Ada suatu kejadian ketika saya dulu jadi Asisten Reproduksi di Fakultas Peternakan UGM. Semua mahasiswa praktikum kualitas sperma termasuk mahasiswi tentunya. Ketika seorang mahasiswa mengambil sperma dengan cara menyedot dengan menggunakan pipet, maka sperma tersebut tersedot masuk dan tertelan. Kagetlah ia. Seorang teman komentar: "Wah nanti hamil". Mahasiswi tersebut kontan pucat pasi.Sang teman tertawa terkikik-kikik.
Saturday, June 11, 2011
Tuesday, June 7, 2011
Animal Housing Systems
Fact sheets on animal housing are listed below. Click on the fact sheet you wish to view. You will need Acrobat Reader for viewing. If you do not have Acrobat Reader, please click back to the Extension Page and download.
source: http://www.abe.psu.edu/extension/factsheets/g/

Dairy Facility Fact SheetsIf you find you cannot read or download the above fact sheets, please go back to the Extension page and request a hard copy be sent to you via surface mail.
Designing and Building Dairy Cattle Freestalls G-76Manure Management Fact Sheets
Freestall Barn Floorplans and Components G-84 (updated 03/10)
Developing an Elevated Milking Parlor by Steps G-88
Pre-owned Milking Parlors-Opportunity or Big Mistake? G-89
A Primer on Robotic Milking Systems G-105
The Fate of Nutrients and Pathogens During Anaerobic Digestion of Dairy Manure G-71Horse Facility Fact Sheets
Dairy Manure Handling G-72
Agricultural Waste Stacking and Handling Pad G-73
Anaerobic Digestion: Biogas Production and Odor Reduction from Manure G-77
Considering an Anaerobic Digester? Steps to Take and Contacts to Make G-86
Biological Manipulation of Manure: Getting What you Want from Animal Manure G-87
Horse Stall Design, UB033Animal Facility Ventilation Fact Sheets
Fire Safety in Horse Stables, UB034
Horse Stable Manure Management, UB035
Horse Stable Flooring Materials & Drainage, UB036
Fence Planning for Horses, UB037
Riding Arena Footing Materials, UB038
Horse Stable Ventilation, UB039
Riding Arena Footing Material Selection and Management Resources G-106
Natural Ventilation for Dairy Tie Stall Barns G-74Miscellaneous Animal Housing Fact Sheets
Natural Ventilation for Freestall Barns G-75
Tunnel Ventilation for Tie Stall Dairy Barns (revised 01/04) G-78
Principles of Measuring Air Quality: Evaluating Livestock Housing Environments G-80
Instruments for Measuring Air Quality: Evaluating Livestock Housing Environments G-81
Evaluating Mechanical Ventilation Systems: Evaluating Livestock Housing Environments G-82
Psychrometric Chart Use G-83
Selecting Rated Ventilation Fans G-85
Inlets for Mechanical Ventilation Systems in Animal Housing G-91
Self-Adjusting Baffle Inlet to Improve Air Distribution G-92
Ventilation Improvements for Veal Calf Housing Using 50-Calf Room Example G-93
Make Your Own Ceiling Inlet Air Speed Monitors G-94
Ventilating Greenhouse Barns-Guidelines for Livestock Production G-102
Selecting Tunnel Ventilation Fans G-103
Ammonia Monitoring in Animal Environments Using Simple Instruments G-110
Sheep Housing Design Criteria G-5
Odor Management in Agriculture and Food Processing: A Manual of Practice for Pennsylvania G-40
Odor Control for Animal Prodution Operations G-79
source: http://www.abe.psu.edu/extension/factsheets/g/
UPAYA PENGEMBANGAN DAN PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TERNAK KAMBING DENGAN PEMANFAATAN LIMBAH PERKEBUNAN KELAPA SAWIT
Oleh :Bobby Damsir
Abstrak
Industri pengolahan minyak kelapa sawit menghasilkan produk utama berupa minyak sawit dan produk ikutan seperti lumpur minyak sawit, bungkil inti sawit, dan serat sawit. Limbah dari perkebunan dan pabrik sawit mempunyai potensi yang patut diperhitungkan. Potensi teresbut ada pada Bungkil Inti Sawit, Lumpur sawit, dan pelepah sawit. Penggunaan limbah dan hasil ikutan perkebunan kelapa sawit berupa daun sawit, lumpur sawit dan bungkil inti sawit dapat digunakan sebagai pakan alternatif yang cukup potensial sampai pada tingkat 60-70 % untuk kambing melalui pengolahan dan penambahan bahan pelengkap. Fermentasi Lumpur minyak sawit dengan menggunakan ragi tempe sampai dengan empat hari mampu meningkatkan nilai total Digestable nutrient (TDN) pada kambing jantan
Kata kunci: Limbah sawit, kambing, pengembangan, produktivitas.
Abstrak
Industri pengolahan minyak kelapa sawit menghasilkan produk utama berupa minyak sawit dan produk ikutan seperti lumpur minyak sawit, bungkil inti sawit, dan serat sawit. Limbah dari perkebunan dan pabrik sawit mempunyai potensi yang patut diperhitungkan. Potensi teresbut ada pada Bungkil Inti Sawit, Lumpur sawit, dan pelepah sawit. Penggunaan limbah dan hasil ikutan perkebunan kelapa sawit berupa daun sawit, lumpur sawit dan bungkil inti sawit dapat digunakan sebagai pakan alternatif yang cukup potensial sampai pada tingkat 60-70 % untuk kambing melalui pengolahan dan penambahan bahan pelengkap. Fermentasi Lumpur minyak sawit dengan menggunakan ragi tempe sampai dengan empat hari mampu meningkatkan nilai total Digestable nutrient (TDN) pada kambing jantan
Kata kunci: Limbah sawit, kambing, pengembangan, produktivitas.
Monday, June 6, 2011
POTENSI PEMANFAATAN LUMPUR SAWIT SEBAGAI PAKAN TERNAK DI INDONESIA
Oleh: Boy Ilham Z. P.
ABSTRAK
Indonesia memilki sumber pakan yang sangat berpotensi digunakan sebagai bahan pakan ternak, baik ruminant maupun unggas. Sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk mengetahui seberapa baik kandungan nutrisi Lumpur sawit, teknologi apa saja yang digunakan untuk meningkatkan nilai nutrisinya, level penggunaan Lumpur sawit, pengaruhnya terhadap ternak. Kandungan Nutrisi Lumpur sawit yang tidak begitu tinggi dan kaya kadar serat menyebabkan perlunya teknologi dalam pengolahan Lumpur sawit, diantarnya melalui pembuatan pakan blok, ammoniasi dan fermentasi. Lumpur sawit dapat digunakan untuk pakan Unggas dan juga ruminansia dalam batas/level tertentu. pemberian Lumpur sawit fermentasi dapat digunakan sampai level 10% dalam ransum ayam broiler dan tidak menimbulkan pengaruh berbeda nyata terhadap konsumsi ransum, pertambahan bobot hidup, konversi ransum dan persentase karkas. Untuk ayam kampung juga dapat digunakan sampai level 10%, tetapi pada itik yang sedang tumbuh dapat digunakan sebanyak 15%. lumpur minyak sawit kering dapat digunakan sebagai sumber nutrisi untuk ternak Ruminansia karena mengandung protein kasar dan energi yang cukup tinggi dan dapat menggantikan dedak padi sampai tingkat 60% dalam ransum ternak dengan hijauan lapangan sebagai ransum basal. Lumpur minyak sawit kering dapat digunakan sebagai pengganti dedak padi dampai 100% pada sapi perah yang sedang tumbuh, dinilai dari responnya terhadap pertambahan bobot hidup.
Kata Kunci: Lumpur Minyak Sawit, Potensi , Pakan.
Saturday, June 4, 2011
PEMANFAAT LUMPUR SAWIT SEBAGAI PAKAN UNGGAS
Oleh : Supratman Waras S
ABSTRAK
Lumpur sawit (LS) merupakan salah satu produk samping pengolahan minyak kelapa sawit Dalam pemanfaatan bahan pakan yang belum umum digunakan, harus memperhatikan beberapa hal, seperti: jumlah ketersediaan, kandungan zat gizi, kemungkinan adanya faktor pembatas seperti zat racun atau zat-zat anti-nutrisi serta perlu tidaknya bahan tersebut diolah sebelum dapat digunkan sebagai pakan ternak, yaitu dengan tekhnologi fermentasi ini adalah membiakan mikroorganisme terpilih pada media lumpur sawitdengan kondisi tertentu sehingga mikroorganisme tersebut dapat berkembang dan mereubah komposisi kimia media tersebut menjadi bernilai gizi lebih baik. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui pemanfaatan produk lumpur sawit terfermentasi sebagai pakan unggas. pemberian produk fermentasi lumpur sawit dalam ransum itik sedang tumbuh hingga 15% tidak menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan maupun persentase karkas yang dihasilkan berbeda halnya dengan ayam kampung dan ayam broiler hanya dapat digunakan sebanyak 10 %, Pemberian produk fermentasi yang lebih banyak (15%) sudah menyebabkan penurunan pertumbuhan, diduga karena banyaknya asam nukleat (RNA) yang dikonsumsi yang berasal dari sel mikroorgasnisme di dalam produk terfermentasi.
Kata Kunci, Lumpur sawit, Fermentasi, pakan unggas
PEMANFAATAN LIMBAH INDUSTRI (ONGGOK) SEBAGAI PAKAN UNGGAS
Oleh : Supratman Waras S
ABSTRAK
Dalam rangka meningkatkan ketersediaan bahan pakan ternak yang berkualitas, serta mendukung peningkatan produksi peternakan untuk memenuhi kebutuhan akan protein hewani, serta meningkatkan ketahanan pangan nasional dengan meningkatnya populasi dari nutrisi yang lebih baik. Penggunaan onggok sebagai pakan ternak dihadapkan pada beberapa kendala, antara lain rendahnya nilai gizi (protein) dan masih tingginya kandungan sianida, untuk itu dicari teknik pengolahan yang dapat mening-katkan kandungan nutrisi dan menurunkan kandungan zat antinutrisi pada onggok. Melalui teknologi fermentasi suatu upaya dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas hasil ikutan agro-industri seperti onggok. Salah satu teknologi altematif untuk dapat memanfaatkan onggok sebagai bahan baku pakan ternak adalah dengan cara mengubahnya menjadi produk yang berkualitas, yaitu melalui proses fermentasi Setelah fermentasi kadar protein onggok meningkat dari sekitar 2,2 menjadi sekitar 18,6%. Produk yang dihasilkan diujicobakan pada berbagai jenis unggas. Penggunaan campuran onggok dan ampas tahu fermentasi 30 % (RD) memberikan produksi terbaik, berat telur tertinggi dan konversi ransum terendah Hasil ujicoba ,onggok terfermentasi sampai dengan 10% dapat digunakan dalam formulasi pakan ayam pedaging. Dan terhadap persentase bobot karkas, bobot hati dan rempela juga tidak ada perbedaan yang nyata. Namun, pemberian lebih tinggi dari 10%, perlu pengkajian lebih lanjut. Sebab pada penelitian sebelumnya pernah dilaporkan bahwa, penggunaan cassapro ubikayu, lebih dari 10% dapat menimbulkan dampak negatif, baik terhadap pertambahan bobot badan maupun konversi pakan.
Kata kunci : onggok, fermentasi, pakan unggas
ABSTRAK
Dalam rangka meningkatkan ketersediaan bahan pakan ternak yang berkualitas, serta mendukung peningkatan produksi peternakan untuk memenuhi kebutuhan akan protein hewani, serta meningkatkan ketahanan pangan nasional dengan meningkatnya populasi dari nutrisi yang lebih baik. Penggunaan onggok sebagai pakan ternak dihadapkan pada beberapa kendala, antara lain rendahnya nilai gizi (protein) dan masih tingginya kandungan sianida, untuk itu dicari teknik pengolahan yang dapat mening-katkan kandungan nutrisi dan menurunkan kandungan zat antinutrisi pada onggok. Melalui teknologi fermentasi suatu upaya dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas hasil ikutan agro-industri seperti onggok. Salah satu teknologi altematif untuk dapat memanfaatkan onggok sebagai bahan baku pakan ternak adalah dengan cara mengubahnya menjadi produk yang berkualitas, yaitu melalui proses fermentasi Setelah fermentasi kadar protein onggok meningkat dari sekitar 2,2 menjadi sekitar 18,6%. Produk yang dihasilkan diujicobakan pada berbagai jenis unggas. Penggunaan campuran onggok dan ampas tahu fermentasi 30 % (RD) memberikan produksi terbaik, berat telur tertinggi dan konversi ransum terendah Hasil ujicoba ,onggok terfermentasi sampai dengan 10% dapat digunakan dalam formulasi pakan ayam pedaging. Dan terhadap persentase bobot karkas, bobot hati dan rempela juga tidak ada perbedaan yang nyata. Namun, pemberian lebih tinggi dari 10%, perlu pengkajian lebih lanjut. Sebab pada penelitian sebelumnya pernah dilaporkan bahwa, penggunaan cassapro ubikayu, lebih dari 10% dapat menimbulkan dampak negatif, baik terhadap pertambahan bobot badan maupun konversi pakan.
Kata kunci : onggok, fermentasi, pakan unggas
Friday, June 3, 2011
SISTEM INTEGRASI TERNAK DENGAN TANAMAN PERKEBUNAN
ANDI ISHAK
1. Abstrak
Integrasi sapi dengan kelapa sawit merupakan suatu sistem usahatani tanaman – ternak yang potensial dikembangkan di Indonesia karena didukung oleh luas pertanaman kelapa sawit sekitar 7 juta hektar dan kesesuaian adaptasi ternak sapi yang baik. Kebutuhan daging sapi yang sampai saat ini belum swasembada dan sebagian masih diimpor dapat ditingkatkan populasi dan produktivitasnya melalui integrasi dengan perkebunan kelapa sawit. Integrasi ini juga dapat meningkatkan efisiensi usaha pada perkebunan kelapa sawit. Sinergi positif yang dapat dicapai dari integrasi sapi dengan kelapa sawit adalah dapat menjamin suplai pakan bagi ternak sapi, penghematan penggunaan pupuk anorganik bagi tanaman kelapa sawit dan penghematan tenaga kerja dalam pengangkutan TBS kelapa sawit dan tenaga pencari rumput untuk pakan sapi. Dengan adanya integrasi, permasalahan limbah ternak sapi dan limbah kegiatan agribisnis kelapa sawit bukan saja dapat dikurangi atau dihilangkan sama sekali, namun juga memberikan nilai tambah bagi seluruh pelaku usaha. Usahatani integrasi ternak sapi dengan kelapa sawit ke depan juga dapat menyehatkan lahan-lahan pertanian melalui pengembangan penggunaan pupuk organik dan dapat meningkatkan nilai tambah produk CPO sebagai produk organik yang ramah lingkungan.
Kata kunci: Integrasi, Sapi, Kelapa Sawit.
1. Abstrak
Integrasi sapi dengan kelapa sawit merupakan suatu sistem usahatani tanaman – ternak yang potensial dikembangkan di Indonesia karena didukung oleh luas pertanaman kelapa sawit sekitar 7 juta hektar dan kesesuaian adaptasi ternak sapi yang baik. Kebutuhan daging sapi yang sampai saat ini belum swasembada dan sebagian masih diimpor dapat ditingkatkan populasi dan produktivitasnya melalui integrasi dengan perkebunan kelapa sawit. Integrasi ini juga dapat meningkatkan efisiensi usaha pada perkebunan kelapa sawit. Sinergi positif yang dapat dicapai dari integrasi sapi dengan kelapa sawit adalah dapat menjamin suplai pakan bagi ternak sapi, penghematan penggunaan pupuk anorganik bagi tanaman kelapa sawit dan penghematan tenaga kerja dalam pengangkutan TBS kelapa sawit dan tenaga pencari rumput untuk pakan sapi. Dengan adanya integrasi, permasalahan limbah ternak sapi dan limbah kegiatan agribisnis kelapa sawit bukan saja dapat dikurangi atau dihilangkan sama sekali, namun juga memberikan nilai tambah bagi seluruh pelaku usaha. Usahatani integrasi ternak sapi dengan kelapa sawit ke depan juga dapat menyehatkan lahan-lahan pertanian melalui pengembangan penggunaan pupuk organik dan dapat meningkatkan nilai tambah produk CPO sebagai produk organik yang ramah lingkungan.
Kata kunci: Integrasi, Sapi, Kelapa Sawit.
Pemanfaatan Lumpur Sawit Fermentasi dengan Aspergillus niger dalam ransum ayam broiler
Oleh: Astria Palinka
ABSTRAK
Ayam broiler merupakan jenis ayam penghasil daging yang unggul karena selain pertumbuhannya cepat dengan masa pemeliharaan yang relatif singkat juga memiliki daging yang empuk dengan kandungan gizi yang tinggi. Dewasa ini permintaan akan daging meningkat karena urbanisasi, perkembangan nutrisi dan penghasilan yang tinggi. Bobot badan ayam broiler sangat tergantung dari bahan pakan yang dikonsumsinya, sehingga dibutuhkan pakan yang berkualitas. Harga pakan yang cukup tinggi membuat peternak kesulitan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini. Salah satu upaya yang dilakukan untuk menekan biaya ransum adalah dengan memanfaatkan sumber bahan pakan non kovensial seperti lumpur sawit. Namun karena nilai gizi lumpur sawit yang rendah maka dilakukan sentuhan tehnologi seperti fermentasi untuk meningkatkan nilai gizinya. Salah satu inokulum yang baik digunakan untuk fermentasi adalah kapang Aspergillus niger. Lumpur sawit fermentasi (LSF) dengan Aspergillus niger Mampu meningkatkan nilai protein kasar dan menurunkan kandungan serat kasar. selain itu penggunaan LSF dapat digunakan sampai taraf 10% tanpa memberikan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan performans ayam pedaging.
Kata Kunci : Ayam broiler, lumpur sawit, Aspergillus niger.
ABSTRAK
Ayam broiler merupakan jenis ayam penghasil daging yang unggul karena selain pertumbuhannya cepat dengan masa pemeliharaan yang relatif singkat juga memiliki daging yang empuk dengan kandungan gizi yang tinggi. Dewasa ini permintaan akan daging meningkat karena urbanisasi, perkembangan nutrisi dan penghasilan yang tinggi. Bobot badan ayam broiler sangat tergantung dari bahan pakan yang dikonsumsinya, sehingga dibutuhkan pakan yang berkualitas. Harga pakan yang cukup tinggi membuat peternak kesulitan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini. Salah satu upaya yang dilakukan untuk menekan biaya ransum adalah dengan memanfaatkan sumber bahan pakan non kovensial seperti lumpur sawit. Namun karena nilai gizi lumpur sawit yang rendah maka dilakukan sentuhan tehnologi seperti fermentasi untuk meningkatkan nilai gizinya. Salah satu inokulum yang baik digunakan untuk fermentasi adalah kapang Aspergillus niger. Lumpur sawit fermentasi (LSF) dengan Aspergillus niger Mampu meningkatkan nilai protein kasar dan menurunkan kandungan serat kasar. selain itu penggunaan LSF dapat digunakan sampai taraf 10% tanpa memberikan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan performans ayam pedaging.
Kata Kunci : Ayam broiler, lumpur sawit, Aspergillus niger.
Thursday, June 2, 2011
PEMANFAATAN AMPAS TAHU PADA UNGGAS
Oleh : Misnadi
Abstak
Ransum merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produksi. Biaya yang dikeluarkan untuk pemberian ransum adalah 70% dari total biaya produksi (Listiyowati dan Roospitasari, 1992) Usaha untuk menekan biaya makanan adalah mencari bahan makanan yang tidak bersaing dengan manusia, harganya murah, memiliki nilai gizi yang cukup tinggi, tersedia secara kontinyu, disukai ternak serta tidak membahayakan bagi ternak yang memakannya (Sulistiowati (1995) Ampas tahu adalah salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai bahan penyusun ransum Dalam pemanfaatan bahan pakan yang belum umum digunakan, harus memperhatikan beberapa hal, seperti: jumlah ketersediaan, kandungan zat gizi sehingga perlu diolah sebelum digunkan sebagai pakan ternak, yaitu dengan tekhnologi fermentasi. pemberian ransum yang mengandung tepung ampas tahu 30% dengan kandungan serat kasar ransum 87% masih menghasilkan pertambahan bobot badan yang tidak berbeda denganransum kontrol.
Kata kunci: Ampas Tahu, Pakan Unggas, Terfermentasi
Pengaruh Pemberian Ampas Teh (Camellia sinensis) Fermentasi dengan Aspergillus niger pada Ayam Broiler
Oleh : Wahyuti Dwi Ningsih
ABSTRAK
Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan ampas the fermentasi dengan Aspergillus niger dalam ransom terhadap pertambahan bobot hidup, efisiensi penggunaan protein serta persentase karkas pada ayam broiler. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan ternak percobaan sebanyak 100 ekor anak ayam umur satu hari dan dibagi menjadi lima perlakuan ransom dan empat ulangan. Kelima perlakuan ransom disusun berdasarkan tingkat penggunaan ampas teh produk fermentasi, yaitu : RO (0.0%), R1 (2,5%), R2 (5,0%), R3 (7,5%) dan R4 (10,0%). Hasil penelitian menunjukka R1 (2,5% ampas teh fermentasi) merupakan ransom yang memberikan pengaruh paling baik terhadap semua parameter yang diukur. Penggunaan tepung ampas teh produk fermentasi sampai taraf 7,5% dapat direspon secara positif oleh ayam broiler, sedangkan peggunaannya pada taraf 10,0% dapat menurunkan pertambhan bobot hidup (PBH), ttapi masih mempunyai nilai efisien protein dan persentase karkas yang setara dengan R0 (ransom control).
Kata Kunci : Ampas Teh fermentasi, PBH, Efisiensi protein, Karkas, Broiler
ABSTRAK
Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan ampas the fermentasi dengan Aspergillus niger dalam ransom terhadap pertambahan bobot hidup, efisiensi penggunaan protein serta persentase karkas pada ayam broiler. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan ternak percobaan sebanyak 100 ekor anak ayam umur satu hari dan dibagi menjadi lima perlakuan ransom dan empat ulangan. Kelima perlakuan ransom disusun berdasarkan tingkat penggunaan ampas teh produk fermentasi, yaitu : RO (0.0%), R1 (2,5%), R2 (5,0%), R3 (7,5%) dan R4 (10,0%). Hasil penelitian menunjukka R1 (2,5% ampas teh fermentasi) merupakan ransom yang memberikan pengaruh paling baik terhadap semua parameter yang diukur. Penggunaan tepung ampas teh produk fermentasi sampai taraf 7,5% dapat direspon secara positif oleh ayam broiler, sedangkan peggunaannya pada taraf 10,0% dapat menurunkan pertambhan bobot hidup (PBH), ttapi masih mempunyai nilai efisien protein dan persentase karkas yang setara dengan R0 (ransom control).
Kata Kunci : Ampas Teh fermentasi, PBH, Efisiensi protein, Karkas, Broiler
Wednesday, June 1, 2011
RESPON AYAM BROILER TERHADAP PEMBERIAN RANSUM YANG MENGANDUNG LUMPUR SAWIT
SYARLI RAMAYANI (EIC006026)
ABSTRAK
Sampai saat ini, Indonesia masih mengimpor bahan pakan seperti jagung dan bungkil kedelai untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Jumlah impor ini terus meningkat sesuai dengan peningkatan kebutuhan akan produk peternakan. Dilain pihak, Indonesia memiliki bahan pakan lokal yang belum lazim dimanfaatkan. Salah satu diantaranya adalah lumpur sawit yang merupakan limbah pengolahan minyak sawit. Pada tahun 2001, produksi lumpur sawit (kering) diperkirakan sebanyak 632.570 ton dan jumlah ini akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan produksi minyak sawit. Beberapa peneliti telah melaporkan bahwa lumpur sawit dapat digunakan sebagai bahan pakan untuk ternak sapi, domba, babi dan unggas.
Lumpur sawit mengandung serat kasar yang tinggi dan kecernaan gizi yang rendah sehingga penggunaannya untuk pakan unggas sangat terbatas. Proses fermentasi ternyata dapat meningkatkan kadar protein, asam amino dan energi termetabolis (TME) serta menurunkan kadar serat lumpur sawit. Pengujian biologis menunjukkan bahwa produk fermentasi lumpur sawit dapat digunakan hingga 10% di dalam ransum ayam broiler dan ayam kampung, tetapi di dalam ransum itik sedang tumbuh dapat digunakan sebanyak 15%.
Kata kunci : Broiler,fermentasi lumpur sawit.
ABSTRAK
Sampai saat ini, Indonesia masih mengimpor bahan pakan seperti jagung dan bungkil kedelai untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Jumlah impor ini terus meningkat sesuai dengan peningkatan kebutuhan akan produk peternakan. Dilain pihak, Indonesia memiliki bahan pakan lokal yang belum lazim dimanfaatkan. Salah satu diantaranya adalah lumpur sawit yang merupakan limbah pengolahan minyak sawit. Pada tahun 2001, produksi lumpur sawit (kering) diperkirakan sebanyak 632.570 ton dan jumlah ini akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan produksi minyak sawit. Beberapa peneliti telah melaporkan bahwa lumpur sawit dapat digunakan sebagai bahan pakan untuk ternak sapi, domba, babi dan unggas.
Lumpur sawit mengandung serat kasar yang tinggi dan kecernaan gizi yang rendah sehingga penggunaannya untuk pakan unggas sangat terbatas. Proses fermentasi ternyata dapat meningkatkan kadar protein, asam amino dan energi termetabolis (TME) serta menurunkan kadar serat lumpur sawit. Pengujian biologis menunjukkan bahwa produk fermentasi lumpur sawit dapat digunakan hingga 10% di dalam ransum ayam broiler dan ayam kampung, tetapi di dalam ransum itik sedang tumbuh dapat digunakan sebanyak 15%.
Kata kunci : Broiler,fermentasi lumpur sawit.
POTENSI LIMBAH BULU UNGGAS SEBAGAI PAKAN TERNAK
Oleh: Supratman Waras
Abstrak
Bulu ayam berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber protein pakan alternatif pengganti sumber protein konvensional seperti bungkil kedele dan tepung ikan. Bulu-bulu itu dapat pula dimanfaatkan untuk makanan ternak (ruminansia, non ruminansia dan unggas). Jumlah ayam yang dipotong terus meningkat dari tahun ke tahun sehingga bulu ayamyang dihasilkan juga meningkat dan sekaligus menimbulkan permasalahan apabila tidak dikelola dengan baik. metode pengolahan untuk meningkatkan nilai nutrisi bulu unggas yaitu, perlakuan fisik dengan pengaturan temperatur dan tekanan, secara kimiawi dengan penambahan asam dan basa (NaOH, HCL), secara enzimatis dan biologis dengan mikroorganisme dan kombinasi ketiga metode tersebut. Bulu ayam mengandung protein kasar yang cukup tinggi, yakni 80-91 % dari bahan kering (BK), Tingkat kecernaan bahan kering dan bahan organik bulu ayam secara in vitro masing-masing hanya 5,8 % dan 0,7 %. Uji biologis penggunaan tepung bulu ayam sebagai pengganti sumber protein pakan konvensional (bungkil kedelai) hingga taraf 40 % dari total protein ransum memberikan respons sebaik ransum control untuk domba dan perlakuan campuran bulu ayam, Ca-PUFA, Mg-PUFA (mineral makro organik) dan Zn, Cu, Se, dan Cr, lisinat (mineral mikro organik) dapat meningkatkan kecernaan bahan organik, energi, pertambahan bobotbadan, dan efisiensi ransum untuk kambig peranakan Etawah jantan. Bulu ayam yang diolah dengan NaOH dapat dipakai sampai level 15 % (75 % pengganti tepung ikan) dalam ransum broiler. Hal ini dilihat dari konsumsi ransum, PBB, dan konversi ransum yang sama dengan ransum tanpa bulu ayam.
Kata kunci: tepung bulu ayam, potensi, pakan ternak.
Abstrak
Bulu ayam berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber protein pakan alternatif pengganti sumber protein konvensional seperti bungkil kedele dan tepung ikan. Bulu-bulu itu dapat pula dimanfaatkan untuk makanan ternak (ruminansia, non ruminansia dan unggas). Jumlah ayam yang dipotong terus meningkat dari tahun ke tahun sehingga bulu ayamyang dihasilkan juga meningkat dan sekaligus menimbulkan permasalahan apabila tidak dikelola dengan baik. metode pengolahan untuk meningkatkan nilai nutrisi bulu unggas yaitu, perlakuan fisik dengan pengaturan temperatur dan tekanan, secara kimiawi dengan penambahan asam dan basa (NaOH, HCL), secara enzimatis dan biologis dengan mikroorganisme dan kombinasi ketiga metode tersebut. Bulu ayam mengandung protein kasar yang cukup tinggi, yakni 80-91 % dari bahan kering (BK), Tingkat kecernaan bahan kering dan bahan organik bulu ayam secara in vitro masing-masing hanya 5,8 % dan 0,7 %. Uji biologis penggunaan tepung bulu ayam sebagai pengganti sumber protein pakan konvensional (bungkil kedelai) hingga taraf 40 % dari total protein ransum memberikan respons sebaik ransum control untuk domba dan perlakuan campuran bulu ayam, Ca-PUFA, Mg-PUFA (mineral makro organik) dan Zn, Cu, Se, dan Cr, lisinat (mineral mikro organik) dapat meningkatkan kecernaan bahan organik, energi, pertambahan bobotbadan, dan efisiensi ransum untuk kambig peranakan Etawah jantan. Bulu ayam yang diolah dengan NaOH dapat dipakai sampai level 15 % (75 % pengganti tepung ikan) dalam ransum broiler. Hal ini dilihat dari konsumsi ransum, PBB, dan konversi ransum yang sama dengan ransum tanpa bulu ayam.
Kata kunci: tepung bulu ayam, potensi, pakan ternak.
Subscribe to:
Posts (Atom)