg / l
|
25
mg / l
|
Levels
from 3 to 20 mg / l may affect performance
|
|
|
|
|
|
|
Nitrate
|
0.4
mg / l
|
4
mg / l
|
|
|
|
|||
|
Acidity and Hardness
|
|||
|
pH
|
6.8
- 7.5
|
.
. .
|
a
pH of less than 6.0 is not desirable. Levels below 6.3 may degrade
performance.
|
|
|
|
|
|
|
Total Hardness
|
60
- 180
|
.
. .
|
Hardness
levels less than 60 are unusually soft, those above 180, very hard.
|
|
|
|||
|
Naturally Occurring Chemicals
|
|||
|
Calcium
|
60
mg / l
|
.
. .
|
|
|
|
|
|
|
|
Chloride
|
14
mg / l
|
250
mg / l
|
Levels
as low as 14 mg / l may be detrimental if the sodium level is higher than 50
mg / l
|
|
|
|
|
|
|
Copper
|
0.002
mg / l
|
0.6
mg / l
|
Higher
levels produce a bitter flavor.
|
|
|
|
|
|
|
Iron
|
0.2
mg / l
|
0.3
mg / l
|
Higher
levels produce a bad odor and taste.
|
|
|
|
|
|
|
Lead
|
.
. .
|
0.02
mg / l
|
Higher
levels are toxic.
|
|
|
|
|
|
|
Magnesium
|
14
mg / l
|
125
mg / l
|
Higher
levels have a laxative effect. Levels greater than 50 mg / l may affect
performance if the sulfate level is high.
|
|
|
|
|
|
|
Sodium
|
32
mg / l
|
.
. .
|
Levels
above 50 mg / l may affect performance if the sulfate or chloride level is
high.
|
|
|
|
|
|
|
Sulfate
|
125
mg / l
|
250
mg / l
|
Higher
levels have a laxative effect. Levels above 50 mg / l may affect performance
if magnesium and chloride level is high.
|
|
|
|
|
|
|
Zinc
|
.
. .
|
1.50
mg / l
|
Higher
levels are toxic.
|
Source:
Schwartz, D. L., "Water Quality," VSE, 81c., Penn. State Univ.
(mimeographed); and R. Waggoner, R. Good, and R. Good, "Water Quality and
Poultry Performance," in Proceedings AVMA Annual Conference, July, 1984.
Sunday, September 2, 2012
TINGKAH LAKU REPRODUKSI DAN TINGKAH LAKU HARIAN RUSA TIMOR (Cervus timorensis)
Oleh
: Sari Murti
Fakultas
Peternakan,Universitas Bengkulu
Abstrak
Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk memberi informasi
serta mencermati tingkah laku reproduksi dan tingkah laku harian rusa timor (
Cervus Timorensis ) dalam upaya pengembangan serta peningkatan produktivitas..
Tingkah laku reproduksi yang dimiliki rusa meliputi; sniffing, flehmen,
kissing, kicking, nuding, mounthing serta coitus. Adapun tingkah laku
harian yang ditunjukan rusa timor
meliputi, tingkah laku social dibuktikan dengan hidup berkelompok dengan
menempati shelter (tempat berlindung) yang memiliki ketersediaan pakan dan
minum, tingkah laku merumput (ingstive), tingkah laku istirahat, approach
(saling mendekati), serta tingkah laku urinasi
Kata kunci : Tingkah laku reproduksi, Tingkah laku
harian dan Rusa timor
Sunday, August 26, 2012
Rusa Sambar, Rusa Asli Indonesia
Rusa ini warnanya kurang menarik, tapi badannya besar. Cocok untuk penghasilkan daging. Di Bengkulu, rusa sambar dipelihara di beberapa tempat seperti di rumah dinas gubernur, jurusan peternakan Unib dan di beberapa tempat. Beberapa penelitian telah dilakukan di Unib. Sayangnya terputus, sehingga belum sampai kepada upaya budidaya Rusa Sambar. Konon, gen Rusa sambar ini telah digunakan untuk mengembangkan rusa pedaging di Selandia Baru. Wah kalau benar, kita kecolongan dong! Indonesia memang selalu kecolongan, dikarenakan kurang memperhatikan flora dan faunanya yang sebenarnya amat kaya dan amat potensial untuk dikembangkan bagi kesejahteraan bangsa Indonesia.
Berikut informasi penangkaran dan budidaya rusa sambar di UPTP BPIB Api-Api. Silahkan dibaca!
Berikut informasi penangkaran dan budidaya rusa sambar di UPTP BPIB Api-Api. Silahkan dibaca!
Monday, August 13, 2012
PENGARUH BERBAGAI MACAM BAHAN PENGENCER SEMEN TERHADAP KUALITAS SEMEN
Oleh : Rina Yunita
Fakultas Pertanian Jurusan Peternakan
Universitas Bengkulu
Abstrak
Salah
satu cara untuk meningkatkan produktivitas ternak adalah dengan memperkenalkan
dan menerapkan teknologi reproduksi, misalnya inseminasi buatan (IB). Penerapan
teknologi inseminasi buatan (IB) ini adalah untuk meningkatkan mutu genetik dan
produksi ternak. IB atau lebih dikenal sebagai kawin suntik merupakan cara
pemasukan spermatozoa ke dalam organ reproduksi betina dengan suatu alat
tertentu dengan bantuan manusia , dan melalui proses sejak penampungan semen,
penilaian, pengenceran, sampai penilaian hasil inseminasi buatan. Pengembangan
IB dalam upaya pengembangan peternakan merupakan keuntungan peternak dalam
menekan biaya produksi yang tinggi dan nilai ekonomi yang dibutuhkan.
Keuntungan dari dikembangkannya IB yaitu mengurangi biaya pemeliharaan
pejantan, dapat dilakukan pemilihan semen yang mempunyai mutu genetik yang
tinggi, menekan penyebaran penyakit menular, dan mempercepat laju perbaikan
genetik. Keberhasilan IB itu sendiri sangatlah ditentukan oleh beberapa faktor
seperti kesuburan betina, inseminator, ketepatan waktu inseminasi dan yang
terpenting adalah kualitas semen yang digunakan. Semen adalah sekresi kelamin
jantan dan epididimis serta kelenjar-kelenjar kelamin pelengkap (kelenjar
vesikularis) yang terdiri dari spermatozoa dan plasma semen yang secara normal
di ejakulasi ke dalam saluran kelamin betina sewaktu kopulasi, tetapi dapat
pula ditampung dengan berbagai cara untuk keperluan inseminasi buatan
(Toelihere, 1985). Setelah penampungan, semen perlu diencerkan dengan bahan
pengencer untuk diawetkan agar mempertahankan kualitas semen dalam penyimpanan.
Prinsip pengenceran semen bertujuan untuk menambah volume dari setiap ejakulasi
dan memberi zat-zat makanan yang dibutuhkan untuk mempertahankan daya tahan
hidup dan fertilitas sperma. Beberapa bahan pengencer yang umum digunakan dalam
pengenceran semen adalah kuning telur, susu, dan air kelapa.
Kata
kunci : inseminasi buatan, pengencer semen, kuning telur, susu, air kelapa.
Friday, August 3, 2012
PENCEGAHAN PRODUKSI TELUR ASIN PALSU
Oleh: ANGGA PUTRA SINAGA
Abstrak
Tujuan pencegahan produksi telur asin palsu adalah : Mendeskripsikan proses pembuatan
telur asin palsu, Mendeskripsikan akibat dari mengkonsumsi telur asin palsu.
dan Mendeskripsikan membedakan telur asin asli dengan yang palsu. Telur
asin merupakan makanan yang mendapat
prioritas untuk dikembangkan. Telur asin menjadi konsumsi masyarakat luas,
mulai dari kalangan atas, menengah, maupun menengah ke bawah dan juga oleh
berbagai usia mulai balita, remaja, dewasa, hingga manula. Bahan utama telur
asin yang kebanyakan beredar di pasaran adalah telur bebek. Kita juga menemui
telur asin yang berbahan baku telur ayam, maupun yang lainnya. Telur adalah
salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat, mudah dicerna,
dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya murah. Telur asin bermanfaat bagi tubuh. Tetapi,
telur asin yang biasa kita beli sudah banyak dipalsukan.Telur asin yg
semestinya dibuat dari telur bebek dipalsukan dengan menggunakan telur ayam.
Cara pemalsuannya beragam. Mulai dari 3 hari bahkan ada yang satu hari, padahal
sebetulnya telur asin yang asli baru bisa dijual dua minggu kemudian.
Dalam kehidupan sehari – hari, telur asin baik untuk tubuh. Tetapi, telur
asin yang palsu ini bukan berguna bagi tubuh melainkan dapat merusak sel saraf
dalam tubuh. Pemalsuan telur asin palsu itu apabila dikonsumsi dalam waktu lama
bisa menyebabkan penyakit Alzheimer. Alzheimer bukan penyakit menular,
melainkan merupakan sejenis sindrom dengan
apoptosis sel – sel otak pada saat yang
hampir bersamaan, sehingga otak tampak mengerut dan mengecil.
Monday, July 30, 2012
FLU BURUNG MASIH MENJADI “PENYERANG” UTAMA BAGI UNGGAS
OLEH : KARINA
SEFTRIANI
ABSTRAK
Avian influenza adalah penyakit
yang menyerang unggas dan dapat ditularkan kepada manusia, penyakit ini
disebabkan oleh virus H5N1 tipe A yang
mempunyai protein HA 5 dan NA 1. Penyakit ini lebih dikenal dengan sebutan ‘flu
burung’. Virus ini dapat menyerang unggas kapan saja dan dimana saja, virus ini
juga dapat menyerang manusia apabila terjadi kontak langsung antara manusia dan
unggas yang terinfeksi.
Satu
tetesan sekresi dari burung yang terinfeksi mengandung virus yang dapat
membunuh 1 juta jenis unggas. Virus ini kemudian menempel pada berbagai media
seperti sarana transprotasi ternak, peralatan kandang yang tercemar, pakan dan
minuman unggas yang tercemar, pekerja di peternakan dan uggas-unggas liar.
Baru-baru ini ada pernyataan yang mengatakan bahwa virus H5N1 ini dapat
menyerang dari manusia yang suspect terifeksi ke manusia lainnya hanya dengan
saling berbicara, bekerja seperti halnya saat manusia terserang flu biasa.
Untuk
mengenali unggas yang terinfeksi flu burung, kita dapat mengenali dari gejala
klinis yang ditemukan pada unggas tersebut. Ciri-ciri yang paling tampak adalah
pada jengger dan pial yang berwarna kebiruan, serta unggas akan mati dalam
waktu singkat dan berkelompok. Penanganan flu burung dapat dilakukan dengan
pengobatan atau pemberian obat flu
seperti Tamiflu atau jenis lainnya, tapi harus tetap dalam pengawasan
dokter atau pihak rumah sakit yang ditunjuk oleh Dinas Kesehatan RI.
Kata kunci : peneyebab, cara penularan, pengobata flu burung
Tuesday, July 24, 2012
Pemanfaatan Pucuk Tebu Sebagai Bahan Pakan Suplementasi pada Ternak Ruminansia
Oleh : Hermy Puspita Sari
ABSTRAK
Penggunaan limbah pertanian merupakan salah satu alternative untuk
memenuhi kebutuhan hijauan makanan ternak . limbah perkebunan yaitu pucuk tebu
memilki potensi sebagai alternative sumber serat pakan hijauan.Menurut (
Rantan,2009) bahwa pucuk tebu dapat menggantikan peran rumput gajah, tanpa
memberikkan efek negative baik pada sapi potong ataupun sapi perah. pepito et
al,..(1969) pada sapi sapi potong , kambing dan domba mengenai kecernaan ransum
yang diberi perlakuan silase memiliki TDN sebesar 50% dan 9,2 MJ/kg energy
tercerna sedangkan menggunakan pucuk segar yang supleman dengan konsentrat di
berikan pada sapi jantan selama 115 hari , didapatkan pertambahan berat badan
dengan kisaran 0,41-0,52 kg/ hari.
Kata kunci :pucuk tebu , pakan
alternatif, ternak
PENDAHULUAN
Masalah yang
dihadapi khususnya dalam pengembangan ternak ruminansia, terutama di daerah-
daerah padat penduduk clan ternak adalah semakin terbatasnya lahan yang dapat
dimanfaatkan untuk tanaman rumput. Salah satu limbah pertanian
yang umum digunakan sebagai pakan ternak ruminansia masyarakat adalah
pucuk tebu. Luas tanaman tebu tahun 2004 pada perkebunan besar 0.80% dari tahun
sebelumnya , adalah 364,44 hektar menjadi 367,3 ribu hektar .begitu pula
produksinya mengalami peningkatan
sebesar 11,85% .Begitu pula areal penanaman dan produksi gula tebu secara
keseluruhan sejak tahun 2000-2009 (
sumber : direktorat jendral perkebunan , departemen pertanian 2009 ).
Subscribe to:
Posts (Atom)