Thursday, April 7, 2011

Bioteknologi Meat Designer

Oleh:

Prof. Ir Urip Santoso, M.Sc., Ph.D.
Disampaikan pada Upacara Pengukuhan Guru Besar Universitas Bengkulu
Rabu, I I Mei 2005
Para hadirin yang terhormat, assalarnu’alaikum wr. wb. Pada kesempatan yang berbahagia ini perkenankanlah saya menyampaikan Pidato pengukuhan ‑ dengan judul”Bioteknologi Meat Designer”. Apa yang dimaksud dengan meat designer? Meat designer adalah daging yang mempunyai beberapa kriteria sebagai berikut: daging yang enak dan tidak amis, tinggi proteinnya dengan komposisi asarn amino yang seimbang, bebas residu obat dan mikrobia pathogen, seimbang imbangan asam lemak jenuh dan tidak jenuh, rendah kolesterol dan trigliserida (lemak). Daging dengan criteria tersebut merupakan daging idaman bagi konsumen terutama di Negara maju dan diperkotaan. Selain itu, industri peternakan dituntut untuk dapat menekan seminimal mungkin tingkat polusi baik polusi udara, tanah dan air. Mengapa mereka menginginkan meat designer?
Para hadirin terhon‑nat, mengkonsumsi lemak seperti trigliserida dan kolesterol dalarn. jumlah yang berlebihan dapat mengakibatkan berbagai penyakit seperti obesitas, atherosclerosis, jantung koroner, stroke, kanker dan bahkan kelainan paru‑paru. Dengan mengkonsurnsi daging dengan imbangan asam lemak jenuh dan asam. lemak tak jenuh yang baik dapat mencegah penyakit‑penyakit tersebut di atas serta dapat meningkatkan kecerdasan pada anak‑anak. Selain itu, kadar protein yang tinggi dengan komposisi asam amino yang seimbang dalarn daging sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan sel‑sel otak pada anak‑anak dan mencegah kerusakan sel‑sel otak serta mengganti sel‑sel tubuh yang telah mati. Sementara daging yang bebas residu obat dan mikrobia pathogen menjamin keamanan konsumen dari akibat negatif yang ditimbulkannya. Dan terakhir, daging yang enak dan tak amis dapat meningkatkan selera konsumen untuk mengkonsumsinya.
Para hadirin yang terhormat, lalu bagaimana cara memproduksi meat designer? Inilah serangkaian penelitian yang telah kami lakukan. Yang pertama adalah dengan memanfaatkan mikrobia efektif. Mikrobia efektif merupakan sekelompok mikrobia baik dari jenis bakteri, kapang, jamur d1l. yang berperan dalam. mengoptimalkan fungsi organ hewan dan manusia, sehingga akan diperoleh pertumbuhan dan. perkembangan tubuh yang optimal dan seimbang. Ada banyak mikrobia efektif serta berbeda­beda peranannya.
Para hadirin yang terhormat, beberapa mikrobia efektif yang sangat terkenal dan telah banyak digunakan baik sebagai feed additive pada. pakan ternak maupun produk fermentasi makanan manusia antara lain adalah Lactobacillus bulgaricus, Saccaromyces cereviceae, Rhyzopus oligosporus, Aspergllus niger, Bacillus subtilis, ragi roti d1l.
             Para hadirin. terhormat, mikrobia efektif ini jika dikonsumsi akan menekan pertumbuhan mikrobia pathogen dalam, saluran. pencernaan, sehingga keseimbangan mikroflora dalam. saluran pencernaan akan meMbaik. Dengan membaiknya. keseimbangan tersebut, maka proses pencern.aan dan penyerapan zat gizi akan optimal, sehingga produktivitas meningkat dan mutu daging akan lebih baik. Oleh karena mikrobia efektif merupakan mikrobia alami yang sudah terdapat dalam saluran pencernaan serta sangat berperan dalarn proses metabolisme, zat gizi, maka penggunaan mikrobia ini sebagai pengganti antibiotika akan dapat menghasilkan daging, telur dan susu yang bebas residu antiblotika dan obat‑obatan sintetik lainnya.

Menciptakan Broiler yang Seragam

Oleh: Urip Santoso

 Ketidakseragaman berat badan akan meningkatkan biaya produksi sehingga menurunkankan pendapatan peternak. Ada cara praktis untuk mendapatkan broiler yang seragam.

            Tujuan memelihara broiler adalah mendapatkan produktivitas yang tinggi serta menghasilkan berat badan yang dikehendaki pasar. Untuk mencapainya, seorang peternak harus berupaya agar broiler yang dipelihara sebagian besar mempunyai berat badan yang ideal pada umur pasar. Dengan demikian perlu diciptakan broiler yang mempunyai berat badan yang seragam.
            Sebagai contoh, kerugian yang akan dialami oleh peternak jika berat badan broiler sangat bervariasi antara lain adalah produksi broiler setiap kandangnya menjadi berkurang, sementara biaya produksinya tetap. Hal ini tentu saja akan memperkecil keuntungan yang diperolehnya. Bervariasinya berat badan ini akan menghasilkan bervariasinya berat karkas atau daging yang diproduksi. Selain itu, konsumen cukup selektif dalam memilih karkas broiler. Mereka menyukai  broiler/karkas broiler dengan berat tertentu. Oleh karena itu, bervariasinya berat badan akan berakibat tertundanya pemasaran yang berarti meningkatnya biaya produksi, atau lebih celakanya terpaksa dijual dengan murah.
            Dibawah ini diberikan petunjuk praktis cara-cara membuat broiler seragam.
Memelihara betina atau jantan saja
            Secara umum berat badan broiler jantan dan betina berbeda. Oleh karena itu, memelihara broiler secara terpisah sangat dianjurkan untuk menciptakan keseragaman. Namun, hal ini tampaknya sulit dilaksanakan mengingat industri bibit saat ini menjualnya secara mixed.
Membeli DOC yang seragam
            Jika memungkinkan, peternak hendaknya membeli DOC yang berat badannya seragam. Hal ini tentu saja memerlukan kerja sama dengan industri bibit, dimana industri bibit selalu menyediakan bibit yang relatif seragam.

Wednesday, April 6, 2011

The Effect of Fermented Product from Bacillus subtlis on Lipd Fraction Contents of Broiler Carcass


U. Santoso
Department of Animal Science, Faculty of Agriculture, Bengkulu University, Bengkulu Indonesia

Abtract: This study was conducted to evaluate the effect of fermented product from Bacillus subtilis (FPBS) on lipid fraction contents of broiler carcass. Forty female broilers were distributed to four treatment groups with 2 pens containing 5 broilers each. One group was not supplemented with FPBS as the control and the other three groups were supplemented with 0.5, 1 or 2% of FPBS, respectively. Diets contained 23.8% crude protein and 3.200 kcal/kg ME. Feed and water were given ad libitum. The results of this experiment showed that FPBS significantly reduced the contents of triglyceride, free cholesterol and phospholipids of carcass (P<0.01). In conclusion, FPBS had antitriglyceridemic and anticholesterolemic properties (J.Trop.Anim.Dev., 27 (3): 103-106).
Key words: fermented product, Bacillus subtilis, lipid fraction, carcass

Tuesday, April 5, 2011

The usefullness of Sauropus androgynus leaf extract as feed supplement to produce meat desgner


Urip Santoso, Yosi Fenita and Wiranda G. Piliang
Department of Animal Science, Faculty of Agriculture, Bengkulu University, Indonesia

Summary
            The present study was conducted  to evaluate effect of Sauropus androgunus leaf extract on performance, meat quality and fat accumulation in broilers. The experiment used broiler chickens strain Arbor Acres (Platinum). Experimental diets contained 20% protein and 3.200 kcal/kg and started at 21 days of age. !105 broiler chickens were distributed to seven treatment gropus as follows: 1) control, broilers were fed diet without Sauropus androgynus leaf extract (SAE); 2) broilers were fed diet plus 4.5 g SAE extracted by hot water/kg diet; 3) broilers were fed diet plus 9 g SAE extracted by hot water/kg diet; 4) broilers were fed diet plus 0.9 g SAE extracted by ethanol 95%/kg diet; 5) broilers were fed diet plus 1.8 g SAE extracted by ethanol 95%/kg diet; 6) broilers were fed diet plus 0.9 g SAE extracted by ethanol 70%/kg diet; 7) broilers were fed diet plus 1.8 g SAE extracted by ethanol 70%/kg diet. Experimental results showed that SAE supplementation significantly (P<0.05) increased body weight and body weight gain at 28, 35 and 42 days of age. The results also showed that SAE supplementation increased feed intake at 42 days of age without improvement in feed conversion ratio. The results showed that supplementation of SAE significantly increased carcass weight (P<0.05), meat color (P<0.05) and carcass color (P<0.01) and meat taste (P<0.05) but significantly reduced meat smell (P<0.01). This supplementation significantly rduced fat content of  abdomen (P<0.05). SAE significantly reduced the concentration of total lipid, total cholesterol, LDL-cholesterol, VLDL-cholesterol, LDL-cholesterol, glucose, atherogenic index but significantly increased HDL-cholesterol in serum of broilers. SAE  had no effect on the content of total lipid and cholesterol in thigh meat. SAE significantly increased amino acid content (P<0.05), changed the composition of amino acid, and increased the content of linoleic acid, linolenic acid and stearic acid in meat. In conclusion, supplementation of SAE increased feed intake, body weight, body weight gain but had no effect on feed conversion ratio. SAE reduced fat deposition in abdomen and leg. SAE may potential as drug of atherosclerosis, diabetes mellitus, hypercholesterolemia and hypertriglyceridemia.

Effect of Sauropus androgynus extract on egg quality and internal organ weight in layers

U. Santoso
Department of Animal Science, Faculty of Agriculture, Bengkulu University
Jl. Raya Kandang Limun, Bengkulu, Indonesia

ABSTRACT
The present research was conducted to evaluate the effect of Sauropus androgynus extract on egg quality and internal organ weight. Forty-eight layer aged 40 weeks (strain RIR) were distributed to 6 treatment groups as follows. One group was fed diet without Sauropus androgynus extract (SAE) (P0), and five groups were fed diet plus SAE-hot water at level of 9 g/kg (P1), diet plus SAE-ethanol at level of 0.9 g/kg (P2), diet plus SAE-ethanol at level of 1.8 g/kg (P3), diet plus SAE-methanol at level of 0.9 g/kg (P4), and diet plus SAE-methanol at level of 1.8 g/kg (P5). Experimental results showed that SAE supplementation had no effect on eggshell tickness, yolk index, yolk colour index, albumen weight, smell and taste of eggs, number of Salmonella sp., toxicity percentage, internal organ weights (P<0.05), but they had effect on (P<0,05) number of Staphylococcus sp., egg weight, HU, yolk weight, eggshell weight and length of intestine. In conclusion, SAE supplementation was not effective to improve egg quality and had no toxicity. SAE-ethanol supplementation at level of 0.9 or 1.8 g/kg, and SAE-methanol at level of 0.9 g/kg was effective to reduce the number of Staphylococcus sp. To improve egg quality by SAE, the future research should be designed to use the level of SAE higher than the level applied in this experiment (Jurnal Sain Peternakan Indonesia, 2 (1):…).
Key words: Sauropus androgynus extract, egg quality, internal organ

Effect of Protein and Saccharomyces cereviciae culture Levels on Carcass Quality and Fat Deposition in Broiler Chickens



Farahdiba, Urip Santoso* dan Kususiyah
Department of Animal Science, Faculty of Agriculture, Bengkulu University
Jalan Raya W. R. Supratman, Bengkulu 38371 A
e-mail: santosoburgo60@yahoo.com

ABSTRACT
The present study was conducted to evaluate effect of level of protein and Saccharomyces cereviciae culture on carcass quality and fat deposition. One hundred and thirty three broilers were distributed to 9 treatment groups of 3 replicates each. Factorial Completely Randomized Experimental Design was used. Two factors used n the present study were  three level of protein (15%, 18% and 21%) and three level of Saccharomyces cereviciae culture (0%, 0,5% and 1%). Expermental results showed that protein level of diet significantly affected  Fatty Liver Score (P<0,05), leg, breast and abdominal fat weights (P<0,01), but it had no effect (P>0,05) on carcass, wing and back weight. Level of  Saccharomyces cereviciae culture had no effect (P>0,05) on carcass, leg, wing weghts and Fatty Lver Score, but it significantly affected on breast, back and neck fat weight (P<0,05)  abdominal fat weight (P<0,01). No interaction was found. In conclusion, higher protein level improved carcass quality and reduced fat deposition. In addition, supplementation of 0.5% Saccharomyces cereviciae culture was effective to improve carcass quality and to reduce fat deposition. Supplementation of Saccharomyces cereviciae culture to low protein diet did not improve carcass quality and fat deposition.
Key wordsSaccharomyces cereviciae, protein, carcass quality, fat deposition

ABSTRAK
Peneltian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh aras protein dan ragi tape terhadap mutu karkas dan deposisi lemak pada broiler. Sebanyak 135 ekor broiler dikelompokkan menjadi 9 kelompok perlakuan  dengan 3 ulangan berupa kandang litter. Masing-masing ulangan berisi 5 ekor broiler. Racangan Acak Lengkap dengan 2 faktor digunakan dalam penelitian ini, yaitu  tiga aras protein (15%, 18% dan 21%) dan tiga aras ragi (0%, 0,5% dan 1%). Hasil penelitan menunjukkan bahwa  aras protein berpengaruh nyata terhadap  Fatty Liver Score (P<0,05), paha, dada dan lemak abdomen (P<0,01), tetapi berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap  karkas, sayap dan punggung. Hasil peneltian menunjukkan bahwa aras ragi tape berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap karkas, paha, sayap dan Fatty Lver Score, tetapi berpengaruh nyata terhadap  dada, punggung dan lemak leher (P<0,05)  dan sangat nyata terhadap  lemak abdominal (P<0,01). tdak terdapat interaksi antara aras protein dan aras ragi tape terhadap mutu karkas dan deposisi lemak. Dapat disimpulkan bahwa level protein yang lebih tinggi memperbaiki mutu karkas dan menurunkan deposisi lemak. Suplementasi ragi tape sebesar 0,5% efektif  dalam memperbaiki mutu karkas dan menurunkan deposisi lemak. Suplementasi ragi tape ke dalam pakan berprotein rendah tidak memperbaiki mutu karkas dan tidak menurunkan deposisi lemak pada broiler.
Kata kunci: Ragi tape, protein, mutu karkas, deposisi lemak

Monday, April 4, 2011

The effect of conjugated linoleic acid on growth and lipid metabolism in animals

by: Urip Santoso 

Department of Animal Science, Faculty of Agriculture, Bengkulu University, Bengkulu, Indonesia


INTRODUCTION
            Recently, there is a great demand to produce healthier animal products. Consumers tended to consume animal products with the characteristics of low fat, low contaminated pathogenic microorganisms, low drug residues. Pertaining to these demands, many investigations have been conducted with some success and other unsuccess.
            It was recently proven that conjugated linoleic acid (CLA), an uncomplete biohydrogenation of linoleic acid in rumen had beneficial effect on human health. Conjugated linoleic acid is collective terms describing a mixture of positional and geometric conjugated diene isomers of linoleic acid (Dunshea et al., 2002). CLA  is a general term for positional and geometrical isomers of linoleic acid, cis-9, cis-12 octadecadienoic acid, in which the deoble bonds are conjugated instead of being in the typical methylene interrupted configuration (Ham et al., 2002). Of the individual isomers of CLA, cis-9, trans-11-octadecadienoic acid (c9,t11-18:2) has been suggested to be the most important in terms of biological activity because it is the major isomer. CLA can be produced by alkaline isomerization which are not fully characterized (Nicholas et al., 1951; Sehat et al., 1998).
Limited number of bacterial spp were reported to be able to produce CLA from linoleic acid (C18:2) in vitro (Jiang et al., 1998). CLA has been shown to be produced from polyunsaturated fat by certain rumen microorganisms such as Butyrivibrio species (Forgety et al., 1988). More recently, it was reported that Propionibacterium freudenreichii commonly used as dairy starter culture, was able to produce CLA from free linoleic acid (Jiang et al., 1998). Pariza and Yang (2000) screened 45 cultures from whole intestinal tract of two conventional rats by measuring the conversion of linoleic acid to CLA with HPLC and GC, and developed the method of producing CLA with selected strain in Tris-HCl buffer. However, Ogawa et al. (2001) insisted after 4 days of reaction with washed cells of L. acidophilus transformed more than 95% of the added linoleic acid into CLA and cells themselves could be used as source of CLA. Ham et al. (2002) found CLA producing lactic acid bacteria idenfied to be Lactobacillus fermentum in feces of healthy babies. CLA producing lactic acid bacteria can be useful as a  starter culture for making milk products, a source of enzyme systems in the production of CLA, or a probiotic culture. In vitro studies with mixed culture or pure strains of ruminal bacteria have shown that most bacteria are capable of hydrogenating linoleic acid (C18:2) to trans-C18:1 and related isomers, but only a few have the ability to hydrogenate C18:2 completely to stearic acid (Miles et al., 1970; Harfoot et al., 1973). Oleic acid (C18:1) was also extensively hydrogenated to stearic acid (C18:0) by ruminal bacteria in vitro (Song and Choi, 1998, Wong et al., 1999).
            Ha et al. (1987) found that a lipid fraction isolated from cooked ground beef had anticarcinogenics.Other investigations (Banni and Martin, 1998; Belury, 1995; Ip et al., 1999) also found that lipid known as CLA had anticarcinogenic activity in a wide range of animal models.

Sunday, April 3, 2011

Dasasila Peternakan dalam Pembangunan Peternakan di Indonesia



i
Oleh: Prof. Ir. Urip Santoso, S.IKom., M.Sc., PhdQuantcast
Jurusaan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu
Jalan Raya WR Supratman, Bengkulu


Peternakan diakui sebagai salah satu komoditas pangan yang memberikan kontribusi yang cukup besar bagi devisa negara dan harus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. Pada kenyataannya, target kebutuhan protein hewani asal ternak sebesar 6 g/kapita/hari masih jauh dari terpenuhi. Ada sedikitnya sepuluh permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dalam mengembangkan peternakan yaitu pemerataan dan standar gizi nasional belum tercapai, peluang ekspor yang belum dimanfaatkan secara maksimal, sumber daya pakan yang minimal, belum adanya bibit unggul produk nasional, kualitas produk yang belum standar, efisiensi dan produktivitas yang rendah, sumber daya manusia yang belum dimanfaatkan secara optimal, belum adanya keterpaduan antara pelaku peternakan, komitmen yang rendah dan tingginya kontribusi peternakan pada pencemaran lingkungan.
Bahkan, akhir-akhir ini produk ternak  dari luar negeri semakin membanjiri pasar Indonesia dengan harga yang lebih murah dan mutu yang lebih baik. Hal ini sangat sulit untuk dihindari, karena adanya kecenderungan adanya perdagangan bebas dan Indonesia mau tidak mau harus menghadapinya. Hal ini tentu saja mengancam perkembangan peternakan di Indonesia.
Untuk mengantisipasi terpaan dari luar, peternakan di Indonesia harus mengubah strategi agar mampu bertahan dan bahkan mampu bersaing dengan produk luar baik dalam memperebutkan pasar nasional maupun pasar internasional.
A. Dasasila Peternakan
Dalam kaitannya dengan hal tersebut di atas, penulis mengemukakan selupuh dasar peternakan yang harus dikembangkan dan diterapkan di Indonesia. Sepuluh dasar tersebut yang penulis namakan Dasasila Peternakan telah diseminarkan di forum seminar nasional yang diselenggarakan pada tanggal 17 Mei 2004 di Bengkulu. Konsep  ini  meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Interaksi Pelaku Peternakan yang Harmonis.
2. Interaksi Pelaku Peternakan dengan Lingkungan yang Harmonis.
3. Pengembangan Pakan Berbasis Bahan Baku Lokal yang Kompetitif.
4. Penciptaan Bibit Unggul.
5. Perencanaan Usaha Terintegratif.
6. Penciptaan Tatalaksana Berbasis Peternakan Berkelanjutan.
7. Kesehatan yang Optimal bagi Ternak, Peternak dan Masyarakat.
8. Pengelolaan Keuangan, dan Kemudahan Berusaha serta Kemudahan Mendapatkan Modal Usaha.
9. Pemasaran Terpadu.
10. Kesejahteraan bagi Ternak, Peternak dan Masyarakat Luas.

Saturday, April 2, 2011

Beternak Ayam Kampung Petelur

Quantcast  Oleh Suharyanto
Pengantar
Ayam kampung boleh dikatakan sebagai ayam asli Indonesia yang sudah dipelihara sejak jaman dahulu. Ayam ini memiliki potensi yang sudah terbukti, mampu member kontribusi bagi pemenuhan kebutuhan keluarga, setidaknya sebagai penghasil daging dan telur. Kebanyakan ayam kampung bersifat dwifungsi, yaitu sebagai penghasil daging dan penghasil telur, dan biasanya tergantung bagaimana tujuan peternak memelihara ayam kampung. Ayam kampung merupakan hasil domestikasi ayam hutan merah selama berabad-abad. Ayam kampung yang ada di Indonesia morfologinya (bentuk-bentuk fisik) sangat beragam, sulit sekali dibedakan dan dikelompokkan ke dalam klasifikasi tertentu. Karena tidak memiliki cirri yang khusus dan tidak adanya ketentuan tujuan dan arah usaha peternakannya, ayam kampung dinamakan juga sebagai ayam buras (bukan ras), untuk membedakan dengan ayam yang sudah jelas tujuan dan arah usahanya, misalnya khusus petelur atau pedaging) yang disebut dengan ayam ras. Produktivitas ayam kampung yang dipelihara secara ala kadarnya memang masih rendah. Produksi telur per tahunnya sekitar 60 butir dan berat badan ayam jantan dewasa tidak melebihi dari 2 kg. Apa lagi ayam betina dan ayam-ayam yang sudah tua maka berat badannya jauh lebih rendah lagi. Namun demikian, bila ayam kampung dipelihara secara benar, tepat dan intensif maka produktivitasnya dapat ditingkatkan, khususnya bila diarahkan untuk petelur.
Menentukan Tujuan
Beternak ayam kampung perlu dipersiapkan beberapa hal, diantaranya adalah penetapan tujuan beternak, apakah sebagai penghasil daging atau penghasil telur. Penentuan tujuan ini penting karena akan menentukan cara memelihara dan manajemennya, termasuk dalam pemilihan induk untuk bibitnya. Selain menentukan tujuan komoditas yang akan diproduksi, penentuan maksud beternak juga penting. Setidaknya ada 3 maksud dan tujuan orang beternak ayam kampung, yaitu beternak hanya sekedar mengisi waktu luang dan beternak sebagai sumber penghasilahan keluarga. Bila beternak hanya untuk mengisi waktu luang, maka kepuasan yang dicapai adalah kepuasan mengisi waktu dengan kesibukan sehari-hari mengurus ternak. Kepuasan tersebut memberikan nilai tersendiri, terutama bagi yang sudah pension. Selain kepuasan tersebut, beternak juga menambah hasil berupa telur atau anak ayam atau daging walaupun ini bukanlah target utama dari beternak. Maksud dan tujuan yang kedua adalah beternak sebagai usaha penghasil pendapatan. Bila tujuan ini sudah ditetapkan maka usaha peternakan ayam kampung yang dijalankan akan menerapkan kaidah-kaidah usaha. Keuntungan berupa ekonomi merupakan target utama yang harus dihasilkan. Kepuasan peternak akan ditentukan dengan seberapa banyak nilai ekonomi yang dihasilkan dari peternakan yang dijalankan.

Wednesday, March 30, 2011

EFFECT OF SAUROPUS ANDROGYNUS LEAVES EXTRACT AND TURMERIC POWDER SUPPEMENTATION ON FAT DEPOSITION IN BROILER CHICKENS FED HIGH-FAT DIETS

U. Santoso1*, Kususiyah1, Y. Fenita1, S. Winarsih2, A. M. H. Putranto3 and E. Sulistyowati1
1Department of Animal Science, Faculty of Agriculture, Bengkulu University
Jalan Raya WR Supratman, Kandang Limun Bengkulu 38371A, Bengkulu, Indonesia
2Department of Agro-Eco-Technology, Faculty of Agriculture, Bengkulu University
Jalan Raya WR Supratman, Kandang Limun Bengkulu 38371A, Bengkulu, Indonesia
3Department of Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Science
Jalan Raya WR Supratman, Kandang Limun Bengkulu 38371A, Bengkulu, Indonesia

Abstract
This study investigated the effect of supplementation of Sauropus androgynus extract (SAE) and turmeric powder on fat deposition in broiler chickens fed high-fat diets. One hundred and fifty of 21 days-old broiler chickens were distributed to 10 treatment groups of 3 pens of 5 broiler chickens as replicates. Completely randomized experimental design was used in this experiment. Ten treatment groups were as follows: 1) broiler chickens were fed 6% palm oil containing diet without supplementation; 2) broiler chickens were fed 6% palm oil containing diet supplemented with 9 g SAE plus 0.5g turmeric powder; 3) broiler chickens were fed 6% palm oil containing diet supplemented with 18 g SAE plus 0.5 g turmeric powder; 4) broiler chickens were fed 6% palm oil containing diet supplemented with 9 g SAE plus 1 g turmeric powder; 5) broiler chickens were fed 6% palm oil containing diet supplemented with 18 g SAE plus 1 g turmeric powder; 6) broiler chickens were fed 6% tallow containing diet without supplementation; 7) broiler chickens were fed 6% tallow containing diet supplemented with 9 g SAE plus 0.5g turmeric powder; 8) broiler chickens were fed 6% tallow containing diet supplemented with 18 g SAE plus 0.5 g turmeric powder; 9) broiler chickens were fed 6% tallow containing diet supplemented with 9 g SAE plus 1 g turmeric powder; 10) broiler chickens were fed 6% tallow containing diet supplemented with 18 g SAE plus 1 g turmeric powder. Experimental results showed that supplementation of this feed supplement had no effect on abdominal fat (P>0.05) neck fat (P>0.05),   Fatty Liver Score (P>0.05) and meat fat (P>0.05), but it reduced meat cholesterol content. SAE plus turmeric powder inclusion affected lauric acid, myristic acid, palmitic acid, stearic acid and eicosapentaenoic acid (P<0.01), but it had no effect on oleic acid, linoleic acid, linolenic acid, docosapentaenoic acid and docosahexaenoic acid. In conclusion, supplementation of 18 g SAE plus 1 g turmeric powder to high fat diet reduced meat cholesterol content and changed fatty acid composition.
Key words: Sauropus androgynus: Turmeric: Fat deposition: Fatty acid

Monday, March 28, 2011

PENTINGNYA KOLESETEROL BAGI KESEHATAN KITA


Dikompilasi Oleh: Urip Santoso
Pengantar
            Allah memerintahkan kepada kita untuk makan makanan yang halal dan baik. Rasulullah memberi contoh agar kita makan dengan seimbang, atau tidak berlebih-lebihan. Allah juga menegaskan bahwa apa yang diciptakan itu pasti berguna dan tidak sia-sia. Kolesterol yang banyak ditakuti oleh manusia itu sesungguhnya sangat berguna bagi kesehatan manusia. Kolesterol akan mengganggu kesehatan jika dikonsumsi secara berlebih-lebihan.
I.                   Apa Itu Kolesterol
Kolesterol merupakan salah satu jenis lemak yang diproduksi oleh hati dan sangat diperlukan oleh tubuh.Tetapi kolesterol berlebih akan menimbulkan masalah, terutama pada
pembuluh darah jantung dan otak.Setiap orang memiliki kolesterol di dalam darahnya, di mana 50% diproduksi oleh tubuh sendiri dan 50% berasal dari makanan. Kolesterol yang diproduksi terdiri atas 2 jenis yaitu kolesterol HDL dan kolesterol LDL.
Dari hati, kolesterol diangkut oleh lipoprotein yang bernama LDL (Low Density Lipoprotein) untuk dibawa ke sel-sel tubuh yang memerlukan, termasuk ke sel otot jantung, otak dan lain-lain agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Kolesterol LDL diperlukan dalam pemeliharaan membran plasma. Ketika LDL melalui pembuluh arteri sebagian kolesterol ditimbun di dinding arteri. Kelebihan kolesterol yang tertimbun di dinding artikel diangkut kembali oleh lipoprotein yang disebut HDL (High Density Lipoprotein) untuk dibawa kembali ke hati yang selanjutnya akan diuraikan lalu dibuang ke dalam kandung empedu sebagai asam empedu.

Wednesday, March 23, 2011

Pengaruh Suplementasi Ekstrak Daun Katuk Plus Kunyit pada Pakan Berlemak Tinggi terhadap Kualitas Karkas Broiler

Urip Santoso*, Kususiyah, Yosi Fenita, Sri Winarsih dan Agus Martono Hadi Putranto

ABSTRACT

One hundred and fifty broiler chickens aged 21 days were distributed to 10 treatment groups as follows: 1) broiler chickens were fed 6% palm oil containing diet without supplementation; 2) broiler chicken were fed 6% palm oil containing diet supplemented with 9 g Sauropus androgynus extract (SAE) plus 0.5g turmeric powder; 3) broiler chicken were fed 6% palm oil containing diet supplemented with 18 g SAE plus 0.5 g turmeric powder; 4) broiler chicken were fed 6% palm oil containing diet supplemented with 9 g SAE plus 1 g turmeric powder; 5) broiler chicken were fed 6% palm oil containing diet supplemented with 18 g SAE plus 1 g turmeric powder; 6) broiler chickens were fed 6% tallow containing diet without supplementation; 7) broiler chicken were fed 6% tallow containing diet supplemented with 9 g SAE plus 0.5g turmeric powder; 8) broiler chicken were fed 6% tallow containing diet supplemented with 18 g SAE plus 0.5 g turmeric powder; 9) broiler chicken were fed 6% tallow containing diet supplemented with 9 g SAE plus 1 g turmeric powder; 10) broiler chicken were fed 6%  tallow containing diet supplemented with 18 g SAE plus 1 g turmeric powder. Experimental results showed that supplementation of katuk leaves extract plus turmeric powder had no effect on (P>0,05) carcass weight, cooking loss, meat smell and internal organ weight, but it significantly changed (P<0,05) taste, color and kalium of broiler meats. Inconclusion, supplementation of Sauropus androgynus extract and turmeric powder increased carcass quality.

Key words: Sauropus androgynus, turmeric, carcass quality, broiler

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...