Monday, September 10, 2012

Pedoman Mutu Air Minum untuk Unggas


Table 2. Drinking Water Quality Guidelines for Poultry
Contaminant or characteristic
Level considered average
Maximum acceptable level
Remarks
 Bacteria

Total bacteria
0/ml
100/ml
0/ml is desirable.

Coliform bacteria
0/ml
50/ml
0/ml is desirable.
 Nitrogen compounds

Nitrate
10 mg/l
25 to 45 mg/1
Levels from 3 to 20 mg/l may affect performance.

Nitrite
0.4 mg/l
4 mg/l

 pH
6.8 to 7.5
 ----
A pH of less than 6.0 is not desirable. Levels below 6.3 may degrade performance.
Total hardness
 60 to 180
 ----
Hardness levels less than 60 are unusually soft; those above 180 are very hard.
 Naturally occurring chemicals

Calcium
60 mg/l
 ----
Levels as low as 14 mg/l may be detrimental if the sodium level is higher than 50 mg/l.

Chloride
14 mg/l
250 mg/l
 Copper
0.002 mg/l
0.6 mg/l
Higher levels produce a bad odor and taste.
 Iron
0.2 mg/l
0.3 mg/l
Higher levels produce a bad odor and taste.
 Lead
 ----
0.2 mg/l
Higher levels are toxic.
 Magnesium
14 mg/l
125 mg/l
Higher levels have a laxative effect. Levels greater than 50 mg/l may affect performance if the sulfate level is high.
 Sodium
32 mg/l
 ----
Levels above 50 mg/l may affect performance if the sulfate or chloride level is high.
 Sulfate
25 mg/l
1250 mg/l
Higher levels have laxative effect. Levels above 50 mg/l may affect performance if magnesium and chloride levels are high.
 Zinc
 ----
1.50 mg/l
Higher levels are toxic.
 SOURCE: Adapted from T. A. Carter and R. E. Sneed, Drinking Water Guidelines for Poultry, Poultry Science and Technology Guide No. 42, North Carolina State University
 

Pedoman Mutu Air Minum untuk Ternak


TABLE 1. DRINKING WATER QUALITY GUIDELINES




CONTAMINANT
OR CHARACTERISTIC
LEVEL CONSIDERED AVERAGE
MAXIMUM ACCEPTABLE LEVEL
REMARKS

Bacteria
Total Bacteria
0 / ml
100 / ml
0/ ml is desirable




Coliform Bacteria
0 / ml
50 / ml
0/ ml is desirable

Nitrogen Compounds
Nitrate
10 mg / l
25 mg / l
Levels from 3 to 20 mg / l may affect performance




Nitrate
0.4 mg / l
4 mg / l


Acidity and Hardness
pH
6.8 - 7.5
. . .
a pH of less than 6.0 is not desirable. Levels below 6.3 may degrade performance.




Total Hardness
60 - 180
. . .
Hardness levels less than 60 are unusually soft, those above 180, very hard.

Naturally Occurring Chemicals
Calcium
60 mg / l
. . .





Chloride
14 mg / l
250 mg / l
Levels as low as 14 mg / l may be detrimental if the sodium level is higher than 50 mg / l




Copper
0.002 mg / l
0.6 mg / l
Higher levels produce a bitter flavor.




Iron
0.2 mg / l
0.3 mg / l
Higher levels produce a bad odor and taste.




Lead
. . .
0.02 mg / l
Higher levels are toxic.




Magnesium
14 mg / l
125 mg / l
Higher levels have a laxative effect. Levels greater than 50 mg / l may affect performance if the sulfate level is high.




Sodium
32 mg / l
. . .
Levels above 50 mg / l may affect performance if the sulfate or chloride level is high.




Sulfate
125 mg / l
250 mg / l
Higher levels have a laxative effect. Levels above 50 mg / l may affect performance if magnesium and chloride level is high.




Zinc
. . .
1.50 mg / l
Higher levels are toxic.
Source: Schwartz, D. L., "Water Quality," VSE, 81c., Penn. State Univ. (mimeographed); and R. Waggoner, R. Good, and R. Good, "Water Quality and Poultry Performance," in Proceedings AVMA Annual Conference, July, 1984.

Sunday, September 2, 2012

TINGKAH LAKU REPRODUKSI DAN TINGKAH LAKU HARIAN RUSA TIMOR (Cervus timorensis)


  
Oleh : Sari Murti
Fakultas Peternakan,Universitas Bengkulu
Abstrak
Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk memberi informasi serta mencermati tingkah laku reproduksi dan tingkah laku harian rusa timor ( Cervus Timorensis ) dalam upaya pengembangan serta peningkatan produktivitas.. Tingkah laku reproduksi yang dimiliki rusa meliputi; sniffing, flehmen, kissing, kicking, nuding, mounthing serta coitus. Adapun tingkah laku harian  yang ditunjukan rusa timor meliputi, tingkah laku social dibuktikan dengan hidup berkelompok dengan menempati shelter (tempat berlindung) yang memiliki ketersediaan pakan dan minum, tingkah laku merumput (ingstive), tingkah laku istirahat, approach (saling mendekati), serta tingkah laku urinasi
Kata kunci : Tingkah laku reproduksi, Tingkah laku harian  dan Rusa timor

Sunday, August 26, 2012

Rusa Sambar, Rusa Asli Indonesia

Rusa ini warnanya kurang menarik, tapi badannya besar. Cocok untuk penghasilkan daging. Di Bengkulu, rusa sambar dipelihara di beberapa tempat seperti di rumah dinas gubernur, jurusan peternakan Unib dan di beberapa tempat. Beberapa penelitian telah dilakukan di Unib. Sayangnya terputus, sehingga belum sampai kepada upaya budidaya Rusa Sambar. Konon, gen Rusa sambar ini telah digunakan untuk mengembangkan rusa pedaging di Selandia Baru. Wah kalau benar, kita kecolongan dong! Indonesia memang selalu kecolongan, dikarenakan kurang memperhatikan flora dan faunanya yang sebenarnya amat kaya dan amat potensial untuk dikembangkan bagi kesejahteraan bangsa Indonesia.
Berikut informasi penangkaran dan budidaya rusa sambar di  UPTP  BPIB Api-Api. Silahkan dibaca!

Monday, August 13, 2012

PENGARUH BERBAGAI MACAM BAHAN PENGENCER SEMEN TERHADAP KUALITAS SEMEN


Oleh : Rina Yunita
Fakultas Pertanian Jurusan Peternakan Universitas Bengkulu

Abstrak
Salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas ternak adalah dengan memperkenalkan dan menerapkan teknologi reproduksi, misalnya inseminasi buatan (IB). Penerapan teknologi inseminasi buatan (IB) ini adalah untuk meningkatkan mutu genetik dan produksi ternak. IB atau lebih dikenal sebagai kawin suntik merupakan cara pemasukan spermatozoa ke dalam organ reproduksi betina dengan suatu alat tertentu dengan bantuan manusia , dan melalui proses sejak penampungan semen, penilaian, pengenceran, sampai penilaian hasil inseminasi buatan. Pengembangan IB dalam upaya pengembangan peternakan merupakan keuntungan peternak dalam menekan biaya produksi yang tinggi dan nilai ekonomi yang dibutuhkan. Keuntungan dari dikembangkannya IB yaitu mengurangi biaya pemeliharaan pejantan, dapat dilakukan pemilihan semen yang mempunyai mutu genetik yang tinggi, menekan penyebaran penyakit menular, dan mempercepat laju perbaikan genetik. Keberhasilan IB itu sendiri sangatlah ditentukan oleh beberapa faktor seperti kesuburan betina, inseminator, ketepatan waktu inseminasi dan yang terpenting adalah kualitas semen yang digunakan. Semen adalah sekresi kelamin jantan dan epididimis serta kelenjar-kelenjar kelamin pelengkap (kelenjar vesikularis) yang terdiri dari spermatozoa dan plasma semen yang secara normal di ejakulasi ke dalam saluran kelamin betina sewaktu kopulasi, tetapi dapat pula ditampung dengan berbagai cara untuk keperluan inseminasi buatan (Toelihere, 1985). Setelah penampungan, semen perlu diencerkan dengan bahan pengencer untuk diawetkan agar mempertahankan kualitas semen dalam penyimpanan. Prinsip pengenceran semen bertujuan untuk menambah volume dari setiap ejakulasi dan memberi zat-zat makanan yang dibutuhkan untuk mempertahankan daya tahan hidup dan fertilitas sperma. Beberapa bahan pengencer yang umum digunakan dalam pengenceran semen adalah kuning telur, susu, dan air kelapa.
Kata kunci : inseminasi buatan, pengencer semen, kuning telur, susu, air kelapa.

Friday, August 3, 2012

PENCEGAHAN PRODUKSI TELUR ASIN PALSU


Oleh: ANGGA PUTRA SINAGA
Abstrak
                     Tujuan pencegahan produksi telur asin palsu adalah :  Mendeskripsikan proses pembuatan telur asin palsu, Mendeskripsikan akibat dari mengkonsumsi telur asin palsu. dan Mendeskripsikan membedakan telur asin asli dengan yang palsu. Telur asin  merupakan makanan yang mendapat prioritas untuk dikembangkan. Telur asin menjadi konsumsi masyarakat luas, mulai dari kalangan atas, menengah, maupun menengah ke bawah dan juga oleh berbagai usia mulai balita, remaja, dewasa, hingga manula. Bahan utama telur asin yang kebanyakan beredar di pasaran adalah telur bebek. Kita juga menemui telur asin yang berbahan baku telur ayam, maupun yang lainnya. Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya murah.  Telur asin bermanfaat bagi tubuh. Tetapi, telur asin yang biasa kita beli sudah banyak dipalsukan.Telur asin yg semestinya dibuat dari telur bebek dipalsukan dengan menggunakan telur ayam. Cara pemalsuannya beragam. Mulai dari 3 hari bahkan ada yang satu hari, padahal sebetulnya telur asin yang asli baru bisa dijual dua minggu kemudian.
            Dalam kehidupan sehari – hari, telur asin baik untuk tubuh. Tetapi, telur asin yang palsu ini bukan berguna bagi tubuh melainkan dapat merusak sel saraf dalam tubuh. Pemalsuan telur asin palsu itu apabila dikonsumsi dalam waktu lama bisa menyebabkan penyakit Alzheimer. Alzheimer bukan penyakit menular, melainkan merupakan sejenis sindrom dengan apoptosis sel – sel  otak pada saat yang hampir bersamaan, sehingga otak tampak mengerut dan mengecil.
         

Monday, July 30, 2012

FLU BURUNG MASIH MENJADI “PENYERANG” UTAMA BAGI UNGGAS


OLEH : KARINA SEFTRIANI

ABSTRAK
Avian influenza adalah penyakit yang menyerang unggas dan dapat ditularkan kepada manusia, penyakit ini disebabkan oleh virus H5N1 tipe A yang mempunyai protein HA 5 dan NA 1. Penyakit ini lebih dikenal dengan sebutan ‘flu burung’. Virus ini dapat menyerang unggas kapan saja dan dimana saja, virus ini juga dapat menyerang manusia apabila terjadi kontak langsung antara manusia dan unggas yang terinfeksi.
Satu tetesan sekresi dari burung yang terinfeksi mengandung virus yang dapat membunuh 1 juta jenis unggas. Virus ini kemudian menempel pada berbagai media seperti sarana transprotasi ternak, peralatan kandang yang tercemar, pakan dan minuman unggas yang tercemar, pekerja di peternakan dan uggas-unggas liar. Baru-baru ini ada pernyataan yang mengatakan bahwa virus H5N1 ini dapat menyerang dari manusia yang suspect terifeksi ke manusia lainnya hanya dengan saling berbicara, bekerja seperti halnya saat manusia terserang flu biasa.
Untuk mengenali unggas yang terinfeksi flu burung, kita dapat mengenali dari gejala klinis yang ditemukan pada unggas tersebut. Ciri-ciri yang paling tampak adalah pada jengger dan pial yang berwarna kebiruan, serta unggas akan mati dalam waktu singkat dan berkelompok. Penanganan flu burung dapat dilakukan dengan pengobatan atau pemberian obat flu seperti Tamiflu atau jenis lainnya, tapi harus tetap dalam pengawasan dokter atau pihak rumah sakit yang ditunjuk oleh Dinas Kesehatan RI.
Kata kunci : peneyebab, cara penularan, pengobata flu burung

Tuesday, July 24, 2012

Pemanfaatan Pucuk Tebu Sebagai Bahan Pakan Suplementasi pada Ternak Ruminansia


Oleh :  Hermy Puspita Sari

ABSTRAK
Penggunaan limbah pertanian merupakan salah satu alternative untuk memenuhi kebutuhan hijauan makanan ternak . limbah perkebunan yaitu pucuk tebu memilki potensi sebagai alternative sumber serat pakan hijauan.Menurut ( Rantan,2009) bahwa pucuk tebu dapat menggantikan peran rumput gajah, tanpa memberikkan efek negative baik pada sapi potong ataupun sapi perah. pepito et al,..(1969) pada sapi sapi potong , kambing dan domba mengenai kecernaan ransum yang diberi perlakuan silase memiliki TDN sebesar 50% dan 9,2 MJ/kg energy tercerna sedangkan menggunakan pucuk segar yang supleman dengan konsentrat di berikan pada sapi jantan selama 115 hari , didapatkan pertambahan berat badan dengan kisaran 0,41-0,52 kg/ hari.
Kata kunci :pucuk tebu , pakan alternatif,  ternak

PENDAHULUAN
Masalah yang dihadapi khususnya dalam pengembangan ternak ruminansia, terutama di daerah- daerah padat penduduk clan ternak adalah semakin terbatasnya lahan yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman rumput. Salah satu limbah pertanian
yang umum digunakan  sebagai pakan ternak ruminansia masyarakat adalah pucuk tebu. Luas tanaman tebu tahun 2004 pada perkebunan besar 0.80% dari tahun sebelumnya , adalah 364,44 hektar menjadi 367,3 ribu hektar .begitu pula produksinya mengalami  peningkatan sebesar 11,85% .Begitu pula areal penanaman dan produksi gula tebu secara keseluruhan sejak tahun  2000-2009 ( sumber : direktorat jendral perkebunan , departemen pertanian 2009 ).
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...